Penciptaan Langit menurut Al-Quran

Al Quran yang diturunkan kurang lebih 15 abad yang lalu menjelaskan secara global proses penciptaan langit. Hal ini mengindikasikan bahwa Al Quran dan sains berjalan seiringan sebab Al Quran turun sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya yang memiliki kebenaran pasti. Penciptaan langit menurut Al-Quran dijelaskan dalam Quran Surat Al Anbiya ayat 30.

Dalam hal ini, Al-Quran tidak menjelaskan kapan langit diciptakan. Penjelasan penciptaan langit menurut Islam yang direpresentasikan dengan memahami ayat-ayat Alquran ini secara eksplisit tidak menjelaskan waktu atau kapan proses penciptaan langit dilakukan. Beberapa ahli tafsir juga mengatakan bahwa mengenai waktu penciptaan langit tidak dijelaskan secara implisit. Kenapa demikian? Sebab manusia dan jin sendiri tidak pernah menyaksikan proses penciptaan langit dan bumi. Dalam sains, penciptaan langit melahirkan berbagai teori-teori yang merupakan hasil pemikiran para filsuf dan ilmuwan dengan teori-teori ilmiah yang melingkupinya. Salah satu teori penciptaan langit yang dikenal pada abad 20 misalnya adalah Teori Big Bang yang kemudian pada abad 21 baru-baru ini Stephen Hawking turut berkontribusi menjelaskan teori penciptaan langit dalam bukunya "Grand Design" yang menurutnya tanpa melibatkan Tuhan.

Seperti diketahui, al-Quran dalam mengungkapkan masalah tidak menguraikan dengan penjelasan dan pembahasan sebagaimana buku atau karya tulis ilmiah yang biasa ditulis dan dibaca manusia. Alquran hanya memberikan informasi global di mana pemahamannya tetap melibatkan fungsi dan kapasitas intelektual manusia. Kapasitas itu bisa dipelajari dalam kajian ulumul quran. Begitu juga dengan orang yang dalam memahami firman dan ayat-ayat Allah terkait dengan penciptaan langit menurut al-quran yang dijelaskan dalam QS. al-Ambiya’ ayat 30, sampai saat ini dimengerti para ilmuwan sebagai ayat suci dalam Islam yang setidaknya menyinggung dan berbicara soal proses penciptaan langit, bumi atau semesta.

Dalam QS Al Anbiya ayat 30 menjelaskan (terjemahan bahasa Indonesia): “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi merupakan dua hal yang dahulunya merupakan suatu yang padu, lantas Kami pisahkan keduanya (baca: langit dan bumi)”. Dalam hal ini, al-Quran tidak menjelaskan secara terperinci proses terjadinya pemisahan antara langit dan bumi. Ayat ini pula yang banyak diindentikkan sebagai ayat yang menyinggung soal proses penciptaan semesta menurut al quran. Sehingga dalam hal ini, penciptaan semesta menurut al quran dan penciptaan langit menurut al-quran bisa dikatakan sebagai satu kajian sama yang tidak dapat dipisahkan.

Menurut teori Big Bang yang dikenal sebagai salah satu teori penciptaan semesta modern menyatakan bahwa semesta terbentuk dari suatu titik dengan massa tertentu yang dalam kondisi tertentu meledak tak terhingga. Ledakan maha dahsyat itu kemudian dengan proses tertentu membentuk gumpalan-gumpalan planet yang dalam tentang waktu miliaran tahun membentuk sistem tata surya yang rapi. Teori ini bisa dikatakan sejalan dengan teori penciptaan semesta menurut al quran sebab dalam QS Al Anbiya dengan sangat jelas menyatakan secara eksplisit bahwa langit dan bumi yang dulunya bersatu padu dipisahkan.

Fisikawan Rusia George Garnow (1904-1968) berpendapat bahwa alam semesta pada mulanya satu kesatuan zat yang padu yang kemudian meledak. Ledakan itu kemudian menciptakan semacam kecepatan luar biasa sehingga benda-benda angkasa saling menjauhi satu sama lain.

1 Response to "Penciptaan Langit menurut Al-Quran"