Banjir Menurut Islam dan Fikih Lingkungan

Banjir hampir menjadi bencana langganan bagi bangsa Indonesia. Awal tahun 2014, Indonesia disambut bencana banjir yang bukan saja menerpa ibu kota Jakarta, tetapi juga hampir setiap kabupaten di Indonesia. Banjir seolah berbicara dan hendak menyampaikan pesan kepada manusia, namun manusia lebih suka menutup mata. Manusia tak juga sadar jika banjir membuat sekolah libur, aktivitas kerja berhenti, angkutan umum mogok, bisnis morat-marit dan segala aktivitas yang menjadi roda utama perekonomian lumpuh. Banjir menjadi lintasan sejarah kelam buruknya komunikasi antara manusia dan alam.

Longsor sebagai dampak banjir
Yang menjadi pertanyaan kemudian, siapa yang bertanggung jawab atas musibah banjir yang menjadi “bencana nasional” ini? Kalau curah hujan dituding sebagai “aktor” di balik musibah banjir, tentu hujan akan tunduk pada hukum alam. Karena itu, kita sepatutnya sadar bahwa banjir merupakan “ekspresi alam” atas ulah manusia. Berawal dari sini, pola komunikasi terhadap alam tidak semestinya dilakukan dengan membentuk bendungan setinggi mungkin, menggerakkan sejuta relawan untuk korban banjir, atau berdoa bersama untuk menghentikan hujan.

Pola komunikasi yang dijalin seharusnya menciptakan gerakan sejuta pohon, menindak tegas pembalak hutan, membuat barisan antibuang sampah sembarangan, gerakan normalisasi sungai, gerakan cinta drainase sehat dengan resapan tanah yang baik, dan segala bentuk gerakan yang cinta lingkungan. Dengan cara ini, perlawanan terhadap banjir akan bergerak pada level preventif (pencegahan), bukan pada level kuratif (pengobatan). Kalau pola semacam ini tidak disadari, bukan mustahil Indonesia akan menjadi “negara banjir” saat musim hujan tiba dan menjadi “negara yang kering kerontang” tatkala musim kemarau datang.

Manusia Indonesia sepertinya belum sepenuhnya sadar akan pola perlawanan terhadap banjir semacam ini. Mereka lebih suka dengan seremonial penyelamatan puluhan korban banjir yang sedemikian dramatis ketimbang gerakan cinta lingkungan sebagai langkah paling ampuh untuk meredam banjir yang dalam sekejap bisa merenggut ratusan jiwa, melumpuhkan roda perekonomian, bisnis, pendidikan, kesehatan, serta dampak destruktif-masif lainnya. Karena itu, memahami karakter alam tak hanya dibutuhkan pemahaman, wawasan atau pengetahuan, tetapi juga kesadaran kolektif-holistik yang bisa diimplementasikan secara nyata.

Untuk memahami masalah banjir, salah satunya bisa menggunakan doktrin ajaran agama. Dalam hal ini, Islam melalui formula yang ditawarkan fikih, terutama fikih yang mengatur masalah lingkungan atau dikenal dengan fiqih lingkungan bisa saja memberikan pemahaman yang benar mengenai lingkungan. Islam melalui Al Quran banyak sekali menyinggung masalah lingkungan. Bahkan, Al Quran sendiri sudah menjelaskan bahwa hancurnya lingkungan, baik lingkungan air, udara dan bumi merupakan ulah tangan manusia. Tidak terkecuali banjir, tak lain adalah produk atau ulah tangan manusia sendiri.

Islam, fikih lingkungan dan fatwa

Minimnya kesadaran menjaga dan melestarikan lingkungan membuat langkah untuk mengeluarkan regulasi yang mengatur lingkungan mendesak dilakukan. Salah satu regulasi yang mengawal kesadaran menjaga lingkungan adalah “fatwa”. Dalam hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pelbagai organisasi keagamaan perlu berpartisipasi aktif mengeluarkan fatwa prolingkungan yang menyatakan “perang” terhadap segala bentuk perusakan lingkungan. Langkah ini ditempuh untuk menggiring paradigma dan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan lingkungan demi kepentingan hidup manusia Indonesia.

Kenapa fatwa? Fatwa selama ini mudah “membaur” dengan pemahaman dan kesadaran masyarakat ketimbang regulasi yang berbentuk undang-undang. Meski begitu, pemerintah mutlak mendukung “fatwa prolingkungan” melalui undang-undang agar mendapat legitimasi hukum yang kuat. Apabila kesadaran akan pentingnya mencintai lingkungan terbentuk secara serentak dari Sabang hingga Merauke, masyarakat tidak akan lagi ketakutan saat musim hujan tiba dengan perasaan-perasaan yang selalu dihantui bencana banjir.

Fatwa lahir dari pemahaman teks-teks agama yang kemudian menjadi produk hukum yang disebut fikih. Dalam kajian hukum Islam, fikih yang mengatur kelestarian ekologi adalah fikih lingkungan (fiqh al-bi’ah). Secara substantif, fikih lingkungan mengajarkan bahwa menjaga, melestarikan dan mencintai lingkungan merupakan tujuan hidup manusia yang mendasar. Menjaga lingkungan berarti memelihara hak dasar manusia. Sebab rusaknya lingkungan akan berujung pada malapetaka yang mengancam eksistensi manusia. Dari sini, menjaga lingkungan hukumnya menjadi wajib.

Meminjam istilah Asy-Syatibi dalam kitab Al Muwafaqat fi Ushul al-Syari’ah, tujuan syari’at (maqashid al-syari’ah) untuk memelihara lima hak mendasar pada manusia, yakni agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Menurut penulis, menjaga lingkungan sama halnya memelihara lima hak mendasar manusia, sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk mengabaikan eksistensi lingkungan. Melalui fatwa yang prolingkungan dengan dukungan penuh dari pemerintah, manusia Indonesia diharapkan sadar akan pentingnya menjaga lingkungan untuk melawan banjir yang melanda bangsa Indonesia, sekarang dan mendatang.

Teks dan foto : Lismanto

0 Response to "Banjir Menurut Islam dan Fikih Lingkungan"

Post a Comment