Tradisi Jawa Menyambut Ramadan Menurut Islam


SEMARANG, ISLAMCENDEKIA.COM – Bagi masyarakat Jawa, menyambut bulan suci Ramadan adalah kewajiban. Hal itu bisa terwujud lewat beberapa tradisi Jawa yang dibalut dengan nilai Islam. “Ada beberapa tradisi Jawa untuk menyambut Ramadan, seperti nyekar, berdoa kepada leluhur, ziarah kubur. Kalau di Semarang malah ada dugderan yang menjadi tradisi unik,” tutur Aat Eska Fahmadi Ketua Umum HMI Cabang Semarang.

Menurut Aat, tradisi menyambut Ramadan dalam perspektif Islam sah-sah saja jika diintegrasikan dengan budaya Jawa. “Kita ini kan orang Jawa yang juga beragam Islam. Jadi, yang penting nilai Islam tetap melekat dalam ritual menyambut Ramadan, maka hal itu boleh,” ujarnya.

Dalam suatu hadis, lanjut Aat, suka dan mencintai datangnya bulan Ramadan saja, Allah sudah mengharamkan jasad kita dari api neraka. “Apalagi, kita mau menjalankan ibadah di bulan Ramadan, seperti puasa, salat tarawih dan witir serta tadarus Alquran,” ujarnya pada Islamcendekia.com, Selasa 17 Juni 2014. 

Tradisi menyambut bulan Ramadan harus dilestarikan jika nilaninya positif. “Kita diharapkan menata hati, banyak berdoa meminta ampunan kepada Allah sebelum datang bulan suci Ramadan,” jelas Dia.

Senada dengan itu, M Kholil Syaroni, Direktur BPL HMI Cabang Semarang juga berpendapat sama. “Kita harus melestarikan tradisi Jawa dalam menyambut Ramadan. Yang penting tujuannya jelas, baik dan tidak melecehkan tauhid,” tutur mantan Ketua IPNU Ngaliyan Semarang itu.

Menurut Kholil, mau nyadran, bakar minyan, dugderan, kondangan, atau apa saja, yang penting niat dan tujuannya baik, hal itu sah dilakukan. “Saya mendukung tradisi Jawa dalam bentuk apa pun, yang penting tidak menyekutukan Allah,” tandasnya.

Reporter dan Editor: Nailul Mukorobin

0 Response to "Tradisi Jawa Menyambut Ramadan Menurut Islam"

Post a Comment