Tahlil dalam Pandangan Islam

Tahlilan yang dilakukan para santri untuk memperingati 2 tahun wafatnya Rubawi, tokoh asal Pati/Islamcendekia.com
ISLAMCENDEKIA.COM - Tahlilan bisa diartikan sebagai peringatan hari wafatnya seseorang yang meninggal dunia menggunakan adat, tradisi, dan kebiasaan lokal setempat dengan pujian-pujian serta lafadzh-lafazh Islam. Lafadh-lafadh Islam itu yang kemudian disebut sebagai kalimat tayibah. Kalimat tayibah sendiri mengandung makna ucapan atau kalimat yang baik yang diucapkan seorang muslim.

Berbicara soal tahlil dalam pandangan Islam, kita tidak bisa mengklaim bahwa tahlilan menurut Islam adalah halal, haram, mubah, sunah, atau makruh. Kenapa demikian? Sebab dalam Islam sendiri, terutama di Indonesia, banyak sekali aliran atau umat Islam dari berbagai mazhab, organisasi, dan keyakinan. Meskipun sama-sama Islam yang berarti mengakui keesaan Allah, kebenaran Muhammad sebagai nabi dan rasul, dan Al Quran sebagai kitab sucinya, tetapi pada tataran aplikasi ibadahnya dijumpai beberapa perbedaan. Karena itu, membincang soal tahlil dalam Islam kita selalu disuguhi pertanyaan: Islam apa? Islam Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah?

Sudah menjadi rahasia umum jika kalangan Nahdliyin merupakan organisasi Islam di Indonesia yang melestarikan tradisi dan budaya tahlilan. Sementara itu, organisasi Islam Muhammadiyah tidak sepakat jika tahlilan dimasukkan sebagai salah satu ritual keagamaan dalam Islam. Meskipun demikian, beberapa umat Muhammadiyah saat ini ada yang mengakui tahlilan sebagai ritual-seremonial peringatan meninggalnya seseorang yang bisa dibenarkan dalam Islam.

Tradisi dan budaya tahlilan

Tradisi tahlilan biasa digelar untuk memperingati meninggalnya seseorang pada hari pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, empat puluh, seratus, satu tahun (bahasa Jawa: mendhak pisan), dua tahun (mendhak pindho), dan seribu hari (nyewu). Selain itu, kalangan Nahdliyin biasa menyelenggarakan tahlilan saat Hari Kamis malam Jumat di mushola, masjid, acara-acara di di rumah di mana di dalamnya berisi kalimat yang mendoakan leluhur ataupun saudara seseorang yang meninggal.

Tahlilan sendiri merupakan serangkaian pembacaan ayat-ayat suci Al Quran dengan susunan tahlil yang sudah diketahui bersama. Adapun susunan bacaan tahlil terdiri dari syarat dan rukun yang ditetapkan umat Muslim Nahdliyin, antara lain membaca Surat al-Ikhlas (biasanya tiga kali), membaca Surat al-Falaq, membaca Surat an-Nas, membaca Surat al-Baqarah ayat 1 sampai ayat 5, membaca Surat al-Baqarah ayat 163, Surat al-Baqarah ayat 255, membaca Surat al-Baqarah ayat dari ayat 284 hingga ayat 286, membaca Surat al-Ahzab ayat 33, membaca Surat al-Ahzab ayat 56, serta membaca bacaan Shalawat, Istighfar, Tahlil dan Tasbih. Terkait dengan bacaan yang menjadi rukun tahlil adalah Surat al-Baqarah ayat 286, Surat al-Hud ayat 73, Shalawat Nabi, Istighfar, Kalimat Thayyibah, serta Tasbih.

Yang dipermasalahkan dalam tahlil adalah adanya tradisi lokal setempat (baca: Jawa) yang dimungkinkan adanya penyelewengan akidah. Misalnya saja, ada nasi yang dibungkus wadah plastik. Dalam Jawa, ini disebut dengan berkat. Berkat ini tidak semata-semata nasi yang di dalamnya terdapat lauk, tetapi ada simbol dan makna di dalamnya. Ciri khasnya adalah adanya apem atau semacam kue yang menyimbolkan sebagai payung agar teduh, kacang panjang mentah yang menyimbolkan tongkat (teken) untuk menuntun orang yang meninggal, serta berbagai simbol lainnya. Dalam tradisi Jawa, berkat atau nasi hasil tahlilan yang di dalamnya berisi lauk dan jajanan, ia harus membuang kacang mentah yang jumlahnya satu dengan sejumput nasi ke luar rumah.

Ada juga yang mengatakan, orang yang makan berkat atau nasi hasil tahlilan, ia harus membacakan surat al fatihah dulu kepada orang meninggal yang ingin didoakan. "Sebelum makan berkat, kamu harus membacakan surat al fatihah dahulu yang ditujukan kepada si orang yang meninggal. Masak kamu makan tapi tidak mau mendoakan. Nasi berkat itu kan dibuat untuk mendoakan almarhum, jadi alangkah baiknya jika kamu mendoakannya lebih dahulu sebelum makan," ujar Hartatik, warga Nahdiliyin asal Desa Tambahsari, Pati saat menasehati anaknya.

