Makalah Islam dan Pluralisme Agama

I. PENDAHULUAN
Pluralisme tidak bisa dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita mejemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru hanya menggambarkan kesan fragmentasi, bukan pluralisme. Pluralisme juga tidak boleh dipahami sekadar sebagai “kebaikan negatif”, hanya hanya ditilik dari kegunaannya untuk menyingkirkan fanatisme, pluralisme harus dipahami sebagai petalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaan, bahkan pluralisme adalah suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia, antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan yang dihasilkannya. Dalam kitab suci disebutkan bahwa Allah menciptakan mekanisme pengawasan dan pengimbangan antara sesama manusia untuk memelihara keutuhan bumi dan menciptakan salah satu wujud kemurahan yang melimpahkan kepada umat manusia.

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin harus membuka diri dengan agama-agama lain, tidak menganggap diri sebagai agama paling benar dibanding agama-agama lain, karena semua agama sama yaitu dengan tujuan utamanya adalah tuhan, namun bagimana sikap Islam di tengah-tengah berbagai agama? Dalam makalah ini akan dipaparkan tentang pandangan Islam terhadap pluralisme agama.

II. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu pluralisme?
2. Bagaimana penyikapi agama lain?
3. Bagaimana pandangan berbagai golongan muslim tentang pluralisme?
4. Bagaimana kesadaran akan pluralisme agama?

III. PEMBAHASAN

Pengertian pluralisme
Secara harfiah plurarilisme berarti jamak, beberapa, berbagai hal, atau banyak. Oleh sebab itu sesuatu yang dikatakan plural senantiasa terdiri dari banyak hal, beberapa jenis, berbagai sudut pandang serta latar belakang.

Secara khusus dalam hal agama, berbagai masyarakat yang menganut agama/ kepercayaan berbeda-beda,  dengan gambaran seperti itu, dapat dikatakan bahwa pluralisme agama bukanlah kenyataan yang mengharuskan orang untuk saling menjatuhkan, saling merendahkan, atau mencampuradukkan antara agama yang satu dengan yang lain, tetapi justru mempertahankannya pada posisi saling menghormati dan bekerjasama. Kita dapat belajar kekayaan spiritual serta nilai-nilai, makna dari agama lain untuk memperkaya pengalaman iman kita, bukan belajar untuk mencari kekurangan dan kelemahan agama lain untuk bias memojokkan, atau menganggap enteng, atau menganggap bahwa agama yang lain tadi benar dan agama kita sendirilah yang paling benar. Dengan demikian, pluralisme adalah kekayaan bersama. 

Menyikapi agama lain; pluralisme dalam Al Qur'an
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ ﴿111﴾ بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿112﴾ وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَى عَلَى شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَى لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ﴿113﴾
“Dan mereka berkata: "Sekali-kali tak akan masuk surga, kecuali manusia-manusia Yahudi atau Nasrani". Demikian itu adalah angan mereka yang kosong semata. Katakanlah: "Tunjukkan bukti kebenaranmu apabila kamu orang benar".

Bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak  mereka bersedih hati.

Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka  membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.” (QS. Al-Baqarah: 111-113).

Sudah saatnya bagi para da'i Islam untuk mengetahui bahwa mereka tidak dituntut untuk mengislamkan orang-orang yang beragama selain Islam, mereka tidak berhak mengklaim bahwa selain orang Islam akan masuk neraka, karena kunci-kunci surga bukan di tangan mereka. Para da'i hanya bertugas memperkenalkan Islam kepada mereka, urusan konversi agama tidak hanya menyangkut iman dan teori, ini henya menyangkut hubungan sosial dan konsekwensi-konsekwensi selanjutnya, hidayah hanya dating dari Allah, bukan dari seorang rasul.

Seperti halnya Gamal Al-Bana yang berubah dari seeorang eksklusif menjadi seorang pluralis, secara seederhana umat beragama yang eksklusif berpendapat bahwa hanya pemeluk agamanya saja yang selamat dan masuk surga.  Bertentangan dengan itu, kaum pluralis, mereka berkeyakinan bahwa semua pemeluk agama yang mempunyai peluang yang sama untuk memperoleh keselamatan dan masuk surga, semua agama benar berdasarkan criteria masing-masing, Each one is vaud within its particular culture, mereka percaya rahmat Allah itu luas, “Al-Khalqu ‘iyali”, firman tuhan dalam hadits qudsi; semua makhluk itu keluarga besar tuhan, mereka tidak mengerti mengapa ada manusia yang berani membatasi kasih saying tuhan, mereka heran mengapa ada orang yang benari mengambil alih wewenang tuhan.

Ayat-ayat pluralisme
Apakah orang-orang kafir (nonmuslim) menerima pahala amal salehnya? Benar, menurut al-Abaqarah: 62, yang diulang dengan redaksi yang berbeda pada al-Maidah: 69 dan al-Hajj: 17, yaitu: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Shobiin,  siapa pun di antara mereka yang beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka menerima pahala dari tuhan, tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan mereka (juga) tak bersedih hati.”

Sayyid Husseyn Fadhullah dalam tafsirnya menjelaskan makna ayat ini sangat jelas, ayat ini menegaskan bahwa keselamatan pada hari akhirat dicapai oleh semua kelompok agama ini yang berbeda-beda dalam pemikiran dan pandangan agamanya berkenaan dengan aqidah dan kehidupan dengan satu syarat; ememenuhi kaidah iman kepada Allah, hari akhir dan amal shaleh. Ayat-ayat ini menegaskan bahwa semua kelompok agama akan selamat selama mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal shaleh.

Mengapa harus ada berbagai agama
Kalau semua agama itu valid, kenapa tuhan repot-repot membuat agama ygbermacam-macam,, kenapa Allah tidak menjadikan semua agama itu satu saja? Apa tujuan penciptaan berbagai agama itu? Al-Qur'an menjawab dengan indah: "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan-aturan dan jalan yang terang (syirbatan wa minhajan), sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu dijadikan satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberiannya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan (fastabiqu al khoyrat), hanya kepada Allah kembali kamu semuanya (ila Allahi marji’ukum jami’a) lalu diberitahukannya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS. Al-Maidah: 48).

Dari ayat ini dapat ditangkap beberapa hal:
a. Agama itu berbeda-beda dari segi aturan hidupnya (syariat) dan pandangan hidupnya (akidah), karena itu pluralisme sama sekali tidak berarti semua agama itu sama, perbedaan sudah menjadi kenyataan.
b. Tuhan tidak menghendaki kamu semua menganut agama yang tunggal, keragaman agama itu dimaksudkan untuk menguji kita semua.
c. Semua agama itu kembali kepada Allah, adalah tugas dan wewenang tuhan untuk menyelesaikan perbedaan diantara berbagai agama.

Pandangan Golongan Muslim Tentang Pluralisme
1) Pandangan kaum sufi terhadap pluralisme
Jalaluddin Rumi berkata: “Lampu-lampu adalah berbeda, namun cahaya adalah sama”. Namun ini juga ditegaskan oleh Al-Qur'an: “Sesungguhnya kami turunkan taurat yang didalamnya ada petunjuk dan cahaya.” (QS. Al-Maidah: 44, 46).

Namun kesimpulan yang dicapai dalam Al-Qur'an berakibat demikian, karenanya, semua agama ini memiliki cahaya ilahi yang menjadikannya tidak berbeda mana yang kita ikuti, ini bukanlah seolah-olah kita dihadirkan dengan lampu-lampu berbeda, dari yang harus kita pilih sesuai selera, latar belakang dan kualitas pengalaman pribadi kita, agaknya tuhan mengajukan lampu-lampu kepada manusia. Dalam suksesi dan adalah tanggung jawab kita untuk mengikuti apa yang telah dikaruniakan Allah kepada kita di zaman sekarang.

Para sufi telah berusaha menguraikan fakta bahwa ada sejumlah perbedaan dalam agama-agama yang telah ditetapkan tuhan dengan perbedaan makna antara makna lahiriah dan makna batiniahdari agama-agama, perbedaan agama tadi terletak pada aspek lahiriahnya. Sementara aspek batiniahnya sama, bagaimanapun, mayoritas besar kaum sufi telah membenarkan tugas itu untuk memeluk ajaran Islam dengan slogan: Tiada Thaoriqah (tarekat) tanpa syari’ah, tidak ada jalan menuju makna batiniah, tanpa melalui aspek lahiriahnya.

Akan tetapi, fakta bahwa kebenaran tuhan menemukan ekspresi secara berbeda, bahkan mempertentangkan agama-agama, tidak berarti bahwa manusia bebas memilih agama apapun sesuai dengan selera mereka, ketika Ibnu Arabi ditanya penguasa muslim, bagaimana memperlakukan orang Kristen? Beliau menjawab bahwa mereka harus diperlakukan persis sebagaimana hukum islam, ia mengatakan; wajib bagi masyarakat zaman sekarang untuk mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. dalam makna ini semua agama yang diturunkan sebelumnya menjadi tidak sah (batil) dengan diturunkannya Al-Qur'an, bukan karena agama tersebut salah, timpalnya ini pendapat orang tolol.

Namun bahwa ia menajdi mengikuti syariat Islam spesifik ketimbang agama yang diturunkan sebelumnya. Bukan berarti karena agama tersebut tidak bernilai, tetapi karena apapun yang dibutuhkan dari mereka telah diwadahi dalam wahyu terakhir.

Pandangan kaum filosof terhadap pluralisme
Menurut Al-Farabi, yang sampai tingkat tertentu pandangannya diterima oleh Ibnu Sina, semua agama mengekspresikan satu kebenaran filosofis dalam symbol-simbol yang berbeda san symbol-simbol ini bertindak sebagai pengatur tatanan masyarakat dan mengantarkan manusia menuju kebahagiaan, selain itu, setiap agama besar mengandung –dalam korpus wahyunya- kilasan memadahi dari kebenaran murni untuk membawa para pencari kebenaran terpilih memburu kebenaran itu sendiri dan mampu secara alegoris menafsirkan symbol-simbol selebihnya.

