Hukum Membahagiakan Istri Menurut Islam


ISLAMCENDEKIA.COM – Bagi kaum Adam yang sudah memiliki istri, membahagiakan istri hukumnya adalah wajib. Kalau tidak membahagiakan, tampaknya mereka pura-pura menjadi suami. Itu harus dipahami bagi semua suami di dunia ini. Karena menjadi suami itu tidak semudah membalik telapak tangan.

Dalam Islam, di Alquran disebutkan bahwa suami adalah pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi suami. Pesan Alquran itu memberi pengertian bagi kita bahwa suami istri harus saling melengkapi, menyayangi dan tidak boleh melecehkan apalagi membuat sedih dan galau. Jadi, hukum membahagiakan istri adalah wajib.

Mengapa wajib? Suami merupakan kepala rumah tangga. Ia imam dan terdepan. Tugas imam adalah membahagiakan makmumnya. Ibarat sopir, ia harus menjadikan suasana bus yang nyawan, wangi, harmoni dan membuat senyum semua penumpang. Begitu pula dalam bahtera rumah tangga. Tanpa memberi kebahagiaan, maka rumah tangga menjadi gersang dan tandus serta istri akan mengalami kekeringan spiritual.

Menurut Hamidulloh Ibda, Penulis Buku Stop Pacaran Ayo Nikah, menjadi suami itu seperti penggembala. Ia harus tahu karakter dan kebutuhan yang digembalai. “Pengembaraan hidup istri itu akan indah dan bahagia, ketika suami mampu menciptakan kegembiraan dan membuat dialektika asmara dengan indah pada istri. Tanpa itu, istri akan mengalami kekeringan asmara,” ungkap Dia.

Prinsipnya, menurut Ibda sangat simpel. “Berumah tangga itu kan seperti berorganisasi. Jadi semua tak harus linier seperti pendapat orang umum. Kalau istri tak sempat memasak, mencuci baju, menyapu rumah, sang suami juga bisa membantu pekerjaan tersebut. Karena semua baik ya yang mau membantu pekerjaan sepele di rumah,” ujarnya.

Tak kalah penting, lanjut Ibda, semua harus tahu posisi dan tugas serta wewenang masing-masing. “Suami juga tahu posisinya, istri juga demikian. Kalau tidak, rumah tangga pasti rentan terjadi pertikaian,” katanya. Ibda juga menjelaskan bahwa sebenarnya membahagiakan istri tak hanya urusan biologis atau urusan ranjang. Meskipun membahagiakan istri di ranjang adalah ibadah, namun selain itu harus dipacu usaha membahagiakan istri dalam berbagai hal bahkan di semua hal.

Senada dengan itu, M Qomarudin, Pegawai UPT Perpustakaan IAIN Walisongo Semarang juga menilai baik dan buruknya istri sangat ditentukan suami. “Banyak perempuan nakal ketika menikah dengan suami baik, mereka menjadi baik bahkan menjadi saleha seratus persen. Intinya ada pada suami,” ungkapnya.

Tak hanya kebutuhan biologis, lanjut Qomar, kebutuhan sepele seperti jalan-jalan dan belanja juga harus dipahami suami. “Membahagiakan istri itu simpel. Tak perlu kita ajak ke tempat mewah. Kita ajak jalan-jalan pakai motor keliling di alun-alun saja sudah senang. Intinya, suami harus tahu kebutuhan istri, baik spiritual maupun material,” ungkap bapak dari 1 anak tersebut.

Qomar juga mencontohkan Nabi Muhammad Saw yang dulu membahagiakan istrinya dengan cara simpel, jitu dan revolusioner. “Kalau suami cerdas dan kreatif, cara sesimpel apa pun bisa terlihat waw di depan istri,” pungkas Dia.

Reporter dan Editor: Achmad Hasyim. Foto: Arsti

0 Response to "Hukum Membahagiakan Istri Menurut Islam"

Post a Comment