Perjuangan Mahasiswa adalah Perjuangan Ilmu!



Oleh Ilham Setyawan
Kader HMI Komisariat Fakultas Hukum UNDIP

Mahasiswa merupakan insan muda yang digembleng pendidikan di kampus. Mereka harus bisa menjadi harapan untuk menggerakan roda kehidupan bagi bangsa dan negara kedepannya. Oleh karena itu, melekatlah berbagai sebutan seperti agent of social change,  iron stock, agent of social control dan sebagainya. Namun bagi saya, yang sebenarnya kurang peduli dengan nomenklatur-nomenklatur yang diberikan kepada mahasiswa tersebut, tetap saja saya memandang dalam diri mahasiswa itu memang terdapat suatu daya potensial untuk suatu perubahan atau gerakan restoratif menuju kehidupan berbangsa, bernegara, serta bermasyarakat yang makmur, sejahtera dan merata atau untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sayangnya, daya potensial tersebut bisa menampakan dirinya kearah yang positif atau bahkan kearah yang minus. Itu semua tergantung dari bagaimana mahasiswa itu bertindak, apakah mereka mau mendayakan kekuatan potensial yang ada pada dirinya ke arah yang positif atau ke arah yang minus, atau bahkan mereka hanya stagnan di tempat dan tidak mendayakan kekuatan potensial yang ada padanya tersebut.

Sikap yang kedua dan terakhir inilah yang sebenarnya menjadi cikal bakal disorientasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena bermula dari sikap yang stagnan ini kemudian lahirlah sikap apatis, kemudian berlanjut menjadi suatu sifat baladah, dan saat semua itu terwujud yang ada para iron stocks itu hanya akan menjadi benalu dalam masyarakat.

Perlu juga kiranya untuk saya singgung di sini, bahwa penafsiran “perjuangan” itu pun tidak dapat serta-merta hanya dipandang sebagai sebuah aksi turun ke jalanan, bakar sana-sini dan teriakan lantang untuk mengecam kebijakan rezim pemerintah, namun esensi dari sebuah perjuangan adalah untuk mewujudkan masyarakat adil makmur dan sejahtera dalam artian mengangkat harkat dan martabat hidup bangsa.

Semangat perjuangan seperti inilah yang sebenarnya digelorakan oleh para pejuang kita terdahulu dan oleh para Founding Fathers Indonesia untuk membebaskan Bangsa Indonesia dari belenggu penajajahan. Dan sesungguhnya hal yang demikian adalah sama dengan perjuangan Rasulullah Muhammad SAW, yakni melepaskan budak dari perbudakan (Q.S. 90 : 20). Oleh karena itu harusnya tak ada lagi keraguan bagi umat manusia khususnya umat islam, untuk berjuang di jalan yang demikian.

Perjuangan yang demikian pun harusnya terintegrasi dengan suatu keyakinan dan penyerahan diri yang sepenuhnya kepada Sang Pencipta seluruh alam, Allah SWT. Dengan perjuangan yang berlandasklan keyakinan dan penundukan diri kepada Allah maka akan sampailah makna dari perjuangan tersebut pada suatu titik yakni perjuangan ilmu. Karena memang Allah telah menghendaki manusia yang berilmu untuk dinaikan derajatnya, begitu pun sabda Rasulullah SAW,

Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya Malaikat akan meletakan sayapnya bagi penuntut ilmu karena rela atas apa yang dia tuntut “ (HR Ibnu Abdil Bar).

Bagi saya, hal ini adalah sebuah sunatullah yang sangat rasional dan dapat diterima dalam sebuah silogisme yang runtut bahwa perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa adalah dengan perjuangan ilmu, karena Allah pun telah menjanjikan akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Hal itu pula yang mungkin mendasari pemikiran para Founding Fathers kita dalam menyusun konsepsi tujuan Negara Indonesia, yakni yang terdapat dalam alenia ke-4 Preambul UUD Republik Indonesia 1945, bahwa kecerdasan bangsa adalah sebuah hal yang harus dicapai oleh Bangsa Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Dengan konsepsi perjuangan yang berlandaskan ilmu tersebut, maka selayaknya semua pihak yang terjun dalam medan perjuangan tanpa terkecuali harus memantapkan dirinya dalam ilmu, minimal ilmu di bidang apa yang ia terjun dan ia bidangi. Sebenarnya dari sini telah dapat kita pahami bahwasanya tiap mahasiwa yang benar-benar berikhtiar medalami ilmunya di universitas-universitas, maka ia tengah berikhtiar dalam separuh perjuangan, permasalahan untuk menuju totalitas perjuangan hanyalah masalah will atau kemauannya untuk terus mengeksplorasi ilmu tersebut dan mengabdikannya kepada bangsa dan negara ataukah hanya puas dengan ilmu yang dipelajari lalu lepas begitu saja setelah diujikan.

