Cabang-cabang Iman dalam Islam

Berdasarkan hadits Rasulullah yang mana Rasulullah sendiri bersabda bahwa iman itu dibagi menjadi 70 macam. Berawal dari sini, para ulama membagi macam-macam iman di mana cabang-cabang iman dalam Islam akan diuraikan secara lengkap di sini.

حدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ (رواه مسلم )

Telah diceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari Suhail dari Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Iman ada 70 macam lebih atau 60 macam lebih cabang. Yang paling utama adalah perkataan LAA ILAAHA ILLALLAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu merupakan sebagian dari iman.

Menurut Lismanto, sarjana hukum Islam IAIN Walisongo, secara eksplisit-skriptural, hadis tersebut bisa dipahami bahwa puncak tertinggi dari sebuah iman adalah perkataan: Tiada Tuhan selain Allah, yang disertai keyakinan kuat dalam hati. Sementara itu, perbuatan menyingkirkan sesuatu yang mengganggu jalan, seperti duri, batu kerikil, dan lain sebagainya yang dapat mengganggu dan mencederai orang, hal ini dikatakan sebagai perbuatan yang memiliki kadar iman terendah. Sedangkan perbuatan malu yang pada tempatnya juga menjadi bagian dari iman.

Adapun cabang-cabang iman dalam Islam sebagaimana dikutip dari buku Bingkisan Seberkas 77 Cabang Iman, cabang-cabang iman dalam Islam adalah sebagai berikut:

Iman kepada Allah
Yang dimaksud iman kepada Allah meliputi iman terhadap dzat Allah, sifat-sifat Allah, tauhid atau mengesakan Allah bahwa Allah adalah dzat di mana tidak ada satu pun yang menyerupaiNya dengan meyakini bahwa selain Allah adalah makhluk yang merupakan ciptaanNya.

Iman kepada Allah dijelaskan sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat Al baqarah ayat 285 dan Surat An-Nisa’ ayat 136, serta diperkuat dengan hadits dari Utsman bin Affan:
عن عثمان بن عفّان رضى الله عنه قال قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم من مات وهو يعلم ان لا اله الاّ الله دخل الجنه (اخرجه مسلم)

Artinya: “Barang siapa (suatu saat) mati, sementara ia mengetahui bahwa tiada Tuhan selain Allah, maka ia masuk surga” (Hadis Riwayat Muslim)

Beriman kepada rasul
Beriman kepada rasul Allah adalah mengimani sepenuhnya 25 rasul yang diutus Allah untuk memberikan pengajaran dan membawa ajaran-ajaran Allah yang disampaikan kepada manusia. Sebagai umat Muslim, mengimani Nabi Muhammad sebagai rasul yang membawa ajaran Islam kepada segenap umat manusia di bumi adalah sebuah kewajiban.

Beriman kepada malaikat
Sebagai orang beriman, malaikat sebagai mahkluk ciptaan Allah yang menjadi abdi Allah dalam menjalankan segala tugasnya yang diberikan kepada Allah adalah hal yang wajib diimani. Dalam Islam, malaikat ada 10 yang wajib diketahui, yaitu malaikat Jibril, Mikail, Izrail, Isrofil, Rokhib dan Atid, Ridwan dan Malik, Munkar dan Nakir.

Beriman kepada kitab Allah
Beriman kepada kitab Allah yang dimaksud adalah mengimani bahwa Allah menurutkan kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa, Zabur yang dibawa oleh Nabi Daud, Injil yang disebarkan melalui Nabi Isa, dan Al Quran sebagai kitab penyempurna dibawa oleh Nabi Muhammad.

Beriman kepada Rasul, Malaikat, Kitab Allah dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 285 lantas diperkuat dengan hadits, ketika Umar bin Khattab menyaksikan sebuah peristiwa tanya jawab antara malaikat Jibril dengan Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Abu Hurairah:

الا يمان ان تؤمن بالله وملا ئكته وكتبه ورسله... ...

Artinya: “...Iman adalah kamu mempercayai sepenuh hati akan Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya...”

