Astagfirullah, Al Quran Ternyata Bid'ah

Selama ini Al Quran sebagai kitab suci agama Islam masih menjadi sumber utama dalam kehidupan baik hukum, budaya, termasuk ekonomi, dan aspek kehidupan lainnya. Sebagai umat Islam yang baik, kita harus terus mengkaji dan gigih tentang sejarah maupun filosofi yang terkandung dalam Al Quran. Tak heran, jika muncul pertanyaan: apakah Al Quran itu bagian dari bid'ah? Padahal dalam rumus internal Islam, setiap bid'ah adalah sesat, sementara setiap yang sesat adalah tempatnya neraka.

Oleh karena itu, apabila Al Quran dalam formula ilmiah Islamnya terbukti menjadi bagian dari bid'ah, maka setiap orang Islam yang menggunakan Al Quran dan menjadikannya sebagai pedoman hidup, boleh jadi ia dikatakan sebagai orang sesat dan tentu tempatnya di neraka. Jadi, mari kita kaji persoalan ini secara radikal tentang sejarah Al Quran sehingga kita bisa mengatakan apakah Al Quran itu termasuk bid'ah atau tidak. Berikut hasil wawancara dengan Hamidulloh Ibda, Direktur Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah yang saat ini memimpin bagian redaksi di situs Islamcendekia.com.

Menurut Anda, bagaimana konsep bidah dalam Islam, kenapa Al Quran yang ada sekarang ini bisa dikatakan bid'ah?

Bid'ah adalah segala perbuatan yang tidak sesuai dengan perintah Nabi Muhammad, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan. Misalnya membuat pembaruan dalam Islam tanpa berpedoman pada perintah atau anjuran Nabi Muhammad. Dalam ajaran Islam, bidah merupakan bentuk ibadah yang sama sekali tidak diperintahkan oleh Nabi Muhammad. Menurut ulama salaf, hukum dari bidah adalah haram. Ibadah yang dimaksud bukan ibadah dalam arti luas, melainkan dalam konteks ibadah secara sempit, yakni ibadah mahdah. Ibadah mahdah sendiri adalah ibadah dalam Islam yang punya syarat dan rukun.

Jika dihubungkan dengan pengertian ini, berarti Al Quran yang ada saat ini adalah bidah. Kenapa demikian? Pasalnya, Nabi Muhammad tidak pernah menyuruh para sahabat untuk membukukan atau menulis Al Quran di kertas. Padahal, pada fakta sejarahnya membuktikan bahwa Al Quran ditulis dan dibukukan pada masa khalifah Utsman Bin Affan. Ini artinya, bidah besar sudah dilakukan khalifah Utsman. Parahnya, sampai detik ini umat Muslim masih membaca Al Quran yang dibukukan.

Dalam buku Mengungkap Rahasia Al Quran (2007) yang ditulis Allamah M.H Thabathaba'i menyatakan, pada masa awal Islam para khalifah melarang penulisan Al Quran dan hadis. Pada saat itu, semua kertas, pelepah kurma, serta papan yang menuliskan Al Quran dan hadis dibakar. Pelarangan terhadap penulisan Al Quran dan hadis ini diberlakukan hingga akhir abad pertama Hijriah, yakni sekitar 90 tahun. Alasannya adalah banyak munculnya perawi palsu dalam penulisan tersebut. Hal ini berakibat ayat-ayat tidak sesuai aslinya. Hal demikian justru bertentangan dengan orisinalitas Al Quran dan hadis, bahkan asbabun nuzulnya tidak jelas dan banyak rekayasa yang berisi kedustaan atas nama Nabi Muhammad Saw. Pembukuan Al Quran yang masih sampai saat inilah yang menjadi Al Quran dikatakan sebagai bidah.

Kedua, Nabi Muhammad tidak pernah membaca Al Quran 30 juz dalam satu mushaf. Pasalnya, Nabi Muhammad adalah ummiyun yang berarti tidak bisa membaca atau menulis, tetapi hanya bisa menghafal Al Quran. Jadi, membaca Al Quran menggunakan kertas atau mushaf dalam perspektif ini adalah bidah besar-besaran.

Ketiga, tulisan Al Quran saat ini banyak tercampuri dengan bahasa-bahasa lain, misalnya terjemahan bahasa Indonesia. Padahal, Al Quran pada masa Nabi tidak berharakat, tidak bersyakal, dan tidak dicampuri dengna bahasa atau tafsir bahasa lain. Hal ini justru dalam perspektif ulumul Quran mengurangi substansi dari ayat tersebut dan jelas mengacaukan kemurnian Al Quran.

Keempat, Al Quran itu dogmatis sehingga harus diterima apa adanya sehingga tidak boleh direkayasa oleh peradaban manusia, misalnya percetakan. Saat ini, banyak sekali Al Quran yang tidak murni sebagaimana zaman Nabi, misalnya saja pemberian logo perusahaan percetakan, kata pengantar, penerbit, dan berbagai macam asesoris tulisan hasil dari produk budaya manusia. Ini jelas, bagian dari bidah besar-besaran.

Kelima, Al QUran yang sekarang ada tidak seperti surat-surat dan ayat-ayat Al Quran yang terhimpun sesuai dengan kronologi atau urutan turunnya Al Quran yang disampaikan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw, baik surat Makiyyah maupun surat Madaniyah. Surat yang ada sekarang dimulai dari surat Al Fatihah sampai surat An Nas, sedangkan dalam sejarah penurunan Al Quran, surat pertama kali adalah Al Alaq dan yang terakhir adalah Al Maidah (menurut pendapat umum).

Jadi, Al Quran dalam perspektif di atas jelas-jelas merupakan bid'ah, astagfirullah. Padahal, meskipun tidak dibukukan, Al Quran dijaga Allah Swt seperti penjelasan di surat Al-Hjr ayat 9 yaitu “Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun" yang artinya "sesungguhnya kami yang menurunkan Al Quran dan kami lah yang menjaganya".

Meskipun demikian, secara terpisah, peneliti Center for Domocracy and Islamic Studies (CDIS) Semarang, Lismanto, mengatakan, bid'ah itu ada konteksnya, tidak bisa dimaknai secara literal-skriptural. Dalam hal ini, Lismanto berpendapat bahwa apabila Al Quran sekarang ini dikatakan sebagai sebagai bid'ah dalam hal tekstual, maka sesungguhnya bid'ah-nya Al Quran adalah bid'ah yang nikmat.

Pewarta: Ahmad Hasyim dan Mafatikhul Habibi
Foto: Islamcendekia.com Images

3 Responses to "Astagfirullah, Al Quran Ternyata Bid'ah"

  1. Islam cendekia menurut gw berita yg sesat judul2nya sesat pembahasanny jg sesat
    Dan knp lisanto doank knp tdk pndapat org yg lebih berilmu
    Tidak percaya semua berita di sini "SESAT!"

    ReplyDelete
  2. Dangkal sekali
    Trus kita kudu nunggu jibril dateng Biar bs hapal ayat ayat Quran
    Udah ada kitabnya aja masih ga apal2 gimana mau apal
    Cetek lau lah

    ReplyDelete
  3. Warbasyah
    Pemilik alquran adalah orang yg merasa dirinta Tuhan.

    ReplyDelete