Pembukuan Hadis Pertama Kali

Dalam sejarah panjang pembukuan hadis pertama kali, sudah bisa dipahami bersama bahwa abad pertama hijrah dimulai dari zaman Rasul, masa Khulafaur Roshidin, dan sebagin besar zaman Muawiyah, yaitu hingga akhir abad pertama hijrah hadis-hadis itu berpindah dari mulut ke mulut, masing-masig perawi meriwayatkan berdasarkan kekuatan hafalannya karena hafalan mereka terkenal kuat. Dengan alasan ini, hadis pada masa-masa ini belum dibukukan karena mengandalkan kekuatan hafalan hadis.

Ketika kekhalifahan dipegang oleh Umar bin Abdul Aziz yang dinobatkan pada tahun 99 Hijriah yang dikenal adil dan wara’, maka tergerak hatinya untuk membukukan hadis. Umar bin Abdul Aziz sadar betul bahwa para perawi yang membendaharakan hadis dalam hafalan semakin lama kian banyak yang meninggal, sehingga beliau khawatir apabila tidak segera dibukukan dan dikumpulkan dalam buku-buku dari para perawinya, mungkin hadis-hadis itu akan hilang. Hilangnya hadis dari para penghafal hadis sangat niscaya.

Munculnya hadis-hadis palsu merupakan salah satu alasan kuat untuk mengadakan kodifikasi hadis pertama kali. Hal ini dapat dilihat dari ungkapan al-Zuhri: “Kalau tidak ada hadis yang datang dari arah timur yang asing bagi saya, maka saya tidak menulis hadis dan tidak pula mengizinkan orang lain menulisnya."

Selain itu, semakin luasnya kekuasaan Islam, banyak ulama hadis menyebar dan menyiarkan hadis di daerah yang dikunjunginya, dari penyebaran dan kekuatan hafalan ulama masing-masing yang berbeda-beda, tidak menutup kemungkinan hadis yang tersiar di daerah tertentu tidak tersiar di daerah lain. Ketidakmerataan dalam penyebaran hadis ini menjadi alasan kuat untuk melakukan kodifikasi hadis pada pertama kali, seperti yang dikemukakan oleh jamaluddin al-Qasimi.

Untuk mewujudkan maksut mulia itu, pada tahun 100 Hijriah, khalifah meminta kepada gubernur Madinah, Abu bakar ibn Muhammad ibn Amr ibn Hazmin (120 H) yang menjadi guru Ma’mar, Al-Laits, Al-Auza’y, Malik, Ibn Ishaq dan Ibnu Abi Dzi’bin supaya membukukan hadis Rasulullah yang terdapat pada penghafal wanita yang terkenal, yaitu Amrah binti Abd ar-Rahman ibn Sa’ad ibn Zurarah ibn Ades seorang ahli fiqh murid Aisyah (106 H.=724M) dan hadis-hadis yang ada pada Al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr ash-Shiddiq (107 H.=725M) seorang pemuka tabi’in dan salah satu fuqoha tujuh madinah.

Umar bin abd Aziz menulis surat kepada Abu Bakar ibn Hasm yang secara tertulis sebagai berikut:

انظر ما كان من حديث رسول الله فاكتبه فانى خفت دروس العلم وذهاب العلماء ولاتقبل الا حديث الرسول ولتفشوا العلم ولتجلسوا حتى يعلم من لايعلم فان العلم لايهلك حتى يكون سترا

Artinya: "Lihat dan periksalah apa yang dapat diperoleh dari hadis Rasul, lalu tulislah karena aku takut akan lenyap ilmu disebabkan meninggalnya ulama dan jangan Anda terima selain dari hadis rasul dan hendaklah Anda tebarkan ilmu dan mengadakan majelis-majelis ilmu, supaya orang yang tidak mengetahui dapat mengetahuinya sehingga ilmu tidak hilang hingga dijadikanya barang rahasia."

Di samping itu, Umar ibn Abd Aziz mengirim surat kepada Gubernur di semua wilayah kekuasaannya agar berusaha membukukan hadis pada ulama yang tinggal di wilayah masing-masing. Ulama besar yang membukukan hadis di antaranya Abu bakar Muhammad ibn Muslim ibn Ubaidillah ibn syihab Az-Zuhry, seorang tabi’in yang ahli dalam bidang fiqh dan hadis, beliau adalah guru Malik, Al-Auza’y, Ma’mar, Al-La’its, Ibn Ishaq, Ibnu Abi Dzi’bin. Beliau adalah ulama yang awalnya membukukan Hadis atas perintah khalifah.

Semua ulama’ besar yang membukukan hadis adalah para ahli hadis abad ke-2 hijriah. Sayangnya, kitab az-Zuhri dan Ibn Juraij itu tidak diketahui di mana saat ini. Kitab hadis paling tua yang ada di tangan umat Islam saat ini adalah Al-Muwaththo’ yang merupakan susunan Imam Malik atas perintah khalifah Al-Mansur ketika dia naik haji pada tahun 144 H.(143 H)

Pembukuan hadits abad 2

Ulama abad 2 hijriah membukukan hadis dengan tidak menyaringnya. Mereka tidak membukukan hadis saja, tetapi juga fatwa-fatwa sahabat, bahkan fatwa-fatwa tabi’in. Semuanya itu dibukukan bersama-sama. Maka dalam kitab-kitab yang merupakan pembukuan hadits abad 2 terdapat hadis-hadis marfu’, mauquf, dan hadis maqtu’.

Kitab Hadis yang terkenal Abad 2

Kitab-kitab hadis yang telah dibukukan akan dikumpulkan dalam abad ke 2 hijriah banyak jumlahnya, tetapi yang terkenal dalam kalangan ahli hadis hanya beberapa. Adapun kitab hadis yang terkenal abad 2 adalah sebagaimana berikut::

a. Al-Muwaththo’ susunan Imam Malik (95H.-179H)
b. Al-Maghazi wa as-Siyar, susunan Muhammad ibn Ishaq (150H)
c. Al-Jami’, susunan Abdl ar-Razzaq ash-Shan’any (211H)
d. Al-Mushannaf , susunan Syu’bah ibn Hajjaj (160H)
e. A-Mushannaf, susunan Sufyan ibn Uyainah (198H)
f. Al-Mushannaf, susunan Al-Laits ibn sa’ad (175H)
g. Al-Mushannaf, susunan Al-Auza’y (150H)
h. Al-Mushannaf, susunan Al-Humaidy (219H)
i. Al-Maghazi an-NAbawiyah, susunan Muhammad Ibn Waqid al-Aslamy (130H-207H)
j. Al-Musnad, susunan Abu Hanifah (150H)
k. Al-Musnad, susunan Zaid ibn Ali
l. Al-Musnad, susunan Imam Asy-Syafi’y (204H)
m. Mukhtalif al-Hadis, susunan Imam Asy-Syafi'


Penulis : Rohmat Syariffudin
Editor : Lismanto

0 Response to "Pembukuan Hadis Pertama Kali"

Post a Comment