Perbuatan Allah

Perbuatan Tuhan atau dalam teologi Islam dikenal dengan perbuatan Allah adalah segala sesuatu yang dikerjakan dan dikehendaki Tuhan atau Allah. Menurut aliran Muktazilah, perbuatan Allah dikatakan sebagai segala perbuatan yang dikehendaki Allah sebagai Tuhan semesta alam sehingga segala perbuatan Allah adalah baik. Berbeda dengan perbuatan manusia yang memiliki dua kategori, yaitu baik dan tidak baik. Segala sesuatu yang baik berarti muncul dari perbuatan Allah.

Sifat Allah terkait dengan pengertian perbuatan allah (af'al allah) ialah sifat menciptakan dan memberi rizki. Dengan demikian, Allah maha menciptakan dan maha pemberi rizki. Dia yang membuat seluruh makhluk dan memberikannya rejeki. Sebagaimana dalam Al Quran: “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”

Allah tidak hanya menciptakan kamu, Dia juga yang menjadikan bumi sebagai hamparan yang luas untuk kamu. Kalau kata (خلق) khalaqa/ mencipta yang berarti memberikan kesan wujudnya sesuatu, baik melalui bahan yang telah ada sebelumnya maupun yang belum ada, serta menekankan bahwa wujud tersebut sangat hebat, dan tentu lebih hebat lagi bagi Allah yang mewujudkannya. Maka kata (جعل) ja’ala, mengandung maka mewujudkan sesuatu dari bahan yang telah ada sebelumnya sambil menekankan bahwa yang wujud itu sangat bermanfaat dan harus diraih manfaatnya, khususnya yang untuknya diwujudkan sesuatu itu, yakni oleh manusia.

Kalau demikian, manusia yang untuknya dijadikan bumi terhampar harus meraih manfaatnya lahir dan batin, material dan spiritual dari dijadikan bumi ini menjadi terhampar. Jangan sampai bumi dibiarkan tanpa dikelola dengan baik. Islam mengajarkan untuk memakmurkan bumi untuk kemaslahatan hidup, sambil mengingat bahwa sebagaimana ada makhluk yang diciptakan-Nya sebelum manusia, ada pula makhluk yang akan datang sesudah kamu. Yang sebelum kamu telah memanfaatkan bumi tanpa menghabiskannya, bahkan masih menyisakan banyak untuk manusia, maka demikian pula seharusnya manusia wahai seluruh manusia masa kini jangan habiskan atau rusak bumi. Ingatlah generasi sesudah kamu, anak dan cucumu.

Bukan hanya itu, Allah menyiapkan segala sarana kehidupan di dunia, baik material maupun immaterial. Dia juga menurunkan air dari langit, yaitu hujan melalui hukum-hukum alam yang ditetapkanNya untuk mengatur turunnya air hujan. Air yang turun dari langit merupakan air sebagian dari seluruh air yang ada di bumi. Ini dipahami dari bentuk nakirah (indefinit) pada kata (ماء) ma’an. Memang bukan semua air adalah hujan, karena ada air yang bersumber dari dalam bumi. Hujan adalah air yang menguap dari bagian air yang ada di bumi dan akhirnya membentuk awan yang kemudian turun ke bumi berupa hujan.

Dia mengahasilkan dengan hujan itu buah-buahan sebagai bagian rejeki untuk manusia. Sama dengan kata air, kata rejeki pun berbentuk nakirah, yang dalam ayat ini mengandung makna sebagian. Jika demikian, sumber rejeki bukan hanya buah-buahan yang tumbuh akibat hujan, tetapi masih banyak lainnya, yang terhampar di bumi ini.

Thahir Ibn’Asyur menjelaskan bahwa memahami makna kata ja’ala dalam arti menjadikan yakni mewujudkan sesuatu dari bahan yang telah ada sebelumnya, memahaminya demikian, memberi isyarat bahwa bumi yang kita huni dewasa ini telah mengalami perubahan dan berpindah dari keadaan ke keadaan yang lain hingga menjadi seperti sekarang.

Pemahaman ayat-ayat al-Qur’an seperti dikemukakan tersebut memang belum diketahui oleh umat manusia ketika turunnya al-Qur’an. Dari satu sisi, hal ini merupakan salah satu isyarat ilmiah al-Qur’an yang menjadi bukti kebenaran Allah, di sisi lain hal ini menunjukkkan bahwa kitab suci al-Qur’an dapat menampung makna yang beraneka ragam, serta dapat dipahami oleh ilmuan maupun awam. Masing-masing menimba sesuatu berdasarkan kadar dan besarnya kapasitas yang mereka miliki.

0 Response to "Perbuatan Allah"

Post a Comment