IAIN Walisongo Semarang Dikatakan Gudang Islam Liberal


SEMARANG, Islamcendekia.comMunculnya foto beberapa mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Walisongo Semarang tak lama ini yang berada di gereja menggemparkan jagad media sosial. Foto itu secara bebas diunggah beberapa orang, baik dari mahasiswa IAIN Walisongo Semarang sendiri maupun dari kampus lain.

Pro dan kontra pun bermunculan. Ada yang mengatakan IAIN Walisongo itu gudang pemikir liberal, gudang setan dan rata-rata mereka “mengutuk keras” kejadian tersebut. Ada pula yang mengatakan bahwa itu merupakan wujud toleransi dan pluralisme beragama.

Menanggapi hal itu, Muharom Alrosyid, lulusan FITK IAIN Walisongo Semarang menyatakan bahwa sebagai masyarakat awan harus menelisik lebih dalam tentang foto itu. “Jika dilihat secara kasat mata, tentu akan terlihat aneh dan unik. Bahkan mereka yang di foto itu bisa dianggap kafir dan murtad, tidak sekadar liberal,” tuturnya saat ditemui Islamcendekia.com, Rabu (4/6/2014).

Menurut mantan Ketua Umum BPL HMI Cabang Semarang itu, kegiatan mahasiswa IAIN Walisongo di gereja itu bergantung sudut pandangnya. “Kalau dikatakan gudang pemikir Islam liberal, IAIN memang gudangnya, dan hal itu tidak hanya di IAIN Walisongo saja, namun rata-rata kampus seperti IAIN, UIN dan STAIN memang demikian,” ujarnya.

Kegiatan mahasiswa IAIN Walisongo di gereja tak lama ini menurut Rosyid mengandung dua hal, yaitu sisi positif dan negatis. Positifnya, masyarakat agar tahu makna toleransi beragama, bahwa beragam itu harus rukun dibuktikan dengan gerakan nyata bukan teori. “Sedangkan negatifnya, bagi masyarakat awam apalagi tidak pernah masuk dunia IAIN pasti mengutuk, mengafir-ngafirkan mereka,” jelasnya.

Oleh karena itu, Rosyid menganjurkan bagi masyarakat awam agar tidak menelan mentah-mentah berita dan kabar disertai foto mahasiswa IAIN Walisongo itu yang beredar ramai di jagad media sosial. Di sisi lain, Hamidulloh Ibda yang juga lulusan IAIN Walisongo juga angkat bicara. Menurutnya, hal itu bisa juga dimaknai sebagai sensasi mahasiswa agar dilirik banyak orang. Namun menurutnya, sebenarnya letak kafir atau sirik itu tidak bisa hanya diukur dari kasat mata saja. “Letak sirik, itu kan tidak bisa diukur dari perbuatan saja, namun yang utama adalah hati. Seperti contoh orang membakar kemenyan, apakah itu sirik? Kalau kita tidak tahu dan tanya pada yang bakar menyan, apa kita langsung menuduhnya sirik? Jadi jangan tertipu oleh bungkus,” jelasnya.

Ibda yang juga menyatakan bahwa selama ini kita tidak tahan dan kuat hati ketika melihat orang lain tidak sama dengan kita. “Maka, dengan kejadian itu, kita harus memperluas hati kita, sehingga kita tidak mudah mengafir-ngafirkan orang lain. Kita belum tanya pelaku kok sudah mengklaim kalau itu murtad, kafir, liberal. Itu kan aneh namanya,” paparnya.

Ya terserah lah, lanjut Dia, orang menilai itu kan bergantung point of view dan angle yang digunakan. “Semua punya dasar, landasan dan tujuan, jadi tak usah terlalu dipikirkan lah. Justru Allah lebih tahu daripada kita.  Allah kan maha tahu tentang apa yang kita tidak dan belum tahu. Semoga kita termasuk golongan orang beriman dan selamat. Tuhan tak pernah tidur,” pungkasnya.

Reporter dan Editor: Achmad Hasyim

0 Response to "IAIN Walisongo Semarang Dikatakan Gudang Islam Liberal"

Post a Comment