Syariat Islam Hanya Berlaku untuk Orang Miskin, Benarkah?

Syariat Islam Hanya Berlaku untuk Orang Miskin, Benarkah?
Laporan khusus redaksi Islamcendekia.com

Di Indonesia, kajian syariat Islam dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan kenaikan signifikan. Terlebih kajian ekonomi dan perbankan syariah belakangan banyak menarik perhatian publik. Banyak label syariah bermunculan, mulai dari keuangan, perbankan, hingga hotel. Semuanya berlabel syariah.

Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan kajian syariat Islam mengalami kemajuan yang pesat di Indonesia, terutama dalam hal muamalah dan pendidikan. Terkait dengan hukum sendiri, syariat Islam berlaku di Indonesia untuk beberapa hukum perdata Islam yang terakomodasi dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), bukan untuk hukum pidana (jinayat). Hal ini wajar mengingat Indonesia adalah negara-bangsa yang majemuk berdasarkan Pancasila, bukan sebagai negara Islam.


Lalu, bagaimana dengan syariat Islam yang berlaku di negara-negara Islam, seperti Arab Saudi? Berikut hasil obrolan CEO Islamcendekia.com Lismanto dengan Dr Sumanto Al Qurtuby, Ph.D, dosen tamu di Notre Dam University, Indiana, Amerika Serikat yang saat ini akan mengajar ilmu-ilmu social science, terutama antropologi, di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, serta Syafruddin Rifa'ie, pengajar disiplin ilmu sosial-politik Universitas Gunadarma.


"King Fahd University of Petroleum and Minerals itu kampus modern di Arab Saudi. Semua kurikulum dan pengajarannya mirip Amerika. Kalau boleh dikatakan, King Fahd University of Petroleum and Minerals adalah kampus Amerika yang berlokasi di Arab Saudi. Lokasinya saja di Arab, tetapi semua kurikulum hingga pengajarnya dari Barat," ujar Sumanto saat ditemui di kediamannya, Semarang, Sabtu (27/6).


Kang Manto, panggilan akrab Sumanto Al Qurtuby, menyebutkan, tenaga pengajar di King Fahd University of Petroleum and Minerals sebagian besar dari Eropa dan Amerika, seperti Universitas Harvard, Universitas Cambridge, MIT, Universitas Oxford, dan beberapa kampus terkemuka dunia. "Meskipun di Arab Saudi, King Fahd University of Petroleum and Minerals tidak mencerminkan sebuah kampus yang berbudaya Arab, tetapi kampus internasional yang dipindah ke bumi Arab," tutur ayah dari Victoria Astranawa ini.


Berawal dari obrolan ini, sebuah konklusi yang menghentakkan muncul: syariat Islam hanya berlaku untuk orang miskin. "Di King Fahd University of Petroleum and Minerals sendiri, semua warga kampusnya tidak menerapkan budaya Arab. Sebaliknya, budaya barat yang serba modern sangat kental di sini. Kalau kamu bukan orang Arab, jangan sekali-kali meniru kebiasaan orang Arab seperti memakai sorban, sebab hal itu sama halnya kamu menghina tradisi orang Arab. Hal ini berbeda dengan Indonesia, kita bangga jika bule memakai blangkon sebagai budaya Jawa," katanya.


Semua pengajar dan profesor di King Fahd University of Petroleum and Minerals, lanjut Sumanto, memakai jas biasa sebagaimana tradisi di kampus-kampus internasional, tidak memakai khas budaya Arab. King Fahd University of Petroleum and Minerals itu kampus yang sangat besar dan modern. Perempuan di lingkungan King Fahd University of Petroleum and Minerals boleh mengendarai atau menyetir mobil sendiri. Padahal sebagaimana kita tahu, pemerintah Arab Saudi melarang perempuan untuk menyetir atau berkendara sendiri. Tapi larangan ini tidak berlaku di lingkungan kampus modern King Fahd University.


Hal ini, tambah Sumanto, menunjukkan sebuah gejala bahwa syariat Islam hanya berlaku bagi orang-orang miskin, bukan untuk kalangan kelas atas. Beberapa kasus di negara atau daerah yang memberlakukan syariat Islam juga menunjukkan gejala serupa: hukum syariat hanya berlaku untuk orang kecil.


Menurut Lismanto, hal yang paling penting dalam menerapkan syariat Islam sebagai teks transenden bukan terletak pada agenda penegakan yang berbasis seremonial-formal yang cenderung kaku-tekstual, tetapi terletak pada substansi syariat Islam itu sendiri. Jika suatu negara atau daerah yang memberlakukan syariat Islam melupakan substansi atau tujuan utama dari syariat Islam sendiri, maka yang ada justru kemunafikan dan ketidakadilan. "Maka, betul jika ada sebuah penelitian yang dilakukan Hossein Askari, guru besar politik dan bisnis internasional Universitas George Washington, Amerika Serikat, menyatakan bahwa negara paling Islami di dunia bukan dari negara-negara Islam, tetapi dari di negara-negara yang menerapkan aturan yang Islami. Arab Saudi sendiri dalam hal negara paling Islami di dunia menduduki peringkat 91. Islami dan Islam adalah dua kata yang sama, namun berbeda makna. Islam menunjukkan seremonial-formal, sementara Islami menunjukkan substansi atau tujuan dasar dari Islam sendiri," imbuhnya.


Di Indonesia, gejala "Syariat Islam Hanya Berlaku untuk Orang Miskin" bisa dikaitkan dengan hukum yang tebang pilih, tajam ke bawah (orang kecil), tetapi tumpul ke atas (kalangan orang elite). "Fenomena di King Fahd University, sebuah kampus internasional-modern sebagaimana dijelaskan Mas Manto, tidak berlaku hukum-hukum syariat sebagaimana diterapkan bagi masyarakat Arab Saudi. Hal ini sudah cukup menunjukkan bahwa syariat Islam di suatu negara Islam hanya berlaku untuk orang miskin. Belum lagi fakta-fakta lainnya," tambah Syafruddin Rifa'ie, alumnus magister ilmu hukum Universitas Indonesia yang saat ini mengajar disiplin ilmu sosial di Universitas Gunadarma. Syafruddin yang juga sarjana hukum Islam dari IAIN Walisongo ini menyatakan, syariat Islam justru sebagaian besar digunakan oleh negara-negara miskin.


"Ini berbicara fakta, bukan soal teologi atau ajarannya. Sebab berbicara soal ajaran atau doktrin, syariat Islam mengajarkan konsep-konsep yang saya kira sangat modern dan tak lekang oleh zaman," imbuhnya.

1 Response to "Syariat Islam Hanya Berlaku untuk Orang Miskin, Benarkah?"