Al-Farabi berpendapat, muatan dan latarbelakang spiritual dari agama adalah identik, karena ia bersifat universal, namun ia sama-sama benar, dimana semua symbol yang digunakan oleh agama tidak berada pada arah yang sama, pasalnya, agama-agama tersebut lebih mendekati kebenaran ketimbang yang lainnya, sebagian lebih banyak ketimbang yang lain dalam membawa manusia kepada kebenaran yang lebih tginggi ; sebagian lebih efektif dari yang lain dalam meraih keyakinan orang dan menjadi daya direktif dalam kehidupan mereka.

Pandangan kaum teolog terhadap pluralisme
Secara umum, para teolog syi’ah sepakat bahwa ancaman siksaan tidak berlaku kepada orang yang kurang memiliki keyakinan ygbenar, seperti anak-anak yang belum mencapai usia akil baligh, gila dan terbelakang mental dibebaskan dari ancaman siksa karena keyakinan mereka yang keliru. Namun, Syahid Murtadha Mutahhari berpendapat bahwa keselamatan bukan suatu masalah keputusan sewenang-wenang oleh Allah, merupakan hasil alami dari kehidupan seseorang, dengan demikian Islam masmuk dalam berbagai tingkatan dari hasrat fitrah akan kebenaran dan kebaikan yang ditemukan setidaknya secara laten dalam diri semua manusia hingga keimanan dan kemuliaan para kekasih Allah, awliya, tak seseorang pun dikecualikan dari surga karena mereka lalai untuk tunduk pada keimanan yang benar, namun sebagian keyakinan yang keliru bisa mencegah seseorang dari penyucian diri sendiri secara efektif, dan dengan demikian, secara tidak langsung  mengarah kepada kesengsaraan, karena ituda Islam kita menemukan alas an akan kebahagiaan, sementara pada saat yang sama tidak ada kebutuhan eksklusifme yang rijid berdasarkan keyakinan.

Kesadaran Pluralisme Agama
Kesadaran pluralisme agama adalah suatu keniscayaan bagi masyarakat, pengingkaran terhadap adanya pluralisme agama merupakan penolakan atas kebenaran, sejaran, dan cita-cita berbangsa dan bernegara, pluralisme menciptakan sikap-sikap moderat bagi individu dan masyarakat bahwa mereka adalah satu, dalam kerangka ini maka terwujudlah iklim beragama yang sejuk, damai dan saling menghargai sesame umat. 

IV. KESIMPULAN
Pluralisme beragama sangat diperlukan, agar tidak ada klaim pembenaran masing-masing agama dan tidak adanya konflik antar agama. Sebenaranya semua agama itu sama, sama-sama mepercayai tuhan yang satu, adanya berbagai agam dikarenakan untuk menguji umat manusia, bagaimana kontribusinya terhadap agama lain, dan keberagaman agama memang suatu kenyataan yang tidak bias dipungkiri, namun intinya semua agama itu kembali kepada Allah, adalah tugas dan wewenang tuhan untuk menyelesaikan perbedaan di antara berbagai agama.

Berbagai pandangan tentang pluralisme pun bermunculan, seperti pandangan kaum sufi yang menyatakan bahwa mereka tidak setuju akan pluralisme, mereka berpendapat bahwa Islamlah agama yang benar, walaupun tadinya tidak mengklaim agama lain salah, pendapat mereka bahwa agama sebelum Islam tadinya memang benar namun setelah Al-Qur'an turun, maka syariat Islamlah yang mewadahi semua syariat agama sebelumnya, untuk pendapat yang selanjutnya dari kaum filosof bahwa keyakinanlah yang menjadikan mereka bias dekat dengan tuhannya. Pada pandangan yang ketiga yaitu dari kaum teolog, bahwa keyakinan yang benar adalah membawa pada kebahagiaan yang pendapat ini hamper sama dengan kaum filosof, dan yang terpenting dari semua adalah kesadaran akan pluralisme agama,supaya terwujud iklim beragama yang sejuk, damnai, dan saling menghargai sesame umat.

V. PENUTUP
Demikianlah makalah ini dibuat, tentunya makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan, maka kritik dan saran yang membangun yang sangat diharapkan untuk memperbaiki makalah selanjutnya. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, dalam memahami pandangan Islam terhadap pluralisme. Amiiin.

DAFTAR PUSTAKA
Husin al-Munawar, Said Agil, Fikih Hubungan Antar Agama, Jakarta: Ciputat Press, 2005.
Lengenhausen, Muhammad, Satu Agama atau Banyak Agama: Kajian Tentang Liberalisme & Pluralisme Agama, Jakarta: Lentera, 1999.
Rahmat, Jalaluddin, Islam Dan Pluralisme, Jakarta: Serambi, 2006.
Sumartono, Pluralisme, Konflik Dan Perdamaian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

Penulis makalah: Ida Pitaloka Sari, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Islam IAIN Walisongo

0 Response to "Makalah Islam dan Pluralisme Agama"

Post a Comment