Isra' Mi'raj itu Bukan Satu Kali, Tapi Berkali-kali


SEMARANG, Islamcendekia.com - Sebagai umat Islam, kita harus tidak puas. Artinya, kita harus tidak puas terhadap hal-hal baik, bukan tidak puas dalam hal nafsu. Maka, kita harus berijtihad dalam berbagai hal. "Kalau manusia tidak berijtihad, hidupnya stagnan dan bahkan mati," tutur Hamidulloh Ibda saat diskusi di kantor Islamcendekia.com, pada Selasa (27/5/2014).

Diskusi Islam yang digelar dalam rangka peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad Saw ini dihadiri beberapa Tim Redaksi Islamcendekia.com. Menurut Ibda, puncak perayaan Isra' Mi'raj bukanlah hanya ritus yang formalistik simbolis. "Namun kita tahu bahwa kita ini salatnya masih bolong-bolong. Pengembaraan spiritual kita harus ditingkatkan dengan adanya perayaan ini. Maka, memperingati Isra' Mi'raj atau tidak, umat Islam harus mematikan salatnya terjaga dan tidak bolong-bolong," tutur Ibda yang juga Direktur Eksekutif Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah.

Peringatan Isra' Mi'raj bukan hanya lewat pengajian, ritual Islam dan diskusi seperti ini. "Isra' Mi'raj tidak berhenti pada perayaan seperti ini, namun Isra' Mi'raj yang sejati ketika Anda nanti malas salat maka harus dipaksa salat, melihat masyarakat yang apatis terhadap Islam dan meninggalkan salatnya, menemukan komplikasi sosial keagamaan yang tercermin pada rusaknya moral masyarakat Islam. Itu semua merupakan wujud pengembaraan Isra' Mi'raj yang sejati," jelas Ibda yang juga Pimred Islamcendekia.com.

Maka, lanjut Ibda, jika Anda belum melakukan pengembaraan seperti yang sudah dilakukan Nabi Muhammad Saw, Anda tidak akan mendapatkan kemuliaan hidup. "Kemuliaan itu didapat ketika Anda sudah melakukan pengembaraan intelektual, rohani, pengembaraan spiritual, pengembaraan rohani, salah satunya dengan mengambil pesan spiritual Isra' Mi'raj," paparnya.

Dunia itu jangan dikira sempit. “Semua kan terserah Allah. Allah itu menghidupkan, mematikan, menghidupkan, mematikan, sampai enam kali itu yang disebut dalam Alquran, bisa delapan kali bahkan seribu kali,” jelasnya. Dikusi yang dihadiri Tim Redaksi Islamcendekia.com ini berlangsung menarik karena mengkaji Isra’ Mi’raj lebih dalam.

“Di Alquran kan ada ayat kaifa takruna billah wa antum amwatan. Mengapa Kamu kafir sama Allah, wong Kamu dulu itu tak hidupkan, tak matikan, terus tak hidupkan dan kemudian tak matikan. Hal itu diungkapkan Allah kan di Alquran enam kali. Tapi, hakikatnya mau seribu kali kan terserah-serah Allah,” jelasnya.

Enam kali, lanjut Ibda, itu kan yang disebut. “Tapi kalau seribu kali kan tak perlu disebut yuhyikum tsumma yumitukum, yuhyikum tsumma yumitukum, yuhyikum tsumma yumitukum. Tar kalau disebut semua, Alquran ya tebal banget. Ya, kan memang Allah maha bijak, pengiritan dan hemat, makanya yang disebut juga tidak ribuan, nanti cetak Alquran tebal banget kan boro,” tutur Ibda.

Sama seperti Isra’ Mi’raj itu tidak hanya satu kali meskipun banyak orang mengira Isra’ Mi’raj itu satu kali. Menurut Ibda, Isra' Mi'raj tidak hanya satu kali, namun berkali kali. "Semua ada logikanya, dasarnya, alasannya, landasan filosofisnya. Jadi, jangan kaget jika sebenarnya Isra' Mi'raj itu berkali-kali," tandas mahasiswa Pascasarjana Unnes itu.

Isra’ Mi’raj yang dikasih tau kepada kita itu satu kali. Tapi, sebenarnya nabi Muhammad itu Isra’ Mi’raj terus. “Itu kan Cuma butuh waktu beberapa jam, Muhammad sudah sampai galaksi-galaksi man saja. Bahkan di Alquran digambarkan sampai langit tujuh. Nabi itu ketika sebal dan bosen melihat wajah umatnya kan ingin ketemu Jibril dan Allah,” jelas pemuda asal Pati itu.

Ketika nabi bosen dan cepak, lanjut Ibda, beliau kan ingin berjumpa dengan Allah. “Mau ke mana, wahai Nabi, ya mau ketemu Allah lah, wong nek donyo mung ketemu kuwe-kuwe terus ya bosen, Aku. Boleh dong nabi gitu? Wong beliau juga manusia,” katanya. Maka, kita harus berpikir luas. “Jangan dikira Isra’ Mi’raj itu satu kali doang, Isra’ Mi’raj itu ribuan kali. Kalau gak percaya, tanya saja langsung pada nabi Muhammad,” tutur Ibda dengan nada guyon.

Reporter dan Editor: Achmad Hasyim.

0 Response to "Isra' Mi'raj itu Bukan Satu Kali, Tapi Berkali-kali"

Post a Comment