Badan Pengelola Latihan Semarang Harus Rajin Diskusi Kajian Islam dan Indonesia


SEMARANG, Islamcendekia.com - Badan Pengelola Latihan (BPL) merupakan salah satu lembaga di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang bertugas menjadi pengelola latihan di HMI, salah satunya BPL HMI Cabang Semarang.

Menurut Muharom Alrosid, mantan Ketua Umum BPL HMI Cabang Semarang, diskusi merupakan makanan wajib bagi BPL, terutama diskusi kajian Islam dan Indonesia. Pasalnya, meskipun sudah menjadi instruktur atau dosen di HMI, para anggota BPL juga wajib meningkatkan kualitasnya lewat diskusi kajian yang harus digelar secara rutin. "Menjadi BPL itu tidak cuma status dan formalitas, namun harus menjadi contoh intelektual dan moral bagi kader HMI," jelasnya pada Islamcendekia.com.

Untuk menjadi BPL, Rosyid menuturkan seorang kader HMI harus lulus latihan kader I (basic training) dan latihan kader II (intermediate training) dulu. "Setelah lulus LK II minimal 6 bulan, baru boleh ikut Senior Course (SC), dan SC menjadi syarat kader HMI untuk menjadi instruktur atau anggoal BPL," tuturnya.
BPL HMI Cabang Semarang Semarang dari tahun ke tahun terus meningkatkan kualitasnya. "Dari dulu sampai tahun 2014 ini, BPL HMI Cabang Semarang selalu menjadi contoh perkaderan oleh HMI se Indonesia," terangnya.

Setelah Rosyid, saat ini BPL HMI Cabang dipimpin M Kholil Syaroni dari IAIN Walisongo Semarang. Sebelum Rosyid, BPL HMI Cabang Semarang dimpimpim Amal Nur Ngazis yang saat ini sudah menjadi wartawan.

Dimpimpin siapa saja, menurut Rosyid tidak ada masalah. Namun jika kader sudah menjadi BPL harus senantiasa meningkatkan kapasitas intelektualnya, baik lewat membaca, diskusi, lokakarya perkaderan dan sebagainya.

M Kholil Syaroni, Ketua Umum BPL HMI Cabang Semarang saat ini juga memberikan penjelasan senada. "BPL itu kan guru bagi kader HMI, jadi jangan sampai sudah menjadi BPL malas diskusi," jelasnya. Kholil yang juga mantan Ketua Umum IPNU Ranting Ngaliyan, Semarang itu menjelaskan bawah tugas BPL sangat berat. "Tugas BPL itu tidak hanya mengelola LK, namun juga mengawal proses perkaderan, dari tahap perekrutan, pembentukan bahkan pengabdian," pungkasnya.

Reporter dan Editor: Achmad Hasyim.

0 Response to "Badan Pengelola Latihan Semarang Harus Rajin Diskusi Kajian Islam dan Indonesia"

Post a Comment