Islam, Cinta dan Perdamaian: Pemikiran Djohan Effendi

Djohan Effendi Sang Pelintas Batas
Beberapa tahun yang lalu, penggagas Islamcendekia.com Lismanto saat masih menjadi pemimpin redaksi Jurnal Pemikiran Keagamaan dan Kebudayaan Justisia IAIN Walisongo, ia mencoba meneliti soal argumen-argumen kedamaian dalam Islam. Atas rekomendasi Dr. Sumanto Al Qurtuby, Ph.D (dosen tamu di Notre Dam University, Indiana, Amerika Serikat), Lismanto disarankan untuk menggali sepak terjang Djohan Effendi dalam mengkampanyekan Islam yang damai. Melalui rekomendasi tersebut, Lismanto mencoba menghubungi Djohan Effendi melalui surat elektronik.

Saat dikonfirmasi, ternyata Djohan Effendi tidak lagi tinggal di Indonesia, tetapi di Australia. "Saat itu saya ingin bertemu Djohan Effendi di Jakarta untuk kepentingan wawancara soal Islam dan Teologi Perdamaian, tema Jurnal Justisia yang akan saya angkat. Sayangnya, Pak Djohan Effendi sudah tinggal di Australia. Akhirnya Beliau mengirimkan beberapa karya bukunya kepada saya melalui stafnya di Indonesian COnference on Religion and Peace (ICRP) yang saat ini diketuai Ibu Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, MA," tutur Lismanto kepada reporter Islamcendekia.com di kediamannya, Semarang, Jumat (27/6).

Untuk mengenal pemikiran keagamaan Djohan Effendi mengenai Islam dan perdamaian, Islamcendekia.com akan mengulas beberapa kiprah dan pemikiran Djohan Effendi mengenai Islam dan perdamaian. Menurut Azyumardi Azra, Djohan Effendi merupakan tokoh yang penting dalam upaya pengembangan kehidupan keagamaan yang lebih dialogis, toleran, dan harmonis di zaman Indonesia meodern ini. Menurut Azyumardi, kehidupan dna pemikiran keagamaan Djohan Effendi menjadi kebutuhan yang harus diperjuangkan tidak hanya untuk umat beragama, tetapi juga untuk kepentingan keberlanjutan Indonesia sebagai negara-bangsa (nation state) yang serba majemuk.

Lismanto sendiri menilai, keberadaan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang didirikan Djohan Effendi sudah cukup mewakili betapa Djohan Effendi merupakan salah seorang yang punya komitmen untuk memperjuangkan nilai-nilai perdamaian dalam Islam. Lebih dari itu, boleh jadi perjuangan Djohan Effendi mengawal Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) bukan sekadar memperjuangkan nilai-nilai perdamaian dalam Islam, tetapi juga nilai-nilai perdamaian lintas agama. "Ketokohan Pak Djohan harus ada yang melanjutkan demi keberlanjutan kerukunan umat beragama di Indonesia sebagai bangsa yang serba plural dari berbagai hal," ujar Lismanto.

Ahmad Gaus AF, penulis buku Sang Pelintas Batas: Biografi Djohan Effendi (2009) menuliskan, bukti rasa cinta seorang hamba kepada Tuhan adalah usaha untuk meningkatkan kualitas kehidupan sesama makhluk tanpa sekat dan pembatas mengingat Tuhan merupakan sumber kehidupan yang tiada batas. Berlandaskan kerangka pikir sufisme ini yang membentuk sikap pluralisme-toleran Djohan Effendi. Djohan Effendi berpendapat, alam semesta adalah anugerah dari Tuhan Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Wujud. Oleh karena itu, menjaga dan melestarikan alam semesta menjadi bukti kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya. Apabila proses penciptaan terus berlangsung sebagai karya Tuhan yang Maha Pencipta, maka usaha dan upaya membangun lingkungan hidup yang lebih baik menjadi bukti kecintaan seorang hamba kepada Tuhan.

Lebih lanjut, Djohan Effendi meyakini bahwa jika hidup dan alam semesta yang berasal dari Tuhan Sang Maha Pemberi Anugerah diberikan untuk semuanya, maka usaha menghilangkan pikiran dan sikap sempit, sekat-sekat yang memisahkan manusia dan manusia lainnya adlaah bukti kecintaan kita kepada Tuhan. Segala usaha untuk mengembangkan kehidupan di dunia ini, individual, sosial maupun lingkungan (environmental), memiliki dimensi spiritualitas seluruh kegiatan hidup manusia tanpa fragmentasi dan departementalisasi antara apa yang sering disebut sebagai sakral dan profan.

Dari landasan spiritual-relijius tersebut, Djohan Effendi memimpikan sebuah dunia yang tanpa sekat bernama kotak-kotak agama. Pemikiran semacam ini bukan berarti Djohan Effendi adalah orang yang menafikan agama, tetapi ia lebih senang jika agama itu sendiri tidak ada sekat atau pembatas satu sama lain. Dalam hal ini, Djohan Effendi kemudian mengemukakan teologi cinta di mana teologi cinta ini tidak dimaksudkan untuk melebur agama-agama di dunia menjadi satu, melainkan sebagai landasan teologis untuk mendekatkan para pemeluk agama dalam satu kesadaran bahwa mereka adalah umat yang satu sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran bahwa sudah sepatutnya umat manusia saling mencintai. Hal ini yang lantas menginspirasi Djohan Effendi bahwa sesungguhnya agama-agama, termasuk Islam punya ajaran yang serupa, yaitu cinta dan perdamaian.

Menurut Djohan Effendi, setiap umat Muslim harusnya selalu membaca kalimat Ummul Kitab yang tak lain adalah bacaan Basmallah yang substansinya adalah sifat rahmaniyah dan rahimiyah (kasih dan sayang) Allah. Sifat inilah yang menurut Djohan Effendi harus ditangkap umat Muslim sebagai isyarat supaya aktualisasi hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam lingkungannya yang dilandasi oleh semangat cinta. Semangat cinta inilah yang menjadi basis perdamaian bagi umat manusia.

Djohan Effendi juga berpandangan bahwa semua agama adalah anugerah dari Tuhan. Konsep dan gagasan ini merupakan keberlanjutan dari pemikiran keagamaan Djohan Effendi mengenai teologi kerukunan. Konsep ini muncul saat Djohan Effendi dimintai Kwik Kian Gie untuk memberikan kuliah agama-agama di Institut Bisnis Indonesia (IBI). Saat itu, pemerintah menentukan bahwa setiap perguruan tinggi mengharuskan adanya kuliah agama. Momentum ini dimanfaatkan Kwik Kian Gie untuk mencari dosen agama yang sesuai keinginannya, yaitu tidak ingin kuliah agama diberikan terpisah untuk masing-masing agama. Dari keinginan tersebut, Kwik Kian Gie memilih Djohan Effendi sebagai dosen agama di IBI.

Pada semester awal, Djohan Effendi menyusun materi sendiri yang kemudian ia isi dengan materi kuliah Fenomenologi Agama. Sebetulnya Djohan Effendi ingin memberikan mata kuliah Filsafat Agama, tetapi mengingat kuliah yang diberikan untuk mahasiswa semester awal, maka Djohan Effendi memutuskan untuk mengajar kuliah agama sebatas pada fenomena agama. Selanjutnya, Djohan Effendi mengajar kuliah Filsafat Agama pada mahasiswa semester kedua. Pada kesempatan ini, Djohan Effendi mengajak mahasiswa untuk memahami "ultimate goal", yaitu tujuan atau puncak dari masing-masing agama dan bagaimana ajaran agama-agama mencapai tujuan atau puncak itu.

Menurut Djohan Effendi, setiap penganut agama harus membuka diri untuk menyimak nilai-nilai luhur yang terdapat dari berbagai agama dan keyakinan. Namun, upaya Djohan Effendi untuk memberikan kuliah agama yang sifatnya lintas iman tersebut kabarnya tidak lagi dilanjutkan. Sistem perguruan tinggi sendiri diganti dengan kuliah agama yang terpilah-pilah sesuai agama masing-masing atau sendiri-sendiri. Para mahasiswa tidak lagi diajak untuk mengenal tradisi dan kearifan masing-masing agama dari saudara-saudaranya, tetapi masing-masing sibuk membangun "rumah" sendiri.

Senada dengan Djohan Effendi, Lismanto sendiri memiliki gagasan keagamaan dengan apa yang ia sebut "Teologi Islam Damai" sebagaimana ia jadikan judul dalam artikel riset di jurnal justisia. Lismanto berpendapat dalam sebuah quote yang ia tulis di jurnal tersebut, ia menuliskan: "Inti daripada segala inti agama adalah perdamaian, dan puncak dari beragama adalah kemanusiaan." Ia menyatakan, ketika suatu agama itu diperas hingga sari paling akhir, maka kita akan menemui substansi yang bernama "cinta dan perdamaian". Lismanto menyatakan bahwa teologi perdamaian dalam Islam bisa dijumpai pada lafazh-lafazh sederhana dalam Islam, misalnya Basmallah sebagaiman disinggung Djohan Effendi, ucapakan salam "Assalamualaikum Wr Wb" yang isinya komitmen untuk menjaga kesejahteraan kepada segenap alam, terutama kepada manusia lain, serta kata Islam sendiri yang berarti keselamatan, kesejahteraan, dan kedamaian. "Maka siapa pun yang tidak menjaga keselamatan, kesejahteraan, dan kedamaian, minimal di lingkungan sekitarnya, maka ia bisa dikatakan bukan orang Islam sebab ia melanggar substansi daripada agama Islam sendiri," ujarnya.

Penulis: Mafathikul Habibi
Foto/ilustrasi: Islamcendekia.com Images

0 Response to "Islam, Cinta dan Perdamaian: Pemikiran Djohan Effendi"

Post a Comment