Sejarah Tafsir dan Perkembangannya

Tafsir Al-Quran dapat dipetakan menjadi dua pengertian, yakni tafsir sebagai produk dan tafsir sebagai proses. Tafsir sebagai produk adalah tafsir yang merupakan hasil dialektika seorang mufasir dengan teks dan konteks yang melingkupinya, yang kemudian ditulis dalam kitab-kitab tafsir, baik secara lengkap 30 juz maupun sebagian saja dari ayat Al-Quran. Sedangkan tafsir sebagai proses adalah aktifitas berpikir terus menerus yang dilakukan untuk mendialogkan antara teks Al-Quran dengan realitas yang berkembang. Dialog komunikatif antara teks Al-Quran yang terbatas dengan konteks yang tidak terbatas selalu dilakukan oleh mufasir sehingga tafsir merupakan proses yang tidak akan pernah selesai sampai hari kiamat.

Dalam sejarah tradisi Al-Quran semenjak zaman Nabi Muhammad saw hingga sekarang telah terjadi pergeseran epistimologi penafsiran yang mana hal ini merupakan bagian dari kesinambungan dan perubahan. Sejarah penafsiran semenjak zaman Nabi Muhammad saw dapat dikelompokkan menjadi empat periode, yakni periode Nabi, periode sahabat, periode tabiin, dan periode setelah tabiin, periode kontemporer.

Tafsir pada zaman Nabi Muhammad

Pada saat Al-Quran diturunkan, Nabi Muhammad saw yang berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan), menjelaskan kepada para sahabatnya tentang arti dan kandungan Al-Quran, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami atau samar artinya. Keadaan ini berlangsung sampai dengan wafatnya Nabi. Walaupun harus diakui bahwa penjelasan tersebut tidak semua kita ketahui akibat tidak sampainya riwayat-riwayat tentangnya atau karena memang Nabi Muhammad saw sendiri tidak menjelaskan semua kandungan Al-Quran.

Para ulama berbeda pendapat mengenai penafsiran Nabi Muhammad terhadap Al-Quran. Ibnu Taimiyah mengatakan Nabi Muhammad saw telah menerangkan semua makna-makna Al-Quran sebagaimana halnya Nabi ketika membacakan ayat-ayat Al-Quran pada saat ayat-ayat itu turun. Sedangkan Imam Suyuti mengatakan Nabi Muhammad tidak menjelaskan semua makna Al-Quran.

Tafsir pada zaman sahabat

Para sahabat bisa memahami Al-Quran karena Al-Quran dalam bahasa mereka, sekalipun mereka tidak memahami detail-detailnya. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya menjelaskan: Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab dan menurut uslub-uslub balaghahnya. Karena itu semua orang Arab memahaminya dan mengetahui makna-maknanya, baik kosakatanya maupun susunan kalimatnya.  Namun demikian, mereka berbeda-beda tingkat pemahamannya, sehingga apa yang tidak diketahui oleh seseorang di antara mereka boleh jadi diketahui oleh yang lain.

Kalau pada masa Nabi, para sahabat dapat menanyakan persoalan-persoalan yang tidak jelas kepada beliau, maka setelah wafatnya, mereka terpaksa melakukan ijtihad, khususnya mereka yang mempunyai kemampuan seperti Ali bin Abi thalib, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, dan Ibnu Mas’ud.

Adapun sumber-sumber tafsir yang digunakan oleh para sahabat di dalam menafsirkan Al-Quran dapat dikelompokkan menjadi empat bagian. Pertama Al-Quran itu sendiri. Kedua penafsiran Nabi Muhammad saw. ketiga dengan ijtihad mereka. Keempat berasal dari Ahli Kitab (Yahudi-Nasrani).  Para sahabat ketika tidak mengetahu masalah-masalah yang berkaitan dengan sejarah nabi-nabi atau kisah-kisah yang tercantum dalam Al-Quran, mereka sering bertanya kepada tokoh-tokoh Ahli Kitab yang telah memeluk agama Islam, seperti Abdullah bin Salam, Ka’ab Al-Ahbar. Inilah yang menjadi penyebab lahirnya Israiliyat.

Pada masa ini, tidak ada sedikit pun tafsir yang dibukukan, sebab, pembukuan baru dilakukan pada abad kedua. Di samping itu, tafsir hanya merupakan cabang dari hadits, dan belum mempunyai bentuk yang teratur. Ia diriwayatkan secara bertebaran mengikuti ayat-ayat yang berserakan, tidak tertib dan berurutan sesuai sistematika ayat-ayat Al-Quran dan surah-surahnya di samping juga tidak mencakup keseluruhannya.

Adapun tokoh-tokoh mufasir yang terkenal pada masa sahabat antara lain Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair.  Keempat khalifah di atas yang paling banyak riwayatnya adalah Ali bin Abi Thalib, sedangkan yang tiga (yakni Abu Bakar, Umar, Utsman) hanya sedikit riwayatnya. Hal ini disebabkan ketiga khalifah di atas lebih dahulu meninggal bila dibandingkan Ali.

Tafsir pada zaman Nabi Muhammad saw sampai dengan sahabat di atas dikenal dengan istilah nalar quasi-kritis. Nalar quasi-kritis adalah sebuah model atau cara berpikir yang kurang memaksimalkan penggunaan rasio dalam menafsirkan Al-Quran dan juga belum mengemukanya budaya kritisisme.

Model nalar quasi-kritis ditandai dengan penggunaan simbol-simbol tokoh untuk mengatasi persoalan. Dalam konteks penafsiran, simbol tokoh seperti Nabi cenderung dijadikan sebagai rujukan utama dalam menafsirkan Al-Quran. Al-Quran juga cenderung diposisikan sebagai subjek, sedangkan realitas dan penafsirnya diposisikan sebagai objek, dengan kata lain posisi teks sangat sentral sehingga pada masa ini yang dominan adalah tafsir bil-riwayah, sedangkan tafsir bil-ra’yi cenderung dihindari bahkan dicurigai.

Tafsir pada masa Tabiin

Dengan berakhirnya masa sahabat, tradisi penafsiran dilanjutkan oleh generasi tabiin dengan pola yang masih sama dengan sahabat, walaupun ada yang membedakan antara tradisi penafsiran era sahabat dengan tabiin. Di zaman sahabat belum muncul aliran-aliran tafsir secara tajam. Sementara di era tabiin sudah mulai muncul aliran-aliran tafsir berdasarkan kawasan. Hal itu disebabkan karena para mufasir dari kalangan tabiin yang dahulu pernah berguru kepada para sahabat kemudian menyebar ke berbagai daerah.

Secara geografis, paling tidak ada tiga aliran yang menonjol di era tabiin, yaitu: pertama, aliran Mekah yang ketika itu berguru kepada Ibnu Abbas . Para tabiin yang belajar disini diantaranya Ikrimah,  Mujahid,  dan Said bin Zubair.  Kedua, aliran Madinah yang pada waktu itu berguru kepada sahabat Ubay bin Ka’ab. Para tabiin yang belajar disini diantaranya Abu Al-‘Aliyah, Zaid bin Aslam. Ketiga, aliran Irak yang pada waktu berguru pada sahabat Abdullah bin Mas’ud. Diantara para tabiin yang pernah belajar disini adalah Alqomah bin Qois, Ibrahim An-Nakho’i, Imam Syu’bi.

Sedangkan sumber-sumber tafsir pada masa tabiin adalah Al-Quran, penafsiran sahabat yang dinukil dari Nabi, penafsiran para sahabat, pendapat ahli kitab, ijtihad tabiin sendiri.

Tafsir pasca era tabiin

Periode ini terjadi pada era pasca para tabiin atau lebih tepatnya generasi atba’ at-tabiin . tokoh-tokohnya adalah Yazid As-Sulami (w.117 H), Sufyan bin Uyainah (w.198 H), Syu’bah bin Ubadah (w. 205 H). Namun sayangnya tafsir-tafsir mereka tidak sampai kepada kita, yang ada hanya sekedar nukilan-nukilan. Mungkin hanya kitab Ma’ani Al-Quran karya Imam Al-Farra’ yang sempat sampai ke tangan kita.  Pada masa ini, pembukuan tafsir sudah dilakukan secara khusus, yang menurut sejarawan dimulai pada akhir dinasti Umayah dan awal dinasti Abasiyah.

Tafsir era modern

Periode modern ini dimulai sejak abad ke XIII hijriyah atau sekitar abad 19 masehi hingga sekarang. Pada abad ini terjadi gerakan Islam di berbagai negara yang dipelopori oleh beberapa tokoh Islam, Jamaludin Al-Afaghani (1838-1897M), dan muridnya Muhammad Abduh (1849-1905M) serta Rasyid Ridha (1838-1935M) di Mesir. Sedangkan di India dipelopori oleh Sayyid Ahmad Khan ( lahir tahun 1817M).

Bentuk modernisasi semacam itu telah membawa perubahan bagi alam pikiran para pengkaji Al-Quran. Mereka telah mengikuti garis perjuangan dan alam pikira waktu itu, yaitu membela agama Islam dari serangan kebudayaan-kebudayaan Barat. Sebagai sarana untuk membendung serta menangkis serangan-serangan Barat, maka mereka mempelajari kemajuan-kemajuan pengetahuan bahkan tradisi yang dipakainya. Oleh karena itu tafsir keluaran periode ini bersifat apologi dan pembangunan pemikiran.

Ditulis M Syarifuddin

Referensi:

Dr. Muhammad Husain Adz-Dzahabi, Tafsir wa Al-Mufassirun, Juz I, op. cit., hal.63

Dr. Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Husni, Zubdah Al-Itqon fi Ulum Al-Quran, Dar Al-Syuruq, Mekah, cet. II, 1983, hal. 108

M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, PT Mizan Pustaka, Bandung, cet. I, 2013, hal.105

Dr.Muhammad Husain Adz-Dzahabi, Buhuts fi Ulum At-Tafsir wa Al-Fiqhi wa Da’wah, Darl Al-Hadits, Kairo, cet. I, 2005, hal. 150

M. Rasyid Ridha, Tafsir al- Manar, Dar Kutub Ilmiah, Beirut, cet. I, 1999, hal. 21

Dr.H.Ahmad Syukri Saleh, Metodologi Tafsir Al- Quran Kontemporer dalam Pandangan Fazlur Rahman, GP Press, Jakarta, cet. I, 2007, hal. 42

Jalaludin Abdur Rahman As-Suyuti, Al-Itqan fi Ulum Al-Quran, Maktabah Darl At-Turats, Kairo, cet. I, 2010, hal. 924

Abdurrahman al-Baghdadi et. al., Hermeneutika Tafsir Al-Quran, Gema Insani, Jakarta, cet. II, 2008, hal.46

0 Response to "Sejarah Tafsir dan Perkembangannya"

Post a Comment