Hamidulloh Ibda Fatwakan Pacaran Islami itu "Dobol"



SEMARANG, Islamcendekia.com – Menurut Hamidulloh Ibda, penulis buku Stop Pacaran, Ayo Nikah! menyatakan bahwa pacaran islami itu sama saja dobol (bohong), omong kosong dan tak logis. Artinya, pacaran ya pacaran, tidak ada embel-embel Islam, Yahudi, Nasrani. “Ya, karena pacaran itu tidak punya agama, tidak punya baju dan jenis kelamin,” tuturnya saat bedah buku Stop Pacaran, Ayo Nikah di Jl Menoreh Raya 02 Semarang.

Pacaran islami itu menurutnya hanya trik pemuda dalam membungkus pacaran agar terkesan islami. “Jika ada pacaran islami, berarti ada zina islami, korupsi islami, mencuri islami gitu? Jangan disambung-sambung sendiri yang gak jelas lah,” tutur Ibda.

Pacaran islami itu maksudnya apa sih? Tanya Ibda. Pacarannya berposisi apa, sebagai mudhaf atau mudhaf ilaih? Ibda mencontohnya “perempuan cantik”. Cantiknya itu kata sifat, atau “kertas putih”, putih itu sifatnya kertas.

Nah, sekarang kalau “pacaran islami” itu gabungan dua makna atau salah satunya menjadi sifat? “Ini harus didekonstruksi agar cara berpikir kita benar,” tandas mahasiswa PPs Unnes itu.

Sekarang ini, lanjut Ibda, sudah banyak kata pacaran menyebar di mana-mana, di masjid, sekolah, kampus, rumah-rumah dan sebagainya. Tapi mengapa Islam diikut-ikutkan? “Islam ikut pacaran emange?” tanya Ibda dengan nada guyon. Soalnya, jika ada pacaran Islam, Yahudi, Nasrani itu sangat aneh. “Yang punya agama itu orangnya, bukan aktivitas pacarannya,” jelas Ibda. Karena kita ingin pacaran tapi tanpa tahu makna, tujuan dan filologinya, maka kita menyematkan kata Islam dalam pacaran.

Menurut Ibda, pacaran ya pacaran, tidak ada istilah pacaran islami. “Jika sembarang menyematkan kata islami, itu sama saja dobol. Nanti tiba-tiba ada judi islami juga gitu?” katanya.

Bedah buku ini, terselenggara atas kerja sama Forum Muda Cendekia (Formaci) Jateng, Islamcendekia.com, SMARTA School Semarang dan Harianjateng.com.

Pemuda asal Pati ini juga menyontohkan kata Islam. Selama ini, banyak orang menyebut Islam Rahmatal Lilalamin. Menurut Ibda, jika ada Islam Rahmatal Lilalamin, maka juga ada Islam yang tidak Islam Rahmatal Lilalamin. “Nek ora Rahmatal Lilalamin, apa pantas disebut Islam?” tanya Ibda.

Ya, karena kita gagal, lanjutnya, maka disambung-sambungkan sendiri. “Jika Islam, pasti ya Rahmatal Lilalamin,” tuturnya. Maka, lanjut Ibda, tidak perlu disambung-sambungkan, jika Islam ya Islam. “Wong Islam itu 1 kok, mengapa digatuk-gatukke dewe,” ujarnya.

Contoh lain, suami yang setia. “Padahal, jika suami itu ya pasti setia, jika tidak setia maka tidak pantas disebut suami, kan memang gitu,” jelas Ibda. 

Ya intinya, kita sekarang dengan huruf dan kata saja sudah bingung. “Jadi, tak usah berpikir jeru-jeru lah, wong dengan diri kita sendiri saja bingung, apalagi dengan negara dan agama, maka tak perlu ngomong duwur-duwur lah,” jelasnya.

Ada yang unik lagi, ada Islam liberal, Islam Rahmatal Lilalamin, Islam NU, Islam Muhammadiyah, LDII, FPI, MTA, Masyumi dan sebagainya. “Islam itu 1 atau 2 sih, kok kelakuannya macam-macam?” tanya Ibda. Sebenarnya yang salah siapa sih? Apa Islamnya atau rumusan pikiran manusia Indonesia? “Menurut saya tak ada yang salah, tapi karena saking bingunge kira-kira gitu,” tandasnya.

Kita harus introspeksi. “Marilah kita menertawakan diri sendiri yang semakin lama semakin bingung,” tuturnya. Karena di Indonesia, hal sepele seperti ini tidak diurus karena dianggap tidak penting.
Kembali soal pacaran. Sebenarnya kata Islam tak usah disambung-sambungkan di setiap pekerjaan. “Jangan berkhianat pada hakikat nilai dan kenyataan lah,” jelasnya.

Seperti contoh, Bank Syariat, ini juga aneh. Padahal, syariat maling juga bisa, syariah koruptor juga bisa wong tidak ada kejelasan secara detail tentang kesyariatannya.

Sama hal seperti kotak amal. “Padahal, amal itu dari bahasa Arab yang artinya kerja, yang benar kan seharuse kotak infak bukan kotak amal,” tuturnya. Ini jelas salah, tapi masih banyak jutaan orang menulis “kotak amal”.

Tidak hanya amal, kata akal sekarang sudah dihancurkan manusia. Akal itu merupakan hadiah luar biasa dari Allah yang mampu membedakan manusia dengan malaikat dan bahkan hewan. Tapi sekarang kata akal menjadi negatif. "Aku diakali guruku, artinya kan aku ditipu guruku," tuturnya. Inikah jelas-jelas salah kaprah, tapi manusia tetap menghina akal.
Tak hanya pacaran, kata nikah pun sebenarnya tak perlu diberi islami. Karena jika nikah, sudah pasti islami. “Biar lebih jelas dan Anda bertanya-tanya soal dunia pacaran dan nikah, baca saja buku saya biar paham detail,” tuturnya. Wong baca buku dan diskusi saja tak pernah, lanjutnya, maka jangan heran dan gumunan gitu lah.
Reporter dan Editor: Nailul M

2 Responses to "Hamidulloh Ibda Fatwakan Pacaran Islami itu "Dobol""

  1. Hamidulloh Ibda Fatwakan Pacaran Islami itu "Dobol"

    ReplyDelete
  2. Hamidulloh Ibda Fatwakan Pacaran Islami itu "Dobol"

    ReplyDelete