Pemikiran yang demikianlah yang mendasari sikap saya bahwa tidak seharusnya ada justifikasi kepada para anak negeri yang menempuh studi di universitas-univesrsitas, yakni sebagai mahasiswa yang bergeliat di dunia aktivis dan mahasiswa yang dibilang apatis, apabila penilaian yang demikian hanya didasarkan secara dhohir dari aktivitas mereka sehari-harinya yang nampak. Karena sangat mungkin seorang mahasiswa yang nampaknya tenang, pandai di perkuliahan dan pulang seusai kuliah atau biasa disebut tipikal mahasiswa “kupu-kupu”, sesungguhnya ia adalah seorang revolusionis ilmu yang visioner, hanya saja ia meyakini jalan perjuangannya yang demikianlah yang terbaik untuk saat-saat tertentu ini.

Begitu pun sebaliknya, para kelompok yang menamakan dirinya sebagai “aktivis” suatu organisasi ekstra kampus misalnya, apabila dalam kenyataannya ternyata tidak banyak hal yang dilakukanya kecuali hanya berbondong-bondong kesana-kemari memenuhi sudut kampus dengan seperangkat atribut-atribut keorganisasian namun dangkal kajian ilmunya, bukankah tipikal mahasiswa yang pertama lebih layak disebut sebagai pejuang?

Yang benar-benar apatis adalah yang tidak berikhtiar dalam perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya. Bahkan akan termasuk di dalamnya ialah tidak berikhtiar mengangkat harkat dan martabat dirinya sendiri karena diri sendiri adalah termasuk bagian dari bangsa secara keseluruhan. Jadi bukan aktivisnya, padat-tidaknya kegiatan di kampus, atau banyak-sedikitnya waktu di rumah seusai kuliah yang dinilai, tetapi dedikasinya terhadap ilmu yang ia dalami.

Bagi saya, istilah-istilah organisatoris, aktivis, maupun si apatis dengan sederet “konon” yang membuntutinya ialah tidak lebih sekedar justifikasi sepihak dari pihak-pihak yang hanya melihat secara lahiriyah saja, meskipun memang banyak saat ini orang-orang di birokrasi pemerintahan yang lahir dari dunia organisatoris dan aktivis selama menjadi mahasiswa dahulu. Namun tidak ada alur logisnya bahwa yang organisatoris atau aktivis sudah pasti sukses dan yang apatis, dalam arti yang “kupu-kupu” pasti terbelakang-tak berpengalaman. Buat saya itu hanya dogma “konon” yang sama sekali tidak ada jaminan terhadapnya.

Dengan kesamaan visi dan orientasi, serta kesamaan konsepsi perjuangan, yakni perjuangan yang berlandaskan ilmu, maka akan terbentuklah totalitas perjuangan mahasiswa di segala bidang keilmuan. Perlu pula untuk direnungkan, adakalanya rasa emosional sesaat secara kolektif dapat pula dipandang bisa menghasilkan suatu daya potensial yang besar untuk berjuang. Namun perlulah diketahui, sampai sebesar apapun kekuatan kolektif tersebut tanpa disertai ilmu, perjuangannya hanya akan sia-sia dan “awangan” belaka, ini tak lebih hanya seperti siap mati konyol di medan pertempuran. Akan tetapi dengan pijakan ilmu yang mantap akan dapat menghasilkan suatu daya gedor yang kuat tak terpatahkan.

Di bagian akhir renungan ini saya ingin berpesan, bahwa perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup bangsa Indonesia haruslah perjuangan yang berpijak pada ilmu pengetahuan yang matang, karena dengan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan di bebagai bidang keilmuan dapat dihasilkan suatu totalitas perjuangan bagi mahasiswa. Dan perlu kita ingat, perjuangan yang totaliter berarti perjuangan di garda depan-garis keras atas falsafah yang diyakini sebagai kebenaran, yaitu ideologi.

Dengan demikian perjuangan untuk mewujudkan Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta keadilam bagi seluruh rakyat Indonesia, adalah perjuangan yang berdasarkan ilmu, bukan perjuangan kumpul rame-rame, teriak sana-sini, bakar ini-itu!

0 Response to "Perjuangan Mahasiswa adalah Perjuangan Ilmu!"

Post a Comment