Islam dan Teori Keadilan John Rawls: Sebuah Pengantar

Oleh : Lismanto, S.H.I
Disampaikan pada Kuliah Filsafat di Lembaga Studi Justisia IAIN Walisongo, 1 Mei 2014

Saya tidak bisa membayangkan jika negara Indonesia dengan segala hiruk-pikuk sistemnya yang serba berantarakan dan sarat akan kepentingan yang berpihak pada sekelompok elite tertentu dihantam dengan implementasi Teori Keadilan yang digagas oleh John Rawls, seorang filsuf modern abad 20 bidang filsafat politik asal Amerika Serikat. Pasalnya, konsep keadilan yang ditawarkan John Rawls melalui bukunya, The Theory of Justice (1971) memberikan sejumlah aturan main yang sangat ideal. Sontak, konsepsi-konsepsi yang begitu ideal akan sangat bertabrakan, berbenturan, dan berseberangan dengan realitas pragmatis yang selama berpuluh tahun lamanya berlangsung di Indonesia.

Menurut saya, ada tiga konsekuensi yang akan diterima jika konsepsi John Rawls tentang keadilan diimplementasikan di Indonesia. Pertama, revolusi total dari berbagai aspek kehidupan, mulai hukum, politik, ekonomi, institusi, dan lainnya. Kedua, kebimbangan yang luar biasa akan sistem baru yang jelas sangat berbeda dengan realitas pragmatis selama ini. Ketiga, perubahan signifikan yang ditandai dengan kemajuan peradaban modern yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kemaslahatan bersama.

Menurut spekulasi saya, pihak yang paling tidak setuju apabila konsepsi Teori Keadilan diimplementasikan di Indonesia adalah elite penguasa, kaum kapitalisme, policy maker, serta berbagai kelompok yang sudah mapan atas sebuah ketidakadilan universal yang sudah terlanjur mengkristal dalam negara Indonesia. Dalam konsep Islam, teori keadilan yang diusung John Rawls lebih mendekati kepada konsep Maqasith al Syari’ah yang dikemukakan Asy Syatibi melalui bukunya, Al Muwafaqat.

Teori Keadilan John Rawls

Menurut Robert Nozick, seorang filsuf Amerika yang konsen pada kajian yang sama dengan John Rawls menilai bahwa A Theory of Justice adalah karya di bidang filsafat politik dan moral yang kuat, luas dan sistematis. John Rawls menjabarkan teori-teorinya dengan luas, idealis, dan cukup rumit. Oleh karena itu, saya harus meringkas ke dalam terma-terma substantif yang pokok dan singkat. Adapun inti daripada pemikiran John Rawls mengenai teori keadilan di antaranya sebagai berikut. Pertama, teori keadilan menjunjung tinggi kemerdekaan. Tidak ada batasan dalam hal kemerdekaan ini, kecuali pembatasan itu ditujukan untuk kemerdekaan itu sendiri.

Kedua, kesetaraan untuk semua orang. Kesetaraan yang dimaksud bahwa setiap orang punya kesempatan untuk setara dalam kehidupan sosial maupun dalam hal pemanfaatan kekayaan alam (social goods). Kesetaraan ini tidak ada batasan, kecuali jika ada sebuah kemungkinan keuntungan yang lebih besar. Ketiga, kesetaraan kesempatan untuk sebuah kejujuran dan penghapusan terhadap setiap ketidaksetaraan yang berdasarkan kelahiran dan kekayaan.

Ada beberapa istilah dan konsep yang harus diketahui dalam pemikiran John Rawls. Pertama, konsep justice as fairness yang menyatakan bahwa masyarakat adalah kesatuan individu yang berada dalam satu sistem sosial yang memiliki hasrat untuk bersatu di satu sisi, di sisi lain masing-masing individu punya hak, keinginan dan hasrat yang berbeda sehingga konsepsi untuk menyatukan persamaan itu dijelaskan John Rawls dalam justice as fairness. Kedua, konsep veil of ignorance yang menyatakan bahwa setiap individu tertutup oleh selubung ketidaktahuan tentang diri sendiri, posisi sosial dan doktrin tertentu yang membuatnya tidak mengetahui adanya suatu konsep keadilan yang tengah berkembang.

Ketiga, konsep original position di mana setiap orang punya posisi yang setara melintasi status sosial yang terdoktrin dalam suatu masyarakat tertentu. Dalam posisi ini, mereka bisa melakukan kesepakatan secara seimbang tanpa ada pihak yang dirugikan atau diuntungkan paling besar. Keempat, konsep equal liberty principle di mana setiap orang punya kebebasan yang sama, baik kebebasan politik, kebebasan berpendapat dan berekspresi, kebebasan personal, kebebasan untuk memiliki kekayaan, dan kebebasan dari tindakan sewenang-wenang.

Kelima, konsep inequality principle yang dibagi ke dalam konsep difference principle dan equal opportunity principle. Prinsip perbedaan mengkritik dan memberikan formula bahwa setiap ketidaksamaan baik sosial dan ekonomi harus diatur sedemikian rupa agar memberikan manfaat yang lebih bagi individu atau kelompok yang paling tidak diuntungkan. Sementara itu, prinsip persamaan kesempatan mengharuskan bahwa posisi-posisi dalam kehidupan sosial (termasuk politik) harus memberikan kesempatan yang sama dan adil bagi setiap orang.

Jika dikaitkan dengan Islam, saya sepakat dengan konsepsi-konsepsi yang dirancang dan dibangun oleh Asy Syatibi. Pada dasarnya, segala aturan, konsep, dalil, argumen, ataupun kebijakan-kebijakan yang berlandaskan Islam harus memiliki satu perundingan, yaitu kemaslahatan. Menurut As Syatibi, tujuan diturunkan syari’at Islam tak lain hanyalah untuk kemaslahatan, bukan sebaliknya. Hemat saya, setiap kebijakan dan aturan sosial, politik, maupun ekonomi yang berlandaskan Islam secara formal tetapi kehilangan substansinya yang menjunjung kemaslahatan harus direformulasi ulang, atau bahkan dibumihanguskan.

Saya tertarik dengan kata-kata John Rawls dalam bukunya, A Theory of Justice (1971), “Suatu teori, betapa pun elegan dan ekonomisnya, harus ditolak atau direvisi jika ia tidak benar. Demikian halnya hukum dan institusi, tidak peduli betapa pun efisien dan rapinya, harus direformasi atau dihapuskan jika tidak adil.”

0 Response to "Islam dan Teori Keadilan John Rawls: Sebuah Pengantar"

Post a Comment