Puncak peringatan tahlil bagi seorang yang meninggal adalah peringatan seribu harinya orang yang meninggal. Dalam tradisi Jawa, seribu harinya ini dikenal dengan istilah nyewu. Dalam tradisi nyewu tahlilan, biasanya pemilik rumah atau ahlul baith menyembelih kambing atau kerbau atau sapi sesuai dengan kapasitas dan kemampuan ahlul baith. Meskipun demikian, rata-rata orang sudah menganggal lazim bahwa nyewu biasa dengan menyembelih kambing. Hasil sembelihan itu dibagikan kepada saudara, tetangga, serta peserta tahlilan.

Menurut ulama Nahdliyin, tahlilan itu samasekali tidak syirik atau haram karena apa yang menjadi substansi atau isi adalah bacaan-bacaan kalimat Al Quran untuk mendoakan orang yang meninggal agar diberikan kemudahan, kebaikan, dan kemuliaan dari Allah. Adapun hal-hal lain seperti berkat nasi dan serentetan jajanan beserta dengan tradisinya merupakan budaya Jawa yang justru harus dilestarikan. Berkat nasi itu hanya simbol tradisi dan budaya sehingga perlu dilestarikan sebagai manusia Jawa. Adapun terkait dengan substansi atau isi dari tahlilan sendiri tentu mengikuti ajaran-ajaran Islam. Boleh dikatakan, Islam adalah isinya, sementara budaya dan tradisi tahlilan adalah kulitnya. Hal inilah yang dilakukan Walisongo dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara (Indonesia), yaitu mengajarkan Islam tanpa harus menghilangkan tradisi dan budaya setempat.

Ada satu tradisi yang lebih unik dari Tahlilan klasik. Kenapa dikatakan tahlilan klasik? Sebab beberapa tahun terakhir setidaknya ada pergeseran tradisi tahlil. Kalau dulu, tradisi tahlil terutama 3, 7, 40, 100, 1 tahun, 2 tahun, dan 1000 hari ada semacam sesaji atau sesembahan untuk orang meninggal. Sesaji tersebut di dalamnya berisi makanan dan minuman yang menjadi kesukaan orang meninggal semasa hidupnya. Misalnya saja nasi, telur, kopi, susu, teh, pisang, jeruk, ketan, kue, atau bahkan rokok. Konon katanya, setelah beberapa jam disajikan di kamar khusus tempat orang yang meninggal tersebut, makanannya menjadi tidak berasa atau hambar atau tanpa rasa. Hal ini diyakini masyarakat bahwa makanan dan minuman yang dijadikan sesaji bagi orang meninggal tersebut telah dimakan atau diminum sehingga sudah tidak ada rasanya lagi jika dicoba dimakan. Namun, tradisi ini tampaknya belakangan ini sudah mulai tidak ada. Kalau pun ada, sudah jarang dijumpai.

Dalam sebuah buku yang mewawancara Gus Dur di alam kubur, Gus Dur sendiri mengatakan kalau manfaat dari orang-orang yang mendoakannya dengan tahlilan bisa membawanya untuk berkunjung ke beberapa tempat, misalnya bertemu dengan ayah (Wahid Hasyim) dan kakeknya (Hasyim Ashari), serta beberapa tokoh atau ulama lainnya. Menurut tutur masyarakat di kalangan Nahdliyin, manfaat atau faedah tahlilan bagi orang meninggal adalah tempatnya menjadi teduh karena doa-doa dan kalimat-kalimat dalam Al Quran terucap untuk si orang yang meninggal.

Meskipun amal perbuatan seseorang itu dipikul dan ditanggung sendiri, tetapi setidaknya tahlilan bisa meringankan dan memberikan angin segar bagi yang meninggal. Begitu komentar masyarakat yang biasa menyelenggarakan tahlil.

Sementara itu, tahlilan menurut pandangan Muhammadiyah sekarang bisa dimaklumi. Banyak kalangan umat Muhammadiyah saat ini sudah memaklumi tradisi tahlil karena umat Muhammadiyah sendiri tahu bahwa tahlil di dalamnya berisi kalimat-kalimat suci Al Quran yang sebatas mendoakan keselamatan dan kebaikan orang yang meninggal. Adapun mengenai diterima atau tidak, itu merupakan urusan Allah Swt. Yang paling penting adalah kita sebagai ahli waris sudah mendoakan untuk kebaikan mendiang. Bahkan Prof Dr Mujiono, MA guru besar IAIN Walisongo pernah mengusung tema Tahlilan modern yang mendialogkan tradisi tahlilan ke wilayah Islam modern, termasuk di dalamnya umat Muhammadiyah.

Hal ini diakui oleh Siswanto, pendidik di SMA Muhammadiyah Pati. "Sebagai umat muslim Muhammadiyah, menurut saya tahlilan itu dibolehkan asal tidak mengandung syirik. Kalau yang tidak disetujui umat Muhammadiyah itu tradisi manakiban. Kalau tahlil menurut Muhammadiyah sendiri sekarang sudah diterima dengan baik, selama akidah dari acara tahlil itu benar," ujar Siswanto. Demikian berbagai kesimpulan Tahlilan dalam pandangan Islam di mana kata Islam yang dimaksudkan di sini untuk mewakili umat Islam Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai dua ormas besar Islam di Indonesia.

1 Response to "Tahlil dalam Pandangan Islam"

  1. itu memang persepsi masing-masing pandangannya masing-masing

    ReplyDelete