Pilpres 2014 Menjadi Momentum Revolusi


SEMARANG, ISLAMCENDEKIA.COM - Emha Ainun Najib atau Cak Nun (2013) pernah menyatakan bahwa jika kita mau revolusi, urgensinya adalah 100 %, karena saat ini banyak nyawa hilang, martabat yang hancur lebur dan harta benda terlalu banyak dicuri. Karena hakikatnya, negara itu eksis gunanya supaya tiga hal pada manusia dan rakyatnya aman. Jadi, pemerintah itu dibayar untuk mengamankan tiga hal, nyawanya, martabatnya dan  harta benda rakyat.

Demikian sepenggal pembuka diskusi dengan tema “Menuju Revolusi Garuda” yang digelar di kantor Harianjateng.com pada Rabu 4 Juni 2014. Diskusi ini terselenggara atas kerja sama Harianjateng.com dan Islamcendekia.com serta Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah.

Diskusi ini dihadiri beberapa tim redaksi Harian Jateng sebagai wahana memperkuat intelektual jurnalis dan menjadi awal mercusuar revolusi garuda. Menurut Hamidulloh Ibda, Pemimpin Umum Harian Jateng, data LPS 31 November 2013 menyebut bahwa jumlah dana nasabah  kaya (63.406 orang) di bank dengan simpanan di atas Rp 5 miliar mencapai Rp 1.570, 1 T. Sedang pendapatan 110 juta penduduk Indonesia yang gajinya sebesar Rp 13.000 perhari, maka pendapatan pertahun adalah Rp 13.000 X 360 X 110 juta = 514,8 T. Jadi, ada perbandingan Rp 1.570, 1 T berbanding 514,8 T. Ada perbandingan 110 juta orang berbanding 63.406.

“Inilah lebar kesenjangan yang terjadi. Bagaimana Kita menyikapi? Salah satu jalan utama adalah revolusi. Jika tidak, Kita akan menjadi miskin, atau kaya bersama penjahat terbesar abad ini di istana? Kita tidak punya pilihan lain selain revolusi,” tutur Ibda yang juga Pemimpin Redaksi Islamcendekia.com.

Momentum Pilpres, menurut Ibda menjadi penentu kemajuan dan hancurnya bangsa Indonesia. “Jika capres dan cawapres bisa menjadi kesatria dan mercusuar revolusi, maka Pilpres bermanfaat. Tapi jika sebaliknya, maka mending tak usah ada Pilpres,” ungkap mahasiswa Pascasarjana Unnes itu.

Menurut Ibda, kebangkitan orang besar sangat berbeda dengan kebangkitan orang kerdil. Kebangkitan ayam berbeda dengan kebangkitan burung. Kalau kamu tidak tahu kamu ayam atau burung, bagaimana caramu bangkit? Sudah jelas kamu ayam mau terbang-terbang. Kan begitu kan? Kamu cacing mau menerkam-nerkam. “Jadi, saat ini orang Indonesia kehilangan dirinya dan tidak pernah mencari siapa dirinya. Jadi, kalau mau revolusi, maka Pilpres menjadi jalan tepat,” jelasnya.

Senada dengan itu, Nailul Mukorobin yang juga aktivis mahasiswa Semarang menyatakan pendapat bahwa revolusi tak bisa hanya didiskusikan. Setidaknya, harus ada gerakan nyata dari aktivis dan jurnalis untuk menjadi sumbu pemacu revolusi. “Meskipun belum menjadi revolusi, namun setidaknya kita sudah melakukan gerakan revolusioner,” ungkapnya.

Dian Marta Wijayanti, Pemimpin Redaksi Harian Jateng juga mengharap capres-cawapres nanti peduli terhadap nasib pendidikan. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang pendidikannya maju, tanpa itu Indonesia akan tertinggal dan tak bisa maju bahkan mungkin tertinggal,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, Pilpres 2014 harus dikawal semua kalangan, capres dan cawapres harus berkomitmen memajukan Indonesia. “Kita kan memang bangsa besar, banga garuda, jadi harus terbang dari kemiskinan, harus bangkit dari keterpurukan,” harap Dian.

Reporter: HJ5 HJ3 Editor: HJ2

0 Response to "Pilpres 2014 Menjadi Momentum Revolusi"

Post a Comment