Manfaat Nikah Dini Menurut Cendekiawan Islam


SEMARANG, ISLAMCENDEKIA.COM – Bagi pemuda yang belum nikah, selalu terlintas di benak mereka, apakah Saya harus nikah dini atau nikah tua? Hal ini lazim dipikirkan pemuda, karena mereka pasti ingin menikah selama masih normal.

Bagi sebagian orang, menikah memang butuh modal banyak, baik secara materi maupun rohani. Lebih berat lagi, laki-laki harus mempertimbangkan bibit, bebet dan bobot istri yang akan dipinang. Untuk itu, sebelum memilih nikah dini atau nikah di usia tua, ada beberapa tips yang dijelaskan Hamidulloh Ibda, penulis buku Stop Pacaran, Ayo Nikah yang juga Direktur Eksekutif Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah.

Pertama, bagi Ibda, menikah itu adalah sunnah rasul. “Jadi, umat Islam yang normal pasti ingin menikah dan dinikahi. Kalau tak ingin menikah, tampaknya mereka kok berpura-pura menjadi manusia. Karena pernikahan, menjadi pembeda manusia dengan hewan. Kalau manusia ya nikah. Kalau hewan pasti zina dan melakukan hubungan intim seenaknya,” ujar aktivis yang menikah 1 Juni 2014 itu.

Di buku Stop Pacaran Ayo Nikah, lanjut Ibda, hal itu sudah dijelaskan semua. Maka kalau mau paham ya silahkan beli dan baca. “Bagi Saya, menikah yang baik ya tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Nanti kalau kita menikah usia tua, kasihan anak kita, karena dikiranya kita adalah kakeknya, bukan bapaknya,” kata Ibda.

Lalu, di usia berapa kita cocok dan pas serta ideal untuk menikah?
Dalam pasal 7 UU No. 1 tahun 1997 tentang Perkawinan ayat (1) disebutkan perkawinan pihak pria umur 19 tahun dan wanita umur 16 tahun. Secara UU, Ibda tidak setuju akan hal itu. Karena usia 16 bagi perempuan itu masih masuk UU KPAI dan masih tergolong anak-anak. “Maka, usia ideal itu ya 18 tahun bagi perempuan dan laki-laki minimal 21 tahun. Bagi laki-laki, paling ideal adalah umur 21 sampai 30 tahun. Jika lebih dari 30, itu tergolong terlalu tua,” tandasnya.

Kedua, tersesat menikah muda itu lebih baik daripada tergelincir menikah di usia tua. “Menikah itu bagi Saya adalah kesuksesan yang tiada tara. Banyak kenalan, teman dan kolega Saya yang sudah sukses, guru, PNS, dosen, pengusaha, tapi mereka memilih hidup lajang sampai berumur 30 bahkan sampai 40 tahun lebih. Mereka tak berani menikah dan tak mau menikmati indahnya mahligai rumah tangga,” katanya.

Nikah muda, bagi Direktur Eksekutif Formaci Jateng ini merupakan perjuangan yang tidak bisa dilakukan sembarang orang. “Daripada zina lama-lama, pacaran bertahun-tahun tapi haram, mending ya menghalalkan hubungan lewat pernikahan. Inilah salah satu motivasi Saya menulis buku Stop Pacaran, Ayo Nikah,” beber mahasiswa Pascasarjana Unnes itu.

Ketiga, nikah muda atau tua, bagi Ibda adalah keputusan pribadi. Semua harus ada pertimbangan, persiapan, konsep dan visi mis jangka panjang dan pendek. “Setidaknya, kalau kita sudah menikah, pikiran kita sudah fokus. Jika sudah menikah, secara sosial kita lebih bermartabat daripada berusia tapi masih pacaran sliwar-sliwer seperti hewan saja,” tandasnya.

Keempat, pernikahan itu memang bukan hanya masalah harta dan budaya. Tapi, bagi Ibda, menikah itu adalah masalah keberanian. “Kalau berani, calon mertua dan orang tua pasti mendukung kita. Saya sudah membuktikan hal itu. Justru, proses dan kesungguhan perjuangan kita akan dibantu Allah dengan rezeki yang tidak disangka-sangka datangnya dari mana,” ujar Dia.

Kelima,menikah di usia muda dan tua menurut Ibda pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Akan tetapi, banyak orang tak berani menikah karena alasan belum mapan. “Kalau bagi Saya, membangun fondasi kehalalan dalam hubungan cinta, lebih mulai daripada membangun ