Golput dalam Pandangan Islam

Oleh Ahmad Musta'idAktifis LPS Gema Muslimin Kudus

Di bulan ini, tepatnya pada 9 Juli 2014, masyarakat Indonesia sedang malaksanakan pesta demokrasi. Pesta demokrasi yang kali ini memang kebetulan bertepatan di bulan puasa. Hal ini, bagi yang sudah memiliki hak pilih tentu saja kita jangan menjadikan alasan untuk golput. Istilah golput sendiri itu memiliki pengertian sebagai suatu tindakan yang dilakukan oleh salah seorang yang telah memiliki hak pilih, tetapi ia sengaja tidak menggunakan  hak pilihnya secara baik.

Memang, golput itu tak terlepas dari suatu alasan. Banyak alasan yang bermacam-macam. Padahal, hanya satu suara saja itu akan menentukan siapa pemimpin kita dalam lima tahun ke depan.  Sebagai rakyat  biasa, terkadang ada yang hanya sekedar menilai  seperti ini “ Toh, kalau yang jadi pemimpin itu siapa saja, tentu mereka tak akan kenal sama aku, percuma saja kalau aku memilih pemimpin yang tidak kenal sama aku”.

Penyebab golput

Dapat dikatakan bahwa setiap pesta demokrasi, presentase golput memang selalu naik. Itu semua akan menjadi sebuah pertanyaan besar, mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Faktor golput pertama

Bisa jadi penyebab banyaknya golput yaitu kurangnya adanya sosialisasi dari lembaga Komisi Pemilihan Umum (KPU). Seharusnya lembaga tesebut harus melakukan kegiatan yang sedang tren saat ini yaitu “ blusukan”  ke daerah pelosok-pelosok  yang sulit terjangkau serta kurangnya adanya informasi, guna mensosialisasikan alur pemilihan dan tata cara pemilihannya.

Bagaimanapun juga, kini  di daearah Indonesia sendiri masih banyak daerah yang terpencil yang notabenya masih kurangnya informasi terkait tentang  masalah pemilu. Seharusnya KPU juga memang harus merekrut para tokoh-tokoh masyarakat untuk membentuk sebuah ide yakni membentuk kader-kader anti golput. Dengan suatu hal bahwa para kader-kader tersebut harus terbebas dari keikutsertaan para kandidat tertentu atau tim sukses partai tersebut.

Faktor golput kedua

Memang salah satu yang menyebabkan adanya golput itu adalah karena adanya suatu sikap yang apatis. Peristiwa yang seperti ini biasa terjadi di tengah kalangan masyarakat  yang notabenya masih diambang sebagai negara berkembang. Masyarakat mengira, ia memilih atau tidak, tidak akan ada perbedaan yang akan dirasakannya, mereka menganggap itu suatu hal yang biasa seperti halnya  kala masyarakat mendapatkan gaji seperti biasa.

Perubahan atas presiden  yang baru terpilih dan menjalankan visi- misi atas status baru ketika menjadi presiden belum bisa dirasakan oleh masyarakat secara total. Hal inilah yang menyebabkan munculnya sikap apatis dalam masyarakat.

Faktor golput ketiga

Calon presiden biasanya baru melakukan kegiatan “blusukan” dengan masyarakat ketika dirinya hendak mencalonkan diri sebagai presiden. Pada dasarnya, sebelumnya ia memang jarang atau bahkan tidak pernah sekalipun menjadikan dirinya sebagai sosok pelayan masyarakat.

Kalau semua calon presiden menarik simpati para pemilih dengan cara seperti itu, mungkin bagi rakyat kecil akan merasa kesusahan mendapatkan sosok pemimpin yang berjiwa negarawan. kalu kandidat yang mencalonkan hanya sekedar ingin mendapatkan banyaknya uang dari kursi jabatan, yang kemudian ia akan terus memperbesar perutnya, pastilah negara Indonesia akan semakin terpuruk.

Lantas, bagaimana hukum golput dalam pandangan Islam? Dalam Islam sendiri memang ada empat hukum  antara lain haram, mubah, makruh, dan sunah. Golput dikatakan haram, apabila hal tersebut dilakukan untuk niat mengacaukan atau membubarkan pemilu. Golput dikatakan mubah, apabila hal tersebut diniatkan karena ia tak ingin menjadikan gagal atau rusaknya pemilu . Para pemilih hanya merasa takut untuk memilih sosok pemimpin yang belum mereka kenal. Bagi mereka  Hal ini tidak bermanfaat baginya. Mereka tidak akan mendapatkan dosa ataupun pahala. Golput dikatakan makruh, apabila para pemilih bersikap acuh  tak acuh.

Mereka berpikir bahwa ada dan tidaknya sosok pemimpin, hidup mereka tidak akan sejahtera. Mereka tidak akan memperoleh pahala ataupun dosa jika meninggalkan sunah. Hukum sunah ini berlaku kepada diri kita masing-masing, apabila kita tahu bahwa kandidat  pemimpin itu jahat atau dzalim. Kita akan mendapatkan pahala, apabila kita melakukan tindakan golput tersebut. Sekarang yang berkembang dimasyarakat adalah golput yang makruh. Kini rakyat meremehkan dan menyikapi pemilu dengan sikap acuh.

Padahal, negara Indonesia sendiri kini sedang membutuhkan jasa sosok peran aktif rakyat dan partisipasi mereka supaya aturan – aturan yang terdapat dalam tata negara dapat berjalan dengan lancar. Tanpa adanya partisipasi rakyat, tidak mungkin semua aturan –aturan dapat berjalan dengan lancar. Jika golput karena kita tidak mengenal sosok pemimpin kita, sebaiknya kita rela untuk memohon kepada Tuhan. Sehingga kita diberikan petunjuk untuk menentukan sosok pemimpin yang tepat untuk dipilih. Jika kita bersikap acuh tak acuh terhadap pemerintahan Indonesia, peluang korupsi para pejabat tinggi negara bisa jadi makin besar.

Ilustrasi gambar: Nefosnews

0 Response to "Golput dalam Pandangan Islam"

Post a Comment