Antara Islam dan Kaya

Muhammad TaufikAnggota Jami'atul Qura wal Huffaz (Komunitas Penghafal Quran) Kelapa Dua Depok Jawa Barat dan Pengajar di Pesantren Tahfidzul Quran Imam 'Ashim Depok Jawa Barat

Pada masa sekarang ini, sudah bukan rahasia lagi, bahwa umat Islam identik dengan kemiskinan. Mayoritas negara-negara Islam dapat dikatagorikan sebagai negara dengan ekonomi yang lemah, Indonesia salah satunya. Negara dengan penganut Islam terbanyak di dunia ini memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah ruah, tetapi dari segi ekonomi, Indonesia masih belum layak diperhitungkan di kancah internasional.

Hal ini tidak lepas dari dari sumber daya manusia Indonesia yang tergolong lemah, cenderung malas, dan selalu berlindung di balik istilah-istilah kesederhanaan dalam konsep Islam. Misalnya, istilah zuhud diartikan sebagai tidak usah kaya, tidak usah banyak uang, dan tidak usah mengejar dunia. Pemahaman seperti ini membawa umat Islam menjadi malas bekerja, tidak sanggup merintis, dan tidak mampu menciptakan ide-ide yang kreatif serta bersaing dalam kegiatan usaha. Istilah qanaah juga sering dijadikan sebagai batas untuk menyembunyikan ketidaksanggupan mengelola usaha.

Umat Islam selalu bersembunyi di balik anggapan cukup puas dengan apa yang ada dan tidak perlu memburu harta. Memang sejatinya memburu harta tidak dibenarkan apabila untuk kepentingan pribadi semata dan lupa kepada Allah SWT. Umat Islam juga sering berlindung di balik kata sabar untuk menutupi keidakberanian bersaing dalam ekonomi. Padahal, istilah-istilah tersebut hanyalah alasan untuk tidak mau berusaha sebagaimana yang sering disinggung oleh K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), seorang dai kondang nasional. Beliau berkata, “Kita jangan selalu lari ke istilah yang kedengarannya islami tanpa mendalami arti sebenarnya dari istilah itu”.

Dalam Islam, kaya adalah keharusan

Islam tidak hanya mengajari tentang ibadah saja, akan tetapi Islam mengajarkan tentang seluruh masalah kehidupan secara komprehensif, termasuk bekerja, meraih prestasi, dan meraih kesejahteraan (kekayaan). Hal ini dapat dilihat dari kata Islam itu sendiri yang mempunyai tiga makna, yaitu keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan. Untuk mencapai kesejahteraan, Islam menganjurkan pemeluknya untuk bekerja keras, bertebaran di muka bumi untuk mencari rezeki, dan mengubah nasibnya sendiri (mandiri). Apabila kesejahteraan bisa tercapai, maka umat Islam akan semakin kuat dan disegani oleh umat lain sebagaimana yang pernah dicapai pada periode Daulah Abbasiyah.

Apabila kita mencermati dalil-dalil dari Al-Quran dan hadits Rasulullah SAW. banyak sekali ayat Quran ataupun hadits yang menyinggung supaya umat Islam menjadi kaya. Dalam Surat An-Najm: 43-48, Allah berfirman, “Allahlah yang menjadikan tertawa dan menangis, Allahlah yang menjadikan kematian dan kehidupan, Allahlah yang menjadikan laki-laki dan perempuan, Allahlah yang menjadikan kekayaan dan kecukupan (bukan kemiskinan)”. Di sini terlihat jelas, bahwa sebenarnya kekayaan merupakan suatu keniscayaan. Begitu juga dalam Surat Al-Qashash: 77, Allah berfirman, “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi jangnlah kamu lupakan bagianmu di dunia...”.

