Hukum Suntik dan Infus Saat Puasa

Oleh: Ahmad Musta'id, Aktifis LPS Gema Muslimin

Memang suatu kehidupan itu kadang tak terlepas dari sebuah penyakit. Ketika salah seorang menginjak sakit di bulan Ramadhan, tentu saja mereka banyak yang memperbincangkan tentang masalah hukum disuntik atau diinfus dikala sedang menjalankan puasa. Pengertian suntik dan infus sendiri itu memang sama-sama memasukkan cairan ke dalam tubuh dengan alat bantu yang berupa jarum. Tetapi, keduanya tentu saja mempunyai pebedaan dalam pandangan tersendiri.

Perbedannya, saat suntik itu sendiri berisi cairan yang berupa obat-obatan, sedangkan infus sendiri biasanya berupa sebuah nutrisi yang sangat diperlukan oleh tubuh. Memang pada komitmennya, orang yang sedang sakit itu badannya lemas, tidak mempunyai nafsu makan, atau karena  dengan pertimbangan lain tidak dibenarkan mengkonsumsi makanan sesuai cara yang normal. Disini, tentu saja infus akan dijadikan sebagai sebuah solusi.

Karena suntik dan infus sendiri itu memang mempunyai suatu perbedaan oleh zat yang dikandungnya. Hal ini tentu saja suntik dan infus memiliki efek yang berbeda-beda. Setelah diinfus, tubuh kita akan menjadi terasa relatif lebih segar dari yang sebelumnya dan tidak terasa lapar, meskipun juga tidak kenyang pula. Sementara suntik sendiri, itu memang obat murni untuk menyembuhkan penyakit, bukan menggantikan sebuah makanan dan minuman.

Walaupun sutik dan infus itu mempunyai kegunaan atau fungsi tersendiri, pada hakikatnya suntik dan infus itu merupakan saling melengkapi. Saat penyakit susah untuk disembuhkan, jika suatu tubuh kekurangan vitamin dan kandungan zat-zat lain yang sangat diperlukan. Sementara dengan terpenuhinya kebutuhan gizi, tidak secara otomatis menghilangkan penyakit, tanpa ditunjang dengan adanya obat-obatan.

Puasa sendiri itu mempunyai pengertian meninggalkan makan, minum dan berhubungan seksual. Pengertian makan dan minum dalam konteks berpuasa, ternyata itu lebih luas dari sekedar memasukkan makanan dan minuman melalui rongga mulut.Ia mencakup masuknya rongga ke dalam rongga tubuh melalui organ yang berlubang terbuka ( manfadz maftuh) , yaitu melalui mulut, telinga, dubur, kemaluan dan hidung.

Melihat dengan adanya ketentuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa suntik sendiri itu tidak membatalkan puasa. karena proses masuknya obat-obatan tidak melalui organ yang berlubang terbuka, tetapi melalui jalur tersendiri, yakni melalui jarum khusus yang ditancapkan ke dalam tubuh. Lagi pula, suntik sendiri tidak menghilangkan rasa lapar  dan dahaga sama sekali cuma menimbulkan sedikit rasa sakit.

Adapun mengenai masalah infus sendiri, menurut penuturan dari Dr. Yusuf Qardhawi dalam Fatawi Mu’ashirah, 324, infus merupakan suatu hal yang bersifat inovasi ( penemuan baru), sehingga tidak diketemukan keterangan hukumnya dari suatu Hadits, sahabat, tabiin dan para ulama terdahulu. Oleh karena itu, ulama kontemporer mempunyai perbedaan pendapat tersendiri, antara suatu hal yang membatalkan dan tidak membatalkan. Dr. Yusuf Qardhawi, meskipun memiliki pandangan yang cenderung kepada pendapat yang tidak membatalkan, Ia menyarankan supaya agar menghindari penggunaan adanya infus pada saat  menjalankan ibadah puasa. Alasannya, meskipun infus sendiri itu tidak membuat rasa kenyang, tetapi cukup menjadikan tubuh terasa relatif lebih segar.

Kesimpulannya, infus sendiri dapat dilihat dari dua sisi yaitu proses masuknya dan efek yang akan ditimbulkan. Ditinjau dari sisi yang pertama, infus tidak membatalkan puasa, seperti suntik, sebab masuknya cairan itu sendiri tidak melalui organ tubuh yang berlubang terbuka. Tetapi melihat faktanya bahwa ia memiliki potensi menyegarkan tubuh dan menghilangkan rasa lapar serta dahaga, kita tentu saja patut bertanya : apakah menyatakan infus tidak membatalkan puasa tidak berlawanan dengan tujuan puasa itu sendiri, yakni merasakan rasa lapar dan dahaga sebagai suatu wahana latihan mengendalikan hawa nafsu dan akan menumbuhkan rasa empati kepada kaum Mustadh’afin?

Untuk menghadapi suatu permasalahan yang disangsikan hukumnya, tentu saja cara yang paling efektif adalah dengan cara menghindarinya, sebagai yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW mengenai masalah tentang suatu perkara yang bersifat Syubhat ( tidak jelas halal dan haramnya ). Hal ini memiliki makna tersendiri, yakni pendapat infus membatalkan puasa lebih mencerminkan kepada sikap berhati-hati dalam beragama. Toh orang yang sedang sakit sendiri itukan sudah mendapatkan dospensasi berbuka pada bulan puasa.

0 Response to "Hukum Suntik dan Infus Saat Puasa"

Post a Comment