Lokalisasi Sunan Kuning Semarang Saat Ramadan Tak Perlu Ditutup

SEMARANG, ISLAMCENDEKIA.COM - Lokalisasi Sunan Kuning (SK) Argorejo, Semarang, saat Ramadan 2014 nanti sebenarnya tak perlu ditutup. Hal itu justru menunjukkan bahwa umat Islam tak mampu menjaga nafsunya. Pasalnya, mau berada di mana pun, jika iman seorang muslim kuat, ia tak perlu mengusik kehidupan orang di sekelilingnya.

Apalagi, orang Islam itu kan tugasnya menciptakan kegembiraan dan kebahagiaan semua orang di lingkup wilayahnya. Jika tidak menjamin keselamatan nyawa, harta dan martabat semua orang di lingkup wilayahnya, maka mereka belum memenuhi prinsip rahmatal lilalamin. Demikian, salah satu pembuka diskusi Ramadan dan Prostitusi yang digelar di kantor Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah pada Selasa 17 Juni 2014.


"Para PSK, itu punya anak dan keluarga, jika lokalisasi ditutup, lalu mau makan apa mereka? Ini sangat polemik dan harus dicari solusinya," tutur Mafatikhul Habibi salah satu peserta diskusi. Menutup lokalisasi, menurut Habibi adalah menambah masalah. "Kalau mau ditutup ya selamanya, jangan hanya momentum Ramadan saja. Ini justru khianat pada hakikat nilai dan kenyataan," ujarnya.


Saat Ramadan, seperti tahun-tahun lalu, jalanan dan rumah-rumah peristirahatan di Kalibanteng Kulon Kecamatan Semarang barat itu sepi tidak ada pengunjung karena ditutup dan dilarang beroperasi. "Bagi Saya, warung-warung makan juga tak perlu ditutup termasuk lokalisasi. Daripada menutup sementara, mending ditutup selamanya. Agar PSK itu juga mendapat kehidupan layak. Mereka juga manusia seperti kita," tutur Hamidulloh Ibda, Direktur Eksekutif Formaci Jateng.


Menurutnya, saat Ramadan tidak semua orang berpuasa. "Ini kalau warung-warung makan juga ditutup, pasti menimbulkan bahaya. Lalu mereka makan apa? Seumpama adik kita mens, saudara kita perjalanan jauh atau sedang menggarap proyek. Kan harus tetap dibuka warung makan itu," jelas Dia.


Kalau lokalisasi SK ditutup saat Ramadan, lanjut Ibda, hal itu juga harus diberi solusi. Pemerintah tak boleh asal menutup dan melarang lokalisasi buka. "Kalau pemerintah menutupnya, seharusnya juga dicarikan solusi. Kan mereka yang membuat lokalisasi itu. Tujuannya agar PSK di Semarang tidak tercecer di jalanan. Maka dibuatkanlah SK. Kalau pas Ramadan kok ditutup ya lucu. Berarti, pemerintah yang membuka dan memberi izin SK dibuka, begitu pula pemerintah yang menutupnya sendiri," ujarnya.

 Senada dengan itu, Nailul Mukorobin juga mengharap agar polemik lokalisasi Sunan Kuning Semarang dicarikan solusi. "Pemerintah tak boleh asal menutup, karena masalah prostitusi ini bukan hanya masalah hukum, tapi juga masalah psikologi, ekonomi, sosial, politik dan budaya. Jadi, tak boleh pemerintah menuntaskan dan menutup lokalisasi SK seenaknya sendiri," ujarnya.

Puasa itu kan momentum menahan, lanjut Dia, kalau SK dibuka, itu godaan lebih berat dan pahala lebih besar. "Tapi kalau ditutup, godaan semakin kecil, maka pahala juga semakin kecil," tuturnya. Maka, puasa ya puasa, yang berpuasa silahkan berpuasa. "Bagi yang mau melampiaskan nafsunya di lokalisasi, ya silahkan. Asal jangan mengganggu orang ibadah. Kalau lokalisasi Sunan Kuning ditutup, jika para PSK malah berkeliaran ke kampung-kampung, siapa yang mau bertanggung jawab?" katanya.

Reporter dan Editor: Achmad Hasyim.

0 Response to "Lokalisasi Sunan Kuning Semarang Saat Ramadan Tak Perlu Ditutup"

Post a Comment