Dalam ayat tersebut disinggung, bahwa umat Islam dituntut supaya tidak mementingkan akhirat saja, tetapi juga dibarengi dengan meraih dunia. Dalam hal ini meraih kesejahteraan (kekayaan). Hanya saja, jangan sampai dilalaikan oleh pekerjaan mencari harta semata, tetapi senantiasa dibarengi dengan mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah, tangan di atas adalah tangan pemberi, sementara tangan di bawah adalah tangan peminta-minta” (HR. Muslim). Dalam hadits tersebut terdapat sebuah pesan tersirat supaya kita menjadi orang yang kaya karena dengan kayalah kita dapat menjadi pemberi (dermawan).

Tokoh-tokoh Islam kaya

Apabila kita bercermin pada tokoh-tokoh Islam, maka dapat dipastikan sebagian besar mereka adalah orang-orang yang kaya, sangat sedikit dari mereka yang tergolong tidak kaya. Ali bin Abi Thalib salah satu di antara yang tidak tergolong kaya, tetapi beliau sangat kaya hati dan ilmu. Sedangkan para sahabat yang lain merupakan orang yang kaya raya. Mereka mempunyai harta yang sangat melimpah. Dalam satu riwayat dijelaskan, bahwa Rasulullah SAW ketika menikah dengan Khadijah binti Khuwailid memberikan dua puluh unta terbaik sebagai mahar yang bernilai Rp. 1.000.000.000,00.

Ini merupakan angka yang sangat fantastis. Umar bin Khatab mewariskan sebanyak 70.000 unit property yang bernilai triliyunan rupiah. Usman bin Affan mewariskan property sepanjang jalan Aris-Khaibar senilai triliyunan rupiah. Abu Bakar Al-Shiddiq menyedekahkan seluruh harta kekayaannya yang bernilai triliyunan rupiah. Abdurrahman bin `Auf juga mewariskan harta senilai triliyunan rupiah. Istri kesayangan Rasulullah SAW, Khadijah binti Khuwailid juga merupakan seorang pedagang yang kaya raya.

Begitu juga dengan tokoh-tokoh Islam di Indonesia. Pendiri organisasi Islam NU (Nahdahtul Ulama) yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia tidak lain adalah Hadratusy Syaikh Hasyim Asy`ari yang merupakan orang kaya raya. Beliau  memiliki hewan ternak yang sangat banyak. Beliau juga memiliki tanah yang sangat luas kelak diwakafkan untuk membangun Lembaga Pendidikan (Pesantren Tebu Ireng, Jombang). Begitu juga dengan K.H. Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri organisasi Islam dengan amal usaha terbesar di Indonesia yaitu organisasi Muhammadiyah yang kelak membawa perubahan dan pencerahan pada pendidikan Indonesia. Beliau adalah saudagar yang kaya raya. Menurut catatan sejarah, beliau berhaji ketika usianya yang masih belia. Selain itu, organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) yang turut memmperjuangkan kemerdekaan Indonesia merupakan sekumpulan orang-orang yang kaya.

Mereka semua adalah orang yang kaya, akan tetapi mereka tetap sederhana, selalu mengingat Allah, dan senantiasa bersyukur kepada Allah. Dan inilah sebenar-benarnya zuhud dan qanaah. Alangkah indahnya orang kaya raya yang zuhud dan qanaah senantiasa bersyukur, berzakat, berinfak, sedekah, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya umat Islam, khususnya umat Islam Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Dengan menjadi orang kaya dan menguasai perekonomian, maka semuanya menjadi mudah. Dengan menjadi kaya, otomatis semua mudah dilaksanakan, mulai dari membangun lembaga pendidikan, membangun lembaga sosial, membangun rumah sakit, membangun fasilitas olahraga, membantu sesama, memberangkatkan haji orang lain, dan lain sebagainya.

Ada satu yang perlu dicatat, bahwa “uang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya butuh uang, dan itu diperoleh dari usaha yang keras”. Wallahu a`lam bi al-showab.

0 Response to "Antara Islam dan Kaya"

Post a Comment