SMARTA School Semarang Ajarkan Wirausaha



SEMARANG, Islamcendekia.com - Selama ini, banyak pelajar dan mahasiswa selalu berpikir praktis dan instan. Mereka hanya berpandangan bahwa dengan kuliah dan mendapatkan ijazah akan menentukan masa depan.

Namun, dunia berkata beda, di era globalisasi seperti ini mahasiswa tak cukup sekadar bermodal ijazah dan IPK tinggi. Untuk menunjang itu, sebenarnya banyak ide dan cara yang bisa dilakukan mahasiswa. Tergantung motivasi dan kemauan mereka untuk berkreasi dan melakukan sesuatu untuk meretas kemandirian. Salah satu cara tersebut adalah berwirausaha.

Demikian yang disampaikan Dian Marta Wijayanti saat ditemui Islamcendekia.com dalam pelatihan membuat souvenir oleh SMARTA School Semarang. Di beberapa tempat, lanjutnya, banyak mahasiswa dari jurusan dan kampus yang beragam melakukan wirausaha kecil-kecilan. Biasanya mereka membuat kelompok atau sudah terhimpun dalam suatu organisasi. Di sana, mereka berkumpul dalam rangka menekuni suatu bidang tertentu.

Sebenarnya, wirausaha apa pun bisa dilakukan pelajar dan mahasiswa, dari jualan pulsa, baju, buku, sembako, dan sebagainya. Selain berjualan, mereka juga bisa membuat kreasi atau souvenir yang disukai oleh kawula muda, terutama kaum hawa.

Dalam kegiaatan yang diselenggarakan SMARTA School Semarang ini, mereka membeli bahan-bahan dengan harga yang terjangkau dari kantong. Bahannya cukup murah, hanya menghabiskan uang Rp. 50.000, mereka mampu menyulapnya menjadi kreasi yang lucu dan menarik. Bahan-bahan tersebut yaitu kain planel, lilin, korek api, kapas, gunting, jarum, benang, lem, perekat, souvenir tambahan, dan sebagainya. Cara membuatnya pun relatif mudah dan cepat. Yang penting semua bahan-bahan di atas sudah tersedia dan kita pun bisa langsung membuatnya,” jelasnya

Pertama, menyiapkan kain planel dan mengguntingnya sesuai keinginan, bisa bentuk kupu-kupu, dasi, dan sebagainya. Kedua, menyalakan lilin dan menyiapkan lem untuk merekatkan kain yang sudah digunting.
Ketiga, menyulam guntingan kertas tersebut dan memasukkan kapas jika memang perlu. Keempat, memberikan hiasan pada kertas yang sudah disulam dengan asesoris tambahan. Kelima, menempelkan peniti pada bros yang sudah selesai dihias tersebut. Langkah terakhir yaitu memeriksa bros jika kurang kuat jahitannya. Selanjutnya, bros sudah jadi dan siap dijual.

Modal sedikit dan untung banyak. Itulah prinsip dalam ekonomi yang harus dipraktekkan mereka. Bros dan gantungan kunci tersebut biasanya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Namun, karena hasilnya banyak, maka bros tersebut dijual kepada mahasiswa dan masyarakat. Biasanya, hasil kreasi mereka dititipkan di toko-toko baju, asesoris dan dijual di sekolah. Harga bros perbuah beraneka ragam, dari lima ribu hingga puluhan ribu rupiah. Harga tersebut menyesuaikan bentuk bros.

Dengan modal sedikit, namun mereka mampu menghasilkan uang ratusan ribu. Uang Rp. 50.000.,- itu bisa menghasilkan 100 lebih bros cantik. Jika perbuah dijual Rp. 5.000,-, maka laba yang didapatkan adalah Rp. 450.000,-. Sangat luar biasa, hal ini patut dicontoh mahasiswa agar mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang tua.

Dian menambahkan, pemuda haruslah tanggap dalam berbagai hal. Ia harus aktif, kreatif, inovatif, dan mandiri. Maka, mulai sekarang mereka harus berwirausaha. “Jika tak bisa mandiri, ia bukanlah pelajar, melainkan pemuda yang malas dan menjadi benalu,” tambahnya.
Reporter dan Editor: Hamidulloh Ibda.

1 Response to "SMARTA School Semarang Ajarkan Wirausaha"