Membongkar Misteri Media Massa


Oleh Muhammad Fathi
Ketua Umum HMI Komisariat Syariah Walisongo Semarang 2013-2014

Adanya klaim bahwa telah lahir zaman baru, yaitu zaman postmodern, merupakan suatu hal yang menarik untuk didiskusikan. Semua mengetahui bahwa era postmodern merupakan suatu keadaan di mana terdapat banyak perubahan di dalamnya. Salah satunya adalah peranan manusia yang secara asumsi telah banyak termudahkan. Era postmodern ditandai dengan munculnya berbagai perkembangan di segala bidang.

Dengan rasionalitasnya, manusia mencoba untuk memahami keberadaan dirinya secara nyata serta bagaimana dengan keberadaannya tersebut manusia mampu untuk menguasai keadaan. Yang akan menjadi titik tekan pada diskusi makalah ini adalah mengenai media, khususnya fungsi, peran dan kepentingannya sebagai salah satu bagian dari peradaban. Karena media merupakan salah satu sarana komunikasi antar manusia.

Berdiskusi mengenai media massa, tentu akan melibatkan juga keberadaan manusia yang tidak bisa terlepas dari komunikasi. Sebab komunikasilah yang turut menentukan bagaimana kesalingfahaman antar individu, individu dengan kelompok maupun antar kelompok. Karena peradaban tersusun dari beberapa hal tersebut di atas. Maka, berbicara tentang media massa berarti berbicara tentang komunikasi.

Perubahan Sosial

Komunikasi merupakan alat yang paling efektif dalam sebuah upaya untuk mensosialisasikan ide serta mentransformasikan gagasan. Peradaban manusia terbangun dari berbagai pilar-pilar pokok. Salah satu pilar pokok tersebut adalah idea atau gagasan yang teraktualisasikan secara nyata dalam ruang eksternal diri manusia. Relasi kuat antara media massa dengan peradaban dapat kita temukan dengan melakukan sebuah analisa sosial yang kritis. Sebab peradaban manusia tentu saja tidak terlepas dari konsep perubahan sosial pada wilayah horizontal maupun vertikalnya. Di sini media massa sebagai pilar pokok bangunan sebuah peradaban dalam artian sebagai pembentuk dan pelengkap serta melanjutkan peradaban yang sedang berkembang.

Perubahan sosial merupakan gejala yang melekat di setiap masyarakat. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat akan menimbulkan ketidaksesuaian antara unsure-unsur sosial yang ada di dalam masyarakat, sehingga menghasilkan pola kehidupan yang tidak sesuai fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan. Perubahan sosial sebagai sebuah perubahan struktur sosial, pola perilaku, dan interaksi sosial berbeda dengan perubahan kebudayaan. Jika perubahan kebudayan mengarah kepada unsur-unsur kebudayaan yang ada, maka perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur dan organisasi sosial yang ada.

Perubahan sosial pada akhirnya nanti akan menentukan sebuah bentuk peradaban. Perubahan sosial tidak dapat dilepaskan dari perubahan kebudayaan. Hal ini disebabkan kebudayaan merupakan hasil dari adanya masyarakat, sehingga tidak akan ada perubahan kebudayaan apabila tidak terdapat masyarakat yang mendukungnya. Perubahan sosial yaitu perubahan yang terjadi dalam masyarakat atau dalam hubungan interaksi, yang meliputi berbagai aspek kehidupan. Sebagai akibat adanya dinamika angota masyarakat, dan yang telah didukung oleh sebagian besar anggota masyarakat, merupakan tuntutan kehidupan masyarakat dalam mencari kestabilannya.

Melalui beberapa fase perubahan kebudayaan dan juga perubahan sosial, maka timbulah sebuah konsep mengenai peradaban. Peradaban merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menyebutkan bagian-bagian atau unsure-unsur kebudayaan yang dianggap halus, indah dan maju. Misalnya kepandaian manusia, perkembangan kesenian, kemajuan teknologi, serta beberapa perkembangan yang lain. Konsep peradaban tidak lain adalah perkembangan kebudayaan yang telah mencapai tingkat tertentu yang tercermin dalam tingkat intelektual, keindahan, teknologi, maupun spiritual yang terdapat dalam masyarakat.

Dengan demikian, peradaban adalah merupakan tahapan tertentu dari kebudayaan masyarakat tertentu pula, yang telah mencapai kemajuan tertentu yang dicirikan oleh ilmu pengetahuan, teknologi serta seni yang telah maju.

Kontak Universal

Salah satu pernyataan terpenting dalam filsafat komunikasi Jerman diungkapkan oleh Karl Jaspers, tidak lama setelah Heidegger mengutarakan gagasannya tentang menjadi manusia “Kebenaran filsafat memandang seluruh manusia sebagai sang lain yang mungkin, yang tetap merupakan tugas kita untuk berkomunikasi dengannya.” Jaspers menuliskan pernyatannya tersebut pada tahun 1932.

Berbeda dengan Heidegger, Jaspers adalah seorang yang konsisten dengan pendirian antifasisnya. Kendati berangkat dari gagasan Heidegger tentang bercakap dan mengada, ia mengemukakan visi yang luar biasa tentang kondisi manusia. Bagi Jaspers, merupakan kewajiban kita sebagai manusia untuk berkomunikasi dengan sesama manusia yang lain. Tidak ada jalan untuk dapat memenuhi kewajiban ini, dan tidak ada alasan pula untuk tidak memenuhinya.

Pemahaman terhadap diri, melewati frase pemahaman terhadap realitas secara luas, baik internal maupun eksternal. Untuk dapat memahami realitas secara luas, sementara manusia secara individu dengan segala keterbatasannya hanya mampu menjangkau yang terdapat di sekitarnya, maka dibutuhkan sesuatu yang dapat mengakomodir kebutuhan akan hal tersebut. Maka dalam hal ini media memiliki peranan sangat penting sebagai sarana dalam mentransformasikan dan mensosialisasikan pemaknaan akan smbol-simbol realitas. Interprestasi manusia terhadap realitas tidak dapat diketahui oleh manusia yang lain, dengan begitu seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya pemikiran manusia media mengambil posisi yang sangat penting dalam hal ini.

Melalui media, komunikasi sesama manusia, secara individu maupun kelompok dalam bentuk apapun akan terakomodir. Dalam situasi sekarang, persoalan mengenai ruang dan waktu yang selama ini menjadi kendala utama dalam komunikasi tidak lagi dijadikan sebagai sebuah persoalan yang penting. Media dengan segala bentuk dan sistemnya telah dapat menghapus semua persoalan tersebut dengan bantuan perkembangan teknologi yang ada. Dengan adanya kemajuan teknologi yang dimanfaatkan oleh media, kejadian yang sedang berlangsung di sebuah Negara yang sangat jauh dapat diketahui oleh seseorang yang sedang berada di Negara lain yang juga jauh jaraknya dalam waktu yang sama. Dengan demikian ruang dan waktu bukan lagi menjadi kendala dalam komunikasi setelah media dengan segala kecanggihannya mampu menerobos ke segala penjuru realitas yang kasat mata.

Keberadaan televisi, surat kabar, telefon genggam beserta seluruh jaringan  yang mengelolanya telah mampu menjadi fasilitator utama dalam terakomodirnya kebutuhan manusia terhadap komunikasi antar ruang dan antar waktu. Di sinilah letak relasi antara media massa dan kontak universal, media massa sebagai kontak universal.

Beberapa hal di atas adalah sedikit gambaran mengenai manfaat positive dari fungsi serta peran media massa sebagai salah satu pilar konstruksi peradaban. Namun apakah tidak terdapat hal negative yang disebabkan oleh keberhasilan media massa dalam menciptakan kebergantungan manusia terhadapnya? Tentu saja ada, dan persoalan tersebut akan kita bahas dalam diskusi selanjutnya dalam makalah ini. Berbagai kepentingan yang merupakan misteri dari media massa akan kita bongkar di sini.

Komunikasi dan Industri Pers

Dalam pengembangan atau penerapan teori komunikasi di Negara berkembang, diperoleh dua asumsi yang sangat berbeda. Asumsi ini lekat dengan penggunaan praktek media massa dalam kehidupan masyarakat, berikut pengaruh Negara dalam pemanfatan media massa bagi kepentingan kekuasaan secara optimal. Pemanfatan media komunikasi di banyak Negara berkembang memiliki dua bentuk praktek yang secara umum memiliki pengikut dan pengaruh tersendiri, yaitu The Process School dan The Semiotic School. Kedua bentuk itu merupakan dua paradigm besar yang berpengaruh terhadap praktek komunikasi di Indonesia dan banyak Negara berkembang yang lain.

Pemahaman tentang The Process School merupakan arus kuat. Dalam aliran ini komunikasi merupakan tradisi yang mengutamakan proses, yang diutamakan adalah transmisi peran. Asumsi-asumsi yang sporting, asumsi yang bisa dianggap benar dalam proses komunikasi menurut paham ini. Pertama, Sender dan receiver pada posisi yang setara. Kedua, saluran yang digunakan adalah netral. Tidak menghambat atau mengubah pesan. Pesan tidak mengalami perubahyan substansi. Ketiga, pesan yang dialirkan sesuatu yang secara budaya dipahamioleh sender maupun receiver. Sehingga telah terjadi proses culture care atau proses pencampuran berbagai pola kebudayan yang ada. Keempat, kalau ada kesalahan maka kesalahan itu disebut sebagai kesulitan yang terjadi pada kata atau kalimat.

Konsep ini sangat dominan di banyak Negara maju, Negara berkembang dan didukung oleh para akademisi perguruan tinggi besar, di Indonesia misalnya. Alasanya adalah bahwa konsep tersebut sangat dekat dengan pemahaman awal atau mudah difahami, sehingga sangat popular. Selain khasanah pembangunan yang terjadi sesuai dengan modernisas. Pada awal pembangunan, konsep itu dilaksanakan dengan gencar terutama di banyak Negara berkembang yang menerima bantuan pembangunan dari lembaga-lembaga internasional.

0 Response to "Membongkar Misteri Media Massa"

Post a Comment