Sweeping Ramadan Menurut Aktivis Islam


SEMARANG, ISLAMCENDEKIA.COM – Sweeping atau penggrebekan tempat hiburan di bulan Ramadan sudah sering terjadi di tahun-tahun lalu. Di tahun ini, hal itu sudah tampak kelihatan di berbagai tempat, khususnya di Semarang. Tak hanya di bulan Ramadan, menjelang Ramadan pun sudah banyak yang menggelar sweeping.

Menurut Nailul Mukorobin, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Unnes Konservasi, sweeping sebenarnya sangat efektif jika tepat sasaran. “Islam itu mengajarkan kedamain, bukan kekerasan. Jika sweeping justru menodai esensi Islam, Saya kira itu tidak tepat. Karena Islam itu damai, bukan seperti preman,” tuturnya tak lama ini.

Senada dengan itu, M Kholil Syaroni, mantan Ketua IPNU Ranting Ngaliyan, Semarang juga berpendapat bahwa sweeping itu sebenarnya adalah tindakan yang bertujuan mengamankan bulan Ramadan dari gangguan, seperti maksiat, karaoke malam, prostitusi, minum-minuman keras dan sebagainya. “Jika dilakukan dengan baik, benar dan santun, Saya kira tidak ada masalah. Tapi jika sudah merusak, itu bukan Islami lagi. Masak orang Islam di zaman seperti ini masih main kekerasan. Ini jelas melukai substansi agama. Jadi sekali lagi, tidak ada sweeping atas nama agama,” jelas Dia.

Kholil yang saat ini menjadi Direktur Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Semarang menyatakan bahwa orang yang melakukan sweeping atas nama agama, ormas Islam, harus ditegaskan oleh polisi. Apakah mereka oknum atau hanya sekelompok orang yang ingin merusak citra Islam. “Yang namanya orang Islam itu pasti menyenangkan. Kalau menjengkelkan, mereka ya tak patut disebut orang Islam. Apalagi merusak. Itu jelas-jelas melukai esensi Islam Rahmatal Lilalamin,” ujar mahasiswa IAIN Walisongo Semarang itu.

Tak hanya aktivis mahasiswa Islam, Forum Persaudaraan Antaretnis (PERANTARA) Jawa Tengah juga ikut berpendapat. Menurut Ahwani, selaku Ketua Umum PERANTARA Jateng, sweeping itu harus jelas tujuannya, mangfaatnya, jika hanya merusak itu bukan sweeping namanya. “Orang Islam di era modern saat ini sudah salah dan kaprah memahami esensi sweeping. Jadi, selama sweeping dilakukan dengan kekerasan, merusak dan merugikan orang, hal itu bukan Islam. Karena sejatinya, Islam tak menganjurkan merusak dan merugikan orang lain,” tuturnya pada Islamcendekia.com.

Direktur Forum Muda Cendekia (Formaci) Jateng, Hamidulloh Ibda, juga membeberkan bahwa sebenarnya sweeping itu adalah masalah hukum dan agama serta fenomena sosial. Jika ini hanya disebut masalah agama, lanjutnya, Saya kurang sependapat. Pasalnya, menurut Ibda, yang perlu tegas di sini adalah pemerintah. “Masak pemerintah kalah dengan ormas. Kalau kalah, ini jelas membuktikan ketidakseriusan pemerintah menindak ormas nakal. Begitu pula dengan ormas yang mengatasnamakan agama untuk melakukan sweeping. Saya menentang tegas hal itu. Orang Islam kok tak ada bedanya dengan preman,” tuturnya.

Mahasiswa Pascasarjana Unnes itu juga berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan tegas. Artinya, UU yang mengatur antara prostitusi dengan hiburan itu beda. “Jadi, pemerintah harus membedakan, mana hiburan, mana prostisusi. Aturannya tak boleh digebyah uyah,” jelas Dia.

Reporter dan Editor: Achmad Hasyim

0 Response to "Sweeping Ramadan Menurut Aktivis Islam"

Post a Comment