Pandangan Syiah Terhadap Al Quran

Tafsir sebagai usaha memahami dan menerangkan maksud dan kandungan Al-Quran telah mengalami perkembangan yang cukup bervariasi. Sebagai hasil karya manusia, terjadinya keanekaragaman dalam corak penafsiran adalah hal yang tidak bisa dihindarkan. Berbagai faktor dapat menimbulkan keragaman itu, diantaranya perbedaan kecenderungan, interes dan motivasi penafsir, perbedaan misi yang diemban, perbedaan ragam ilmu yang dikuasai, perbedaan masa dan lingkungan yang mengitari, perbedaan situasi dan kondisi yang dihadapi dan lain sebagainya. Semua ini menimbulkan berbagai macam corak penafsiran yang kemudian berkembang menjadi aliran tafsir yang bermacam-macam lengkap dengan metodenya sendiri.

Madzhab Syiah meragukan tentang keorisinalitas dan keotentikan teks resmi Al-Quran yag sering baca sampai saat ini, yang dihimpun dan ditulis atas perintah khalifah Utsman bin Affan. Bahkan sikap mereka yang lebih ekstrem adalah menyatakan bahwa Al-Quran yang sering kita baca sehari-hari tidak Ma’tsur untuk dijadikan sebagai sumber agama karena masih diragukan kebenaran dan keasliannya.

Pengikut Syiah meragukan seluruh isi Mushaf Utsmani, sejak kemunculannya, terkait dengan kebenarannya. Mereka meyakini bahwa Mushaf Utsmani yang dinisbatkan kepada Al-Quran yang benar, yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw mengandung banyak tambahan dan perubahan yang signifikan, begitu juga di dalamnya juga ada pengurangan-pengurangan dengan cara memotong makna-makna penting dari Al-Quran yang shahih dengan menjauhkan dan membuang makna.

Madzhab Syiah secara umum menyatakan bahwa Al-Quran yang diturunkan oleh Allah SWT itu lebih banyak dan lebih panjang daripada Al-Quran yang beredar dikalangan kaum muslimin, dan lebih banyak dari Al-Quran mereka.  Dalam keyakinan Syiah, orang-orang yang ditugaskan oleh Utsman untuk menulis Al-Quran mempunyai niat buruk, dengan menganggap bahwa ayat-ayat yang mengandung terhadap pemujian Ali dihapus.  Mereka juga menyatakan bahwa mushaf Ali yang merupakan mushaf Al-Quran yang lebih dulu dihimpun telah ditulis atas dasar turunnya Al-Quran, artinya menurut tertib historis. Mereka menyatakan bahwa sahabat Ali telah menyusun Al-Quran (secara berurutan) menjadi 7 himpunan. Induk dari himpunan ini adalah; Surat Al-Baqarah, Surat Ali Imran, Surat Al-Nisa’, Surat Al-Maidah, Surat Al-An’am, Surat Al-A’raf, dan Surat Al-Anfal. Setelah induk-induk pembuka surat dari tiap-tiap himpunan ini, lalu dihadirkan surat-surat lain secara berurutan yang berbeda dengan susunan surat pada Mushaf Utsmani.

An-Nuri seorang tokoh pemuka kaum rafidhah menyatakan bahwa Al-Quran telah berubah dari aslinya, tidak lagi otentik. Ini terjadi karena ulah Abu Bakar dan Umar. Menurut An-Nuri, Al-Quran yang otentik adalah Al-Quran yang dikumpulkan dan dicatat oleh Fatimah putri Rasulullah. Tebalnya tiga kalinya Al-Quran yang ada di zaman sekarang.

Tafsir Quran Syiah

Pada kesempatan kali ini, kami akan membatasi pembicaraan pada cabang Syiah yang terpenting saja, karena sesungguhnya sebagian besar kelompok-kelompok Syiah dengan berbagai macam akidahnya telah tidak ada lagi dan kita pun tidak tidak menemui pengarang-pengarang tafsir mereka. Hanya dua kelompok saja yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini, yakni Syiah Zaidiyah dan Syiah Imamiah (Syiah Itsna Asyariyah dan Syiah Ismailiyah).

Kedua kelompok Syiah diatas masih memiliki pengikut dan pendukung sampai saat ini. Kaum Syiah Itsna Asyariyah sekalipun menyeleweng, namun memiliki banyak tokoh-tokoh pengarang tafsir yang kitab-kitabnya memenuhi perpustakaan Islam. Begitu juga dengan Syiah Zaidiyah, mereka juga memiliki tokoh-tokoh tafsir yang kitab-kitabnya telah diakui oleh Ahlu Sunnah, seperti kitab tafsir karya Imam Syaukani yaitu Fathul Qadir.

Metode penafsiran yang dilakukan oleh Syiah Itsna Asyariyah adalah selalu berupaya sekuat tenaga untuk menyesuaikan ayat-ayat Allah dengan prinsip-prinsip mereka. Umpamanya saja tentang masalah imamah, mereka tidak hanya mencukupkan diri dengan perkataan yang meyakinkan serta nash-nash dari Rasulullah saw mengenai keimaman Ali dan imam-imam selanjutnya, tetapi mereka juga berusaha menundukkan ayat-ayat Allah SWT kepada pendapat tentang wajibnya keimaman Ali setelah Rasulullah secara langsung tanpa terputus.

Sedangkan pandangan mereka mengenai pengertian tafsir bil-Ma’tsur adalah keterangan-keterangan yang terdapat dalam Al-Quran itu sendiri, mengenai ayat-ayatnya, apa-apa yang dikutip dari Rasulullah saw, serta apa-apa yang dikutip dari imam-imam dua belas. Menurut mereka, ucapan-ucapan para imam yang makshum termasuk dalam kategori sunnah. Ucapan-ucapan para imam dianggap sebagai hujjah dan tak ubahnya seperti perkataan Nabi, karena ia berbicara dengan bimbingan dari Rasulullah sebagaimana Nabi berbicara dan dibimbing Allah.

Adapun metode penafsiran yang digunakan oleh Syiah Ismailiyah di dalam menafsirkan Al-Quran adalah dengan menyatakan bahwa: "Al-Quran itu mempunyai dua makna, yaitu makna lahir dan makna batin. Sedangkan yang dikehendaki adalah makna batinnya, karena yang lahir itu sudah cukup dimaklumi dari ketentuan bahasa. Adapun nisbat antara yang batin dan yang lahir itu adalah seperti isi dengan kulitnya. Orang yang berpegang pada makna lahirnya akan mendapatkan siksaan oleh hal-hal yang menyulitkan dalam kandungan kitab suci. Sedangkan kalau mengambil pada ketentuan batinnya akan mengarah kepada sikap meninggalkan perbuatan amal lahirnya”.  Dalam hal ini mereka berpegang pada firman Allah dalam Surat Al-Hadid ayat 13: "Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan Berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)". lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa."

Jika dibandingkan antara Syiah Zaidiyah dengan Syiah lainnya, maka kita akan mengetahui bahwa Zaidiyah telah menempuh jalan yang moderat yang lebih dekat dengan paham Ahlu Sunnah. Hal ini dikarenakan kaum Zaidiyah bersetuju sepenuhnya dengan keyakinan jumhur kaum Muslimin, bahwa Al-Quran adalah kitabullah yang tidak dinodai oleh kebathilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, diturunkan dari hadirat yang Maha Bijaksana dan Terpuji. Diantara tafsir dari Syiah Zaidiyah yang terkenal adalah kitab tafsir Fathul Qadir karya Imam Syaukani.

Mengutip dari pernyataan M. Quraish Shihab yang menyatakan bahwa ketika kita mempelajari pemikiran seseorang atau suatu kelompok, maka tidak jarang ditemukan perkembangan atau perubahan. Hal ini misalnya dapat dilihat pada pendapat-pendapat Imam Syafi’i ketika di Irak dan Mesir yang dikenal dengan istilah Qaul Qadim dan Qaul Jadid. Demikian juga dengan Syiah. Kelompok Syiah juga mengalami perkembangan dalam pemikiran mereka. Hal ini terlihat dari pandangan-pandangan lama yang ditulis oleh ulama’ Syi’ah masa lalu dan masa kini. Masa kini cukup banyak ulama' dan cendekiawan Syiah yang mengemukakan pendapat- pendapat yang sedikit banyak berbeda dengan pendapat para pendahulu mereka. Hal inilah yang mendasari penulis untuk meneliti tafsir al-Kasyif dikarenakan kondisi dan tempat dimana seorang penafsir hidup itu akan mempengaruhi penafsiran seorang penafsir.

Pandangan Syiah Terhadap Al Quran ditulis M Syarifuddin

0 Response to "Pandangan Syiah Terhadap Al Quran"

Post a Comment