Beriman terhadap takdir
Cabang iman ini sering dikatakan sebagai cabang iman pada ketentuan bahwa baik dan buruk datang dari Allah. Dalam Islam, takdir dibagi menjadi dua yaitu takdir qada dan takdir qadar. Takdir qada adalah takdir yang tidak bisa diubah, sedangkan takdir qadar adalah sebuah takdir dari Allah yang bisa diubah melalui usaha dan kerja keras dari manusia sendiri.

Cabang iman mengenai takdir terdapat dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ ayat 78, dan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim:

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata: Rasulullah bersabda: “Adam dan Musa pernah terlibat dalam perdebatan.” Musa mengatakan, “Hai Adam, engkaulah bapak kami dan yang menyebabbkan kemi dikeluarkan dari surga.” Adam menjawab, “Hai Musa, engkaulah yang dipilih Allah dan diberi keistimewaan untuk bisa berbicara denganNya, serta diberi Taurat yang merupakan tulisan tanganNya. Apakah engkau menyesal atas takdir allah yang ditetapkan kepadaku 40 tahun sebelum aku diciptakan?” Kemudian Nabi saw bersabda: “Maka Adam menang atas Musa dalam perdebatan itu.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Beriman kepada hari akhir
Menurut Hulaymi, beriman kepada hari akhir adalah membenarkan sekaligus meyakini bahwa hari yang ada di dunia ini akan berakhir dengan apa yang disebut dengan kiamat. Bila kita beriman, meyakini, atau mengamini bahwa alam beserta segala isinya akan berakhir dengan sebuah kejadian maha dahsyat yang sering disebut sebagai kiamat. Hal itu dijelaskan dalam QS. At-Taubah ayat 29 dan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a. (Bukhori, Hadits 2130)

Beriman kepada Hari Kebangkitan
Beriman kepada hari kebangkitan dalam pendidikan Islam biasanya dimasukkan dalam kategori beriman kepada hari akhir. Tetapi di sini dibedakan ke dalam dua kajian atau dua terma yang berbeda. Beriman kepada hari kebangkitan adalah merujuk pada QS. at-Taghabun ayat 7 dan dalam hadits dari Umar bin Khattab yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari pada hadits 47
الايمان ان تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله وبالبعث من بعد الموت وبالقدر كله. (رواه البخارى وغيره)

Beriman kepada hari kebangkitan berarti menyakini dengan adanya hari ketika manusia dikumpulkan di padang Mahsyar, setelah dibangkitkan dari kubur, mereka digiring ke tempat Mauqif. Cabang iman terhadap hari kebangkitan dijelaskan pada QS. al-Muthofifin ayat 4-6 dan sebuah Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim (Bukhori, Hadits 1763, 2057 dan Muslim, Hadits 1954, 2174).
....يقوم الناس لربّ العالمين حتى يغيب احدهم فى رشحه الى انصاف اذنيه. (رواه البخارى ومسلم)

Dalam Islam, cabang iman di atas biasa diajarkan dalam pendidikan sejak dini. Dalam kajian yang lebih luas melalui kajian teologi Islam atau ushuluddin, maka cabang-cabang iman dibagi kembali ke dalam banyak cabang. Salah satunya dijelaskan dan diuraikan di bawah ini:

Beriman bahwa tempat atau rumah kembali orang-orang Beriman adalah surga dan orang-orang Kafir adalah Api Neraka. Pada cabang Iman yang ke sembilan dijelaskan pada QS. Al-Baqoroh ayat 81-82 dan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Muslim. (Bukhori, Hadits 678, 1343, 2063, Muslim 490).

Beriman Mencintai Allah itu wajib
Cabang iman mencintai Allah terdapat pada QS. Al-Baqoroh ayat 165 dan Hadits (Bukhori hadits 16 dan Muslim hadits 22) yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Beriman bahwa Takut kepada Allah itu Wajib.
Cabang ini dijelaskan dalam QS. al Imron ayat 175 dan Hadits riwayat Imam Bukhori dan Muslim (Bukhori hadits 696 dan Muslim 535) yang berbunyi: “Takutlah kamu pada api, walaupun hanya dengan pecahan buah kurma.” (HR. Bukhari Muslim).

Beriman Mengharap Ridho Allah
Pada cabang ini dijelaskan dalam QS. al-Isra’ ayat 57 dan Hadits riwayat imam Muslim (Muslim, Hadits 455) yang berbunyi: “Janganlah salah seorang di antara kamu ingin mati kecuali ia sedang berprasangka baik terhadap Allah.” (HR. Muslim).

Beriman untuk Bertawakal kepada Allah Setelah Berusaha
Cabang ini dijelaskan dalam QS. al-Imron ayat 122 dan hadits riwayat Imam Bukhori dan Muslim yang setidaknya berbunyi: “Dari Zubair ra dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Seseorang di antara kamu yang mengambil talinya lantas pergi ke gunung. Dia pulang dari gunung dengan membawa sepikul kayu di atas punggungnya. Kayu itu lalu dijual, hasilnya untuk dimakan. Orang itu lebih baik daripada orang yang meminta-minta, baik diberi maupun tidak diberi oleh mereka.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Beriman Mencintai Nabi Muhammad saw

Cabang ini dijelaskan dalam QS. Al-Imron ayat 164 dan Hadits Nabi saw yang menjelaskan cinta kepada Nabi dengan mengikuti perintah Nabi dan menjauhi larangan Nabi. “Dari Annas ra, Dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah beriman seseorang di antara kamu, sebelum dia mencintai aku lebih dari mencintai anak-anaknya dan semua manusia.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Mencari Ilmu
Cabang ini punya pengertian luas. Namun yang paling penting adalah mencari ilmu tauhid, ilmu agama lain yang datang dari Allah dan RasulNya, ilmu agama yang dimaksud adalah ilmu fiqh, Al-Qur’an dan Hadits menerangkan cabang iman yang mencari ilmu, antara lain QS. Fatir: 28 dan Hadis riwayat Imam Bukhori dan Muslim: “Dari Abdullah bin Amr bin  sh ra dia berkata: Rasulullah bersabda, “Allah tidak mencabut ilmu begitu saja dari manusia, tapi Dia mencabutnya dengan cara mencabut ruh para ulama, lalu ketika orang alim tidak ada, maka kebanyakan manusia akan mengangkat pemimpin mereka dari orang-orang bodoh. Setelah pemimpin-pemimpin itu ditanya, mereka memberikan petunjuk tanpa ilmu. Akhirnya, semua tersesat dan mereka pun menyesatkan.”

Menyebarkan Ilmu Pengetahuan.
Pada cabang ini dijelaskan dalam al-Qur’an pada Q.S. al-Imron: 187, dan Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhoridan Muslim:
“Ingatkanlah! Hendaknya yang ada ini menyampaikan kepada yang tidak hadir, barangkali orang yang mendapat berita ini lebih menyadari dari pada sebagian orang yang mendengarnya.”(H.R. Bukhoridan Muslim).

Memuliakan al-Qur’an.
Cabang iman ini diwujudkan dengan mempelajari al-qur’an dan mengajarkannya, selain itu, diwujudkan dengan menghormati orang yang ahli dan yang hafal al-Qur’an, juga harus melaksanakan hukum-hukum yang ada di dalamnya dan bahkan harus meresapi kandungan al-Qur’an.

Bersuci.
Cabang Iman ini merujuk QS. al-Maidah: 6 dan Hadits yang riwayat Imam Muslim: “Dari Abdullah bin Umar r.a. dia berkata: Rasulullah saw bersabda, ”Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci, dan tidak menerima sedekah dari hasil kejahatan (misalnya mencuri, korupsi, dan lain sebagainya)” (HR. Muslim).

Menegakkan Shalat.
Cabang Iman ini merujuk QS. al-Baqarah ayat 83 dan Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. (Muslim, Hadits 204).

Mengeluarkan  Zakat
Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. al-baiyinah: 5 dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim (Bukhori, Hadits 686, 721 dan Muslim, Hadits 501).

Berpuasa Ramadhan
Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. al-Baqarah: 183-184, dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim (Bukhori, hadits 8 dan Muslim, hadits 62).

Beri’tikaf

Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. al-Baqarah: 125, dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. (Bukhori, hadits 953 dan Muslim, hdits 633).

