Orang Pelit Menurut Islam

Oleh: Tri Wardana Prabawanagara, Alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung

Subhanallah maha suci Allah yang tiada lagi bandingannya yang telah menciptakan makhluk di muka bumi ini dengan jumlah yang sangat besar tanpa ada satu pun diantara makhluknya yang seratus persen mempunyai kesamaan. Dalam kehidupan ini sudah dipastikan bahwa kita tidak mungkin dapat menghindar dari hubungan anatar manusia baik secara individu maupun kelompok (hablumminannas) atau yang sering kita sebut sebagai hubungan sosial. Rasa saling membutuhkan sudah menjadi titik utama dalam berhubungan sosial, karena mustahil seorang manusia tidak membutuhkan manusia lain dalam hidupnya.

Ratusan, ribuan bahkan jutaan orang yang telah kita temui semuanya memiliki keragaman sifat yang berbeda-beda. Ada salah satu dari sekian banyaknya sifat yang harus kita jauhi dalam menjalin hubungan dengan orang lain adalah sifat pelit (bakhil), tidak mau menolong orang lain sedangkan ia mampu. Sifat pelit adalah sebuah penyakit hati yang bisa menanamkan rasa dengki dan iri hati dalam jiwa orang-orang fakir miskin. Hal tersebut dapat menimbulkan malapetaka bagi masyarkat disekitarnya.

Sifat pelit muncul karena adanya anggapan bahwa kita berhak sepenuhnya atas harta yang kita dapatkan dari hasil jerih payah kita sendiri. Anggapan seperti itulah yang menyebabkan rasa berat hati untuk mengeluarkan sebagian harta kepada orang yang membutuhkan pertolongan di sekitar kita terutama para fakir miskin. Padahal sudah kita ketahui bahwa Islam dengan tegas menyatakan: “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu” (al-Imran (3): 189). Menyimak dari ayat tersebut, sebenarnya kalau kita pikirkan kembali berapapun jumlah harta yang telah kita dapatkan tetaplah bahwa itu semuanya milik Allah SWT. Harta yang kita peroleh hanyalah amanah yang harus kita jaga dan dimanfaatkan untuk hal-hal yang mendatangkan ridlo Allah SWT.

Sifat yang paling potensial untuk menghancurkan tumbuhnya benih-benih kasih sayang di antara sesama manusia adalah sifat pelit. Sifat ini berdiam diri di alam bawah kesadaran manusia. Kehadiran orang pelit di tengah-tengah masyarakat akan mengganggu keharmonisan lingkungan. Sifat pelit bagaikan virus yang memakan habis akhlak dan rohani, sehingga orang seperti itu biasanya berpikiran sempit, terasing dari fakta-fakta sosial dan jauh dari nilai-nilai akhlak dan rohani. Kemudian akan menjerumuskan dirinya ke dalam kehinaan, kebencian, dan tindakan tidak normal lainnya.

Pola hidup orang pelit melahirkan perilaku hidup sibuk menabung, berinvestasi melipatgandakan modal kekayaan, sibuk dengan rencana, perilaku aniaya, sadis, zhalim, monopoli dan lain hal sebagainya. Sifat pelit ini susah untuk di obati, bahkan semakin hari semakin tumbuh subur. Setiap pagi, Allah SWT mengirimkan dua malaikat turun ke bumi untuk senantiasa mendo’akan orang pelit dan orang dermawan. Do’anya sebagai berikut: “Ya Allah, limpahkanlah rejeki kepada orang yang bersedekah, dan janganlah engkau limpahkan rejeki kepada orang pelit.

Sahabat Abu Hurairah pernah berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Perumpaan orang yang bakhil dan orang yang mengeluarkan infaknya seperti dua orang yang mempunyai dua kantong yang terbuat dari besi yang panjangnya dari dada mereka hingga di atasnya. Ada pun orang yang suka berinfak, ia tidak mengeluarkan infak kecuali sampai semua yang ada dalam kantong habis, sehingga jari-jari tangannya tertutup ketika ia mengambil hartanya untuk infak atau tidak ada lagi yang tersisa sesuatu pun dalam kantongnya. Ia akan menjadi penghapus dosa-dosanya hingga tidak ada bekas sedikitpun. Adapun orang yang pelit (bakhil), ia tidak mau mengeluarkan infak kecuali semua anggota badannya akan saling dekat, ia berusaha melebarkannya tetapi tidak mampu juga (Muttafaq alaih).

Hidup hanya sementara, kelak di akhirat kita akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang telah kita perbuat di dunia ini, dan di sanalah kehidupan yang abadi. Semua yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah SWT semata, tidak sepantasnya kita menyombongkan diri dan menahan diri untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Ini adalah kewajiban kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Janganlah mempersulit diri dengan sifat pelit, karena Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang pelit (bakhil).

Allah SWT menjanjikan api neraka bagi mereka orang-orang yang pelit. Dalam surat at-Taubah Allah SWT berfirman yang artinya: "Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, ‘inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu."

0 Response to "Orang Pelit Menurut Islam"

Post a Comment