Rebonding Menurut Islam

Beberapa waktu yang lalu redaksi Islam Cendekia menerima pertanyaan dari pembaca setia. Pertanyaan tersebut seputar hukum rebonding dalam syariat Islam. Dengan kata lain, ia menanyakan apakah rebonding menurut Islam itu diperbolehkan atau tidak. Untuk menjawab pertanyaan tentang rebonding dalam pandangan Islam tersebut, redaksi Islam Cendekia menghimpun beberapa pendapat dari para ulama.

Menurut Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni'am Sholeh, halal atau haramnya rebonding mesti dipahami sesuai konteks yang berlaku. Menurut hukum Islam, lanjut Asrorun, rebonding hukumnya mubah atau diperbolehkan. Meskipun demikian, hukum rebonding yang mubah tersebut tidak bisa dijadikan pijakan bahwa Islam menghalalkan rebonding seratus persen, tetapi ada konteksnya. Apabila tujuan rebonding tersebut untuk merawat tubuh, menjaga keindahan sebagai makhluk Allah, dan untuk menyenangkan hati suami, maka hal demikian justru diperbolehkan atau bahkan mendapatkan pahala dari Allah.

Sebaliknya, jika rebonding tersebut ditujukan untuk menarik lawan jenis dengan tujuan maksiat, maka hal ini jelas diharamkan. Dalam Islam, semua hal ada konteksnya. Dalam hal ini, tujuan atau niat menentukan setiap peristiwa apakah ia dikategorikan halal atau haram. "Apabila tujuan dan dampak dari rambut yang direbonding itu negatif, maka hukumnya menurut Islam adalah haram. Sebaliknya, apabila tujuan dan dampak sebuah tindakan rebonding tersebut positif, maka rebonding diperbolehkan atau bahkan dianjurkan apabila benar-benar berdampak positif," kata Asrorun.

Asrorun menambahkan, Islam menganjurkan untuk menjaga kebersihan dan merawat tubuh. Apalagi jika rebonding tersebut memudahkan dalam penggunaan jilbab, maka rebonding justru dianjurkan.

Rebonding halal atau haram

Dalam sebuah forum Bathsul Masa'il yang diselenggarakan di Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, rebonding ditetapkan sebagai sebuah tindakan yang haram. Dalam hal ini, forum tersebut menetapkan fatwa haram terhadap rebonding. Menurut salah seorang perumus Komisi FMP3, fatwa haram rebonding hanya dikenakan bagi perempuan yang berstatus lajang atau single. Alasannya adalah perempuan wajib menutup aurat. Sementara itu, rambut wanita yang direbonding biasanya untuk gaya-gayaan, sengaja dipertontonkan, dan menarik lawan jenis yang bisa jadi berdampak negatif. Ujungnya, tindakan maksiat bisa terjadi dari rambut yang direbonding. Dengan alasan tersebut, maka rebonding itu haram karena rebonding untuk sengaja dipertontonkan dan menarik lawan jenis yang ujungnya adalah maksiat.

Oleh karena itu, agar rebonding itu halal maka seyogianya ditutupi dengan jilbab sehingga tidak menimbulkan dampak negatif. Kalaupun tidak memakai jilbab, maka rebonding harus memiliki tujuan dan dampak yang positif. Hal ini berlaku hanya untuk perempuan lajang. Lantas, bagaimana dengan wanita yang sudah bersuami?

Wanita yang sudah bersuami jika tujuan rebonding itu untuk membahagiakan suami dan agar suami senang, tertarik, dan ingin hubungan lebih harmonis, maka justru rebonding itu dihalalkan atau bahkan dianjurkan. Berbeda jika tujuan rebonding untuk menarik perhatian laki-laki lain selain suami, maka hal ini jelas sangat diharamkan bahkan menjadi tindakan yang dilaknat Allah.

Dari berbagai penjelasan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa Islam selalu ada konteks yang meliputi suatu permasalahan yang ada. Rebonding itu haram apabila tujuan dan dampaknya negatif dan mendatangkan kemudaratan. Sebaliknya, apabila rebonding untuk tujuan yang positif dan berdampak yang memberikan kebaikan, maka hal ini dihalalkan atau diperbolehkan. Demikian penjelasan mengenai rebonding menurut hukum Islam. Semoga bermanfaat.

1 Response to "Rebonding Menurut Islam"

  1. Artikel yang sangat bagus serta isiya bagus., pas untuk referensi menulis saya. Terima kasih banyak,:)

    ReplyDelete