Haji
Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. al-Imron: 97, dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. (Bukhori, hadits 8 dan Muslim, hadits 62)

Berjihad (Berjuang di Jalan Allah)
Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. al-Haj: 78, dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. (Bukhori, hadits25 dan Muslim, hadits 16)

Selain banyak cabang iman di atas, berikut ini diuraikan cabang-cabang iman lain, yaitu sebagai berikut:

1. Siaga Berjuang di Jalan Allah

2. Teguh Menghadapi Musuh, Pantang Mundur dalam Pertempuran (Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. al-Anfal: 45, dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. (Bukhori, hadits 1249 dan Muslim, hadits 1126).

3. Membagikan Harta Rampasan Perang kepada yang Berhak

4. Memerdekakan Budak dengan Niat Ibadah karena Allah

5. Membayar Kafarat

6. Menempati Janji
Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. al-Maidah: 1, dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. (Bukhori, hadits 32 dan Muslim, hadits 26)

7. Menghitung Nikmat Allah seraya Mensyukurinya

8. Memelihara Lidah.
Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. al-Ahzab: 35, dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. (Bukhori, hadits 2046 dan Muslim, hadits 32).

9. Menyampaikan Amanah kepada yang Berhak

10. Haram Melakukan Kejahatan danMembunuh Orang
Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. an-Nisa’, dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. (Bukhori, hadits 45 dan Muslim, hadits 66).

10. Haram melakukan Zina dan Wajib Menjaga Kehormatan.
Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. an-Nur: 30-31, dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. (Bukhori, hadits 1896, 1897 dan Muslim, hadits 43).
Agama mewajibkan untuk menjaga kehormatan (kemaluan) dengan menjauhi perbuatan zina. Sebab, perbuatan itu dapat mengahancurkan kehormatan seseorang. Hukum bagi pezina Muhshan (sesorang yang sudah nikah secara syah)   dihukum Rajam. Perbuatan zina dapat menyebabkan anaknya (dari zina) tidak berhak memperoleh harta warisan, sebagaimana ketentuan dalam ilmu faraid.

11. Memelihara Diri dari Harta yang Haram.
Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. al-Baqoroh: 188, dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. (Bukhori, hadits 61 dan Muslim, hadits 707).

12. Memelihara Diri dari Makanan dan Minuman yang Haram.
Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. al-Maidah: 3, dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. (Bukhori, hadits 1898 dan Muslim, hadits 1265).

13. Haram memakai Baju Sutera, Bejana Emas dan Bejana Perak, serta semua yang telah dinyatakan Haram dipakai

14. Segala Permainan dan Hiburan yang bertentangan dengan Ketentuan Islam, Hukumnya Haram

15. Bersahaja dalam Menafkahkan Harta, dan Mengharamkan Memakan Harta dengan Batil

16. Meninggalkan Sifat Dendam, Dengki dan Sejenisya

17. Haram Menodai Kehormatan Orang dan Wajib Menjauhi perbuatan menggunjing Orang

18. Ikhlas Beramal

19. Gebira Bila Berbuat Kebaikan dan Susah Bila Berbuat Kejelekkan

20. Segera Bertobat atas Setiap Dosa yang Dilakukan

21. Berkurban. Termasuk didalamnya ialah Mady, Kurban dan Aqiqoh

22. Wajib Taat kepada Pemerintah
Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. an-Nisa’: 59, dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim.(Bukhori, hadits 1641 dan Muslim, hadits 1225).

Selain itu, ada cabang-cabang iman lain seperti berpegang Teguh pada Pendapat Jam’ah, Mengadili Orang-Orang Dengan Adil, Beramal Ma’ruf dan Bernahi Mungkar, Tolong Menolong Atas Kebaikan dan Takwa, Bersifat Malu (Cabang Iman ini merujuk pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. (Bukhori, hadits 9 dan Muslim, hadits 30), Berbakti kepada Ayah dan Ibu (Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. al-Ahqof: 15, dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. (Bukhori, hadits 1975 dan Muslim, hadits 1765), Memelihara Hubungan Baik Terhadap Sanak Saudra (Silaturrohim), Berbudi Luhur, Menahan Marah dan Merendahkan Diri Terhadap Sesama Dalam Pergaulan; Berlaku Baik Kepada Sahaya dan Pembantunya; Hak Majikan kepada Sahayanya adalah Kewajiban Shaya Kepada Majikanya; Memenuhi Hak Keluarga; Memperkokoh Rasa Cinta Sesama Agama; Menjawab Salam (Cabang Iman ini merujuk pada Q.S. an-Nisa’, dan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim. (Bukhori, hadits 1099 dan Muslim, hadits 1419); Menjenguk Orang Sakit; Menshalatkan Mayat Muslim; Mendo’akan Orang Bersin; Menjauhi Orang Kafir, Ahli Pembuat Kerusakan dan Bersikap Keras Kepada Mereka; Menghormati Tetangga; Memuliakan Tamu; Menutupi Kesalahan dan Dosa Orang; Sabar Terhadap Musibah; Zuhud dan Tidak senantiasa Berkhayal; Pemurah dan Sifat Dermawan (Pada cabang ini dijelaskan dalam QS. Al-Imron: 133-134 dan Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Muslim. “Dari abiHurairah r.a diriwayatkan, Rasulullah saw bersabda: “Tak ada satu hari pun dari hamba Allah, melainkan pada setip pagi harinya ada dua malaikat yang turun kepadanya”, yang satu berucap: “Wahai Allah, berikanlah ganti kepada orang yang suka membelanjakan hartanya (bersedekah),” Malaikat yang lain berkata: “Wahai Allah, berilah kerusakan kepada orang yang menahan hartanya (kikir). (H.R. Bukhori dan Muslim)

Harus kita ketahui juga bahwa iman terbagi menjadi lima bagian, yaitu:

اَلْاِيْماَنُ عَلَى خَمْسَةِ اَوْجُهٍ اِيْماَنٍ مَطْبُوْعٍ وَاِيْماَنٍ مَعْصُوْمٍ وَاِيْماَنٍ مَقْبُوْلٍ وَاِيْماَنٍ مَوْقُوْفٍ وَاِيْماَنٍ مَرْدُوْدٍ فَالْاِيْماَنُ الْمَطْبُوْعُ هُوَاِيْماَنُ الْمَلاَئِكَةِ وَالْاِيْماَنُ الْمَعْصُوْمُ هُوَاِيْماَنُ الْاَنْبِيآءِ وَالْاِيْماَنُ الْمَقْبُوْلُ هُوَاِيْماَن ُالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْاِيْماَنُ الْمَوْقُوْفُ هُوَاِيْماَن ُالْمُبْتَدِعِيْنَ وَالْاِيْماَنُ الْمَرْدُوْدُ هُوَاِيْماَنُ الْمُناَفِقِيْنَ (التعريفات ص 41)

Iman itu ada lima macam, yaitu:

a. Iman Mathbu’, yaitu iman yang sudah menjadi ketentuan secara watak), misalnya iman kepada malaikat.
b. Iman Ma’shum, yaitu iman yang terjaga, misalnya iman yang dimiliki para nabi dan rasul Allah.
c. Iman Maqbul, yaitu iman yang diterima, misalnya iman yang dimiliki oleh para mukmin.
d. Iman Mauquf, yaitu iman yang diragukan, misalnya iman yang dimiliki oleh orang-orang atau ahli bid’ah. Bid'ah sendiri harus bisa dilihat konteksnya, tidak serta merta yang tidak ikut Nabi bisa dikatakan bid'ah. bid'ah bisa dilihat dari hal-hal ibadah mahdah/vertikal, bukan hal-hal yang praktis.
e. Iman Mardud, yaitu iman yang ditolak, misalnya iman yang dimiliki oleh orang-orang atau golongan munafik.

Kesimpulan:
a. Menurut ulama syari’at, iman adalah menekadkan di dalam hati dan mengikrarkan di dalam lisan.
b. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani, iman adalah mengetahui dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.
c. Dalam pembagian cabang-cabang Iman banyak Ulama’ yang mempunyai banyak pendapat.

Kepustakaan:
Baihaqi, Imam, Ter. Mukhtashar Syu’abul Iman (Bingkisan seberkas 77 Cabang Iman), Massatul Kutub Ats-Tsaqafiyah, Beirut-Libanon, 1989.

0 Response to "Cabang-cabang Iman dalam Islam"

Post a Comment