Sifat Allah dalam Al Quran

Sifat Allah dalam Al Quran berikut ini dimaksudkan untuk mengetahui sifat-sifat Allah yang termaktub dalam Surat Ayat Kursi. Dalam ejaan bahasa Arab, ayat kursi biasa ditulis dengan ejaan al-kursiy sehingga dalam artikel ini menuliskan kata "ayat kursi" yang di dalamnya berisi sifat-sifat Allah dengan ejaan "al-kursiy".

Ayat al-Kursiy adalah ayat yang lebih agung di antara seluruh ayat-ayat al-Qur’an yang agung. Karena dalam ayat ini disebutkan tidak kurang enam belas kali, bahkan tujuh belas kali, kata yang menunjuk kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Sifat-sifat Allah yang dikemukakan dalam ayat ini disusun sedemikian rupa sehingga menampik setiap bisikan negatif yang dapat mengahasilkan keraguan tentang pemeliharaan dan perlindungan Allah. Dalam ayat ini dilukiskan, betapa kekuasaan Allah SWT dan betapa dugaan tentang keterbatasan pemeliharaan dan perlindungan-Nya yang mungkin terlintas dalam benak manusia, dihapus oleh-Nya kata demi kata

Dalam buku, Hidangan Ilahi; Tafsir ayat-ayat Tahlil, antara lain penulis kemukakan bahwa ketika membaca ayat al-Kursiy, sang pembaca menyerahkan jiwa raganya kepada Tuhan seru sekalian alam dan kepada-Nya pula ia memohon perlindungan. Bisa jadi ketika itu bisikan iblis terlintas di dalam benak yang membacanya, “Yang dimohonkan pertolongan dan dan perlindungan-Nya itu, dahulu pernah ada, tetapi kini telah mati,” maka penggalan ayat berikit meyakinkan tentang kekeliruan bisikan itu, yakni dengan sifat (الحي) al-Hayy/ Yang Maha Hidup dengan kehidupan yang kekal.

Bisa jadi iblis datang lagi membawa keraguan dengan berkata, “Memang Dia hidup kekal tetapi Dia tidak pusing dengan urusan manusia, apalagi si pemohon.” Penggalan ayat berikutnya menampik kebohongan ini dengan firman-Nya(القيّوم) al-Qayyum, yakni yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, dan untuk lebih meyakinkan sifat Allah ini, dilanjutkan dengan penggalan berikutnya : ( سنة ولا نومخذهتأ لا) la ta’khudzuhu sinatun wa la naum/ Dia tidak dapat dikalahkan oleh kantuk dan tidur, tidak seperti manusia yang tidak kuasa menahan kantuk dan tidak dapat mengela selama-lamanya dari tidur.

Allah, terus menerus jaga dan siap siaga. Dengan penjelasan ini sirna sudah keraguan yang di bisikkan setan itu. Tetapi bisa jadi ia datang dengan bisikan bahwa, “Tuhan tidak dapat menjangkau tempat dimana si pemohon berada, atau pun kalau Dia sanggup, jangan sampai Dia diberi sesaji sehingga Dia tidak dapat memberi perlindungan”. Untuk menampik bisikan jahat ini, penggalan ayat berikut tampil dengan gamblang menyatakan: ( ما فى السموات وما في الأرض ) lahu ma fi as-samawati wa ma fi al-ardh/ miliknya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, keduannya berada dalam kekuasaan-Nya.

Tidak hanya itu, tetapi berlanjut dengan firman-Nya: (من ذالذي يشفع عنده ٳلاّ بإذنه ) man dzalladzi yasyfa’u ‘indahu illa bi idznih/ siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya kecuali dengan seizin-Nya? Tidak ada. Dia demikian perkasa sehingga berbicara dihadapan-Nya pun harus setelah memperoleh restu-Nya, bahkan apa yang disampaikan harus sesuatu yang benar dan haq. Karena itu, jangan menduga akan ada permintaan yang bertentangan dengan keadilan dan kebenaran.

Bisa jadi iblis belum putus asa menanamkan keraguan ke dalam hati pembaca ayat al-Kursiy. Ia berkata lagi, “Musuh anda mempunyai rencana yang demikian rinci dan penuh rahasia sehingga tidak diketahui oleh-Nya”. Lanjutan ayat al-Kursiy menampik bisikan ini dengan firman-Nya: (يعلم ما بين أيديهم وما خلفهم ) ya’lamu ma baina aidihim wa ma kholfahum/ Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Yakni Allah mengetahui apa yang mereka lakukan dan rencanakan baik yang berkaitan dengan masa kini dan masa yang akan datang, maupun masa lampau, dan (ولا يحيطون بشئ من علمه إلاّ بما شاء) wa la yukhituna bisyai’in min ‘ilmihi illa bi masya’/ mereka tidak mengetahui sedikitpun dari ilmu Tuhan melainkan apa yang di kehendaki Tuhan untuk mereka ketahui.

Ini berarti apa yang direncanakan Allah tidak mungkin mereka ketahui kecuali apa yang diizinkan-Nya untuk mereka ketahui. Penggalan ayat ini akan lebih dipahami maknanya kalau mengingat ungkapan yang menyatakan: Semakin banyak yang Anda ketahui tentang musuh, semakin mudah anda menghadapinya. Sebaliknya, semakin sedikit yang diketahui musuh tentang Anda, semakin sulit ia menghadapi Anda.

Penggalan ayat ini menggambarkan hakikat tersebut agar si pemohon semakin yakin dan tenang. Untuk lebih meyakinkan lagi dinyatakan-Nya : (وسع كرسيّه السموات والأرض) wa si’a kursyiyuhu as-samawati wa al-ardh/ kekuasaan atau ilmu-Nya mencangkup langit dan bumi, bahkan alam raya seluruhnya berada dalam genggaman tangan-Nya. Kini, sekali lagi Iblis mungkin datang berbisik, “Kalau demikian, luas kekuasaan Allah dan terlalu banyak jangkauan-Nya, Dia pasti letih dan bosan mengurus semua itu.” Penggalan ayat berikutnya sekialigus penutupnya, menampik bisikan ini dengan firman-Nya: (ولا يئود حفظهما وهو العليّ العطيم) wa la ya’uduhu khifdzuhuma wa huwa al-‘aliyyul ‘adzim/ Allah tidak berat memlihara keduanya dan Allah Maha Tinggi Lagi Maha Agung.

Demikian ayat al-Kursyi menanamkan ke dalam hati pembacanya kebesaran dan kekuasaan Allah serta pertolongan dan perlindungan-Nya, sehingga sangat wajar dan logis penjelasan yang menyatakan bahwa siapa yang membaca ayat al-kursyi, maka ia memperoleh perlindungan Allah dan tidak akan diganggu oleh syetan.

Di atas dikemukakan bahwa dalam ayat al-kursyi terdapat tujuh belas kali kata yang menunjuk kepada Allah, satu diantaranya tersirat. Selanjutnya, terdapat lima puluh kata dalam susunan redaksinya. Pengulangan tujuh belas kata yang menunjuk nama Allah itu bila dicamkan dan dihayati akan memberikan kekuatan batin tersendiri bagi pembacanya.

Ibrahim Ibn Ummar al-Biqa’i memberi penafsiran “supra rasional” menyangkut ayat al-Kursyi. Tulis ulama itu dalam tafsirnya, Nazhm ad-Durar, “Lima puluh kata adalah lambang dari lima puluh kali sholat yang pernah di wajibkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, ketika beliau berada di tempat Yang Maha Tinggi dan saat dimi’rajkan. Lima puluh kali itu diringankan menjadi lima kali dengan tujuh belas rakaat sehari semalam. Di sisi lain, perjalanan menuju Allah di tempuh oleh malaikat dalam lima puluh ribu tahun menurut perhitungan manusia (QS. Al-Ma’arij [70];4).

Dari sini lah pakar tafsir itu mengaitkan bilangan ayat al-kursyi dengan perlindungan Allah. Kalau di hadirat Allah gangguan tidak mungkin akan menyentuh seseorang, dan setan tidak akan mampu mendekat, bahkan akan menjauh, maka menghadirkan Allah dalam benak dan jiwa melalui bacaan ayat al-Kursyi yang sifatnya seperti diuraikan di atas, dapat menghindarkan manusia dari gangguan setan, serta memberinya perlindungan dari segala macam yang ditakutinya.

Referensi : M. Quraish shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur’an, Volume 1, Jakarta: Lentera Hati, 2002

0 Response to "Sifat Allah dalam Al Quran"

Post a Comment