Sesajen dalam Islam Harus Diluruskan

BLORA, ISLAMCENDEKIA.COM - Sesajen dalam Islam memang masih menjadi perdebatan. Namun, sesajen yang masih dilestarikan sebagai besar masyarakat Jawa sebenarnya memiliki makna dan spirit unik. Dalam Islam, sesajen memang tidak ada, karena budaya ini adalah budaya Jawa yang sering disebut sebagai makanan dan bunga-bungaan yang disajikan kepada orang halus seperti dewa, Tuhan dan makhluk astral lainnya.

Menurut Hamidulloh Ibda, pakar bahasa dan budaya di Pascasarjana Universitas Negeri Semarang menyatakan bahwa sesajen sebenarnya tidak berdosa dan sah-sah saja jika niatnya besar. "Memberi sesajen itu sah-sah saja jika niatnya benar. Sesajen itu kan menyajikan makanan sebagai rasa hormat kepada leluhur. Tapi, caranya harus disedekahkan kepada orang yang masih hidup agar tidak basi dan mubazir. Jika dibiarkan sehingga basi, itu yang tak boleh. Sedangkan untuk para leluhur, cukup kita kirimkan do'a seperti tahlil agar arwah mereka tenang di alam kesunyian," ujarnya.


Di Blora, lanjut Ibda, ketika ada orang punya gawe seperti acara pernikahan dan khitanan bisanya memberi sesajen di beberapa tempat, seperti di atas rumah, pojok rumah, sumur, perempatan jalan dan sebagainya.

"Di Blora, biasanya sesaji itu ditaruh di atas daun Jati dan diberi kendi atau morong yang berisi air," ujarnya.
Bahan makanan dan properti sesajen itu juga beragam. Mulai dari pisang, jajan pasar, bunga tujuh rupa, sisir, kaca, uang, pisang, cabai, kerupuk, minyan dan sebagainya. "Ini unik. Tapi jangan sampai menuju pada syirik atau menyekutukan Tuhan. Maka, caranya makanan itu harus disedekahkan pada orang lain agar dimakan. Karena tidak mungkin kita sebagai orang Jawa meninggalkan Jawa kita," ujar Hamidulloh Ibda yang juga Direktur Eksekutif Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah.

Letak syirik atau tidak, lanjut Ibda, itu bukan pada sesajin, atau ketika orang membakar menyan, tapi letak syirik atau tidak itu pada hati dan kemurnian seorang dalan meniatkan untuk apa sesaji itu. "Karena itu, kita tak boleh mengafir-ngafirkan orang yang memberi sesaji sebelum kita klarifikasi, bertanya atau tabayyun pada orang tersebut," ujar alumus Pondok Pesantren Mambaul Huda Pati itu.

Menurut Ibda, budaya sesajen itu harus dilestarikan tapi niatnya harus diluruskan. "Budaya ini unik, harus dilestarikan, tapi harus diluruskan niatnya dan makanan itu harus diberikan kepada orang lain agar tidak mubazir. Karena leluhur kita tidak butuh makanan seperti pisang, mereka hanya butuh doa dari kita," jelas Dia.
Reporter dan Editor: Ah. Fauzin.

2 Responses to "Sesajen dalam Islam Harus Diluruskan"

  1. dari pada bikin sesajen, mending kasih makan anak yatim, dalil jelas dan tujuannya jelas...

    ReplyDelete
  2. saya setuju pendapat libra purwanto, sesajen diganti dengan sedekah, diberikan kepada yatim, atau orang kurang mampu, bukan kepada jin/setan, jelas itu sirik.

    ReplyDelete