Metode Tafsir Alquran

Di masa silam, perhatian ulama tafsir terhadap kajian metodologi dalam penafsiran Al-Quran boleh disebut sangat kurang. Mereka lebih cenderung membahas wacana tanpa berpikir atau menetapkan terlebih dahulu suatu teori atau kaidah-kaidah yang digunkan untuk sampai pada wacana tersebut.

Kemungkinan tidak munculnya karya-karya besar dalam bidang metodologi penafsiran itu ialah dikarenakan kondisi umat pada waktu itu lebih membutuhkan pemecahan berbagai masalah secara tepat dan praktis, tanpa membutuhkan teori-teori yang rumit dan kompleks. Oleh karena itu para ulama tafsir kurang termotivasi untuk mengajinya secara ilmiah.

Seiring dengan perkembangan zaman, permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam semakin kompleks, sementara kondisi umat makin memprihatinkan, terutama dikarenakan sebagian besar mereka lebih senang menjauhi ajaran agama ketimbang mendekatinya, dan yang lebih ironis lagi, mereka melegitimasi suatu penyimpangan dengan mengatasnamakan agama.

Kondisi ini semakin diperburuk lagi oleh semakin sedikitnya ulama yang mumpuni (ahli) dalam bidang penafsiran Al-Quran. Padahal kondisi umat sekarang sangat membutuhkan kehadiran mereka. Sebab untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang timbul satu-satunya jalan adalah kembali kepada Al-Quran, sedangkan yang dapat membuka jalan untuk menuju ke penafsiran adalah para mufasir tersebut.

Al-Quran ibarat laksana samudera yang keajaiban dan keunikannya tidak akan pernah sirna ditelan masa, sehingga lahirlah bermacam-macam tafsir dengan metode yang beraneka ragam pula. Kitab-kitab tafsir yang memenuhi perpustakaan menjadi bukti nyata yang menunjukan betapa tingginya semangat dan besarnya perhatian para ulama untuk menggali dan memahami makna-makna Al-Quran tersebut.

Metode dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah thariqah atau manhaj adalah cara yang teratur dan terpikir baik- baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya), cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai sesuatu yang ditentukan. Secara umum, metode penafsiran Al-Quran dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu metode klasik dan metode modern atau kontemporer.

Metode tafsir klasik adalah sebagai berikut:

Metode Tafsir bil Ma’tsur / bil Riwayah

Metode Tafsir bil Ma’tsur atau bil Riwayah adalah tafsir yang menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, baik dengan Al-Quran itu sendiri, dengan hadits-hadits Nabi, dengan riwayat sahabat.  Contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ini antara lain, tafsir karya Imam Jarir Thabari, tafsirnya Imam Ibnu Katsir.

Metode Tafsir bil Ra’yi / bil Dirayah

Metode Tafsir bil Ra’yi atau bil Dirayah adalah tafsir ayat-ayat Al-Quran yang didasarkan pada ijtihad mufassirnya dan menjadikan akal fikiran sebagai pendekatan utamanya.  Tafsir dengan metode bil Ra’yi juga bisa dikatakan sebagai tafsir bil ijtihad.  Contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah tafsir karya Imam Fakhrur Razi (mafatihul gaib), tafsir karya Imam Baidhawi (tafsir Anwar At-Tanzil wa Asrar At-Ta’wil).

Metode Tafsir bil Isyarah

Metode Tafsir bil Isyarah adalah menakwilkan Al-Quran berdasarkan isyarat-isyarat yang tersirat yang tampak oleh ahli tasawuf, ahli hakikat, dan ahli musyahadah setelah melakukan riyadhah ruhaniyah. Contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah tafsir karya Imam Ibnu Arabi.

Adapun metode penafsiran kontemporer diklasifikasikan sebagai berikut:

Metode tafsir Tahlili / analitis

Metode tafsir tahlili adalah suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Quran dari seluruh aspeknya, yakni arti kosa kata, arti global ayat,munasabah ayat, asbabun nuzul, dalil-dalil yang berasal dari Rasulullah, sahabat, dan tabiin. Seorang penafsir yang menggunakan metode ini kadang-kadang juga memasukkan pendapat-pendapatnya sendiri sesuai dengan latar belakang pendidikannya, kondisi, dan tempat dimana ia berada, sehingga tafsir yang menggunakan metode ini mempunyai berbagai macam corak diantaranya tafsir fiqhi,  falsafi, ilmi, adab ijtima’i.

Metode tafsir ijmali / global

Metode tafsir ijmali adalah suatu metode tafsir yang menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan cara mengemukakan makna global. Di dalam sistematika uraiannya, penafsir akan membahas ayat demi ayat sesuai dengan susunan yang ada dalam mushaf, kemudian mengemukakan makna global yang dimaksud oleh ayat. Makna yang diungkapkan biasanya diletakkan di di dalam rangkaian ayat-ayat yang diakui oleh jumhur ulama, dan mudah dipahami oleh semua orang.

Metode tafsir muqarin / perbandingan

Metode tafsir muqarin adalah suatu metode yang mengemukakan penafsiran-penafsiran ayat-ayat Al-Quran yang ditulis oleh sejumlah para mufassir. Disini seorang mufassir menghimpun sejumlah ayat-ayat Al-Quran, kemudian ia mengkaji dan meneliti penafsiran sejumlah mufassir mengenai ayat tersebut melalui kitab tafsir mereka, apakah mereka itu penafsir dari generasi salaf maupun khalaf, tafsir bil- ma’tsur maupun bil-ra’yi. Metode tafsir muqarin juga biasa disebut tafsir muqaran.

Metode Maudhu'i / Tematik

Metode tafsir maudhu'i adalah tafsir yang berusaha mencari jawaban Al-Quran tentang suatu masalah dengan jalan menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengannya, lalu menganalisisnya lewat ilmu-ilmu bantu yang relevan dengan masalah yang dibahas, utuk kemudian melahirkan konsep yang utuh dari Al-Quran tentang masalah tersebut.

Menurut Prof. Dr. Umar Shihab, Metode tafsir maudhui adalah sebuah metode tafsir yang mencoba menelaah noktah-noktah Al-Quran berdasarkan tema per tema, agar ditemukan titik konvergensi antara satu ayat dengan ayat lainnya secara logis, agar bisa ditemukan kuantum epistimologis yang ditorehkannya secara relevan.

Metode Maudhu'i, walaupun benihnya telah dikenal sejak masa Rasul, namun ia baru berkembang jauh sesudah masa beliau. Metode tahlili lahir jauh sebelum metode maudhu'i.

Ditulis M Syarifuddin

Referensi:

Drs. Ahmad Musthofa Hadna, Problematika Menafsirkan Al-Quran, Dina Utama, Semarang, cet. I, 1993, hal.32

Prof. Dr. Nashruddin Baidan,Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Pustaka Pelajar,Yogyakarta, cet. II, 2011, hal.37

Dr. Muhaimin, M.Ag, Metodologi Ilmu Tafsir dan Aplikasi Model Penafsiran, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet. I, 2007, hal. 67

Dr. Husni Rahiem, Orientasi Pengembangan Ilmu Tafsir, Tim Peningkatan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/ IAIN, Jakarta, 1990, hal.5

Muhammad Zarqaniy, Manahil Al-Irfan, Juz II, Dar Fikr, Beirut, hal.5

Kamil Musa dan Ali Dahruj, Kaifa NafhamAl-Quran Dirasah fi Al-Madzahib At-Tafsiriyyah wa At-Tijaahatiha, Dar Al-Mahrusah, Beirut, t.th., hal.211

Dr.Abdul Hayy Al-Farmawi, Metode Tafsir Maudhui Suatu Pengantar, Pent. Suryan A. Jamrah, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet. II, 1996, hal.12

0 Response to "Metode Tafsir Alquran"

Post a Comment