Presiden Mana yang Baik, Jokowi Atau Prabowo?

Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden 2014 berlangsung pada 9 Juli 2014 nanti. Pada Pemilu yang merebutkan kursi presiden RI ini, dua kandidat antara Jokowi dan Prabowo Subianto bertarung merebut hati masyarakat Indonesia. Kampanye digelar di berbagai daerah untuk menunjukkan eksistensi dan jati diri masing-masing kandidat calon presiden. Pun, debat presiden yang digelar beberapa stasiun televisi sedikit banyak bisa memengaruhi opini publik tentang presiden mana yang bakal menjadi pilihan rakyat.

Untuk memberikan komentar tentang calon presiden RI pada periode 2014-2019 ini, budayawan Muhammad Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun memberikan komentarnya dalam acara Maiyahan sebuah pengajian atau pertemuan akbar dengan jamaah Maiyah. "Jokowi itu baik, Prabowo juga baik. Jusuf Kalla baik, Hatta Rajasa juga baik. Yang Anda maksud baik itu apa? Parameternya apa?" tanya Cak Nun kepada hadirin jamaah Maiyah. "Kalau mereka dikatakan penjahat ya bukan, pencuri ya bukan. Kalau mereka dikatakan tidak baik ya tidak tepat. Hasrat dan sedikit ambisi itu ya wajar sebagai manusia," imbuhnya.

Cak Nun memberikan gambaran, Prabowo itu bersifat maskulin sehingga ia biasa yang menanam sebagaimana karakter maskulin. Sementara itu, Jokowi bersifat feminim di mana ia biasa ditanami sebagaimana karakter feminim. "Kita sendiri mengalami, kalau laki-laki itu menanami, kalau perempuan itu ditanami," tutur Cak Nun yang disambut tawa jamaah Maiyah. Cak Nun melanjutkan, karakter presiden yang disukai Amerika adalah feminim sehingga Amerika pasti mendukung calon presiden yang feminim karena ia mudah ditanami, mudah dibujuk dan mudah diajak untuk konsolidasi, misalnya terkait dengan investasi di Indonesia. Contoh nyatanya adalah polemik Freeport yang diperpanjang hingga tahun 2014.

Lebih lanjut, Cak Nun mengatakan, "Pilihlah capres dan cawapres sesuai hati nurani Anda, siapa pun orangnya. Yang saya tidak setuju itu, kalau Anda memilih capres-cawapres karena hal-hal lain, bukan dari hati nurani. Anda bebas berpendapat, bebas mengeluarkan suara, Anda sepenuhnya berdaulat memilih." Kalau ditanya presiden mana yang baik: Jokowi atau Prabowo, Cak Nun setidaknya memberikan isyarat bahwa keduanya sama-sama baik, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Yang paling penting, suara itu muncul dari hati nurani, bukan karena paksaan atau yang lainnya.

Kasus pelanggaran HAM Prabowo

Cak Nun juga menyinggung soal kasus pelanggaran HAM Prabowo yang kembali diperdebatkan setelah Prabowo mencalonkan diri sebagai capres. "Persoalan kasus pelanggaran HAM oleh Prabowo, ia hanya melaksanakan mandat dari atasannya. Sialnya Prabowo itu, orang-orang yang diculik Prabowo itu tidak dibunuh, tetapi tetap diamankan sehingga masih hidup. Kalau dulu orang-orang yang diculik Prabowo itu dibunuh, maka ia aman tidak akan ada yang cerita. Saat ini, orang-orang yang diculik Prabowo tetapi tidak dibunuh ikut Gerindra. Mereka berterima kasih kepada Prabowo," tutur suami Novia Kolopaking ini.

Dari kacamata Muhammad Ainun Najib, kasus pelanggaran HAM Prabowo bukan sebagai kasus penculikan yang disertai pembunuhan, tetapi sebuah tugas dari atasan yang harus dijalani untuk mengamankan orang-orang yang kritis dan mengancam stabilitas negara. Dalam menjalankan tugasnya, Prabowo ternyata tidak membunuhnya sebagaimana orang-orang yang ditugaskan untuk menculik dan membunuhnya tanpa jejak. Walhasil, orang-orang yang dulu pernah diculik Prabowo dan tidak dibunuh berterima kasih yang pada akhirnya turut mendukung berkibarnya bendera Partai Gerindra. Ini adalah konklusi dari pemahaman terhadap apa yang disampaikan budayawan Emha Ainun Najib.

Sumber foto: Tempo

0 Response to "Presiden Mana yang Baik, Jokowi Atau Prabowo?"

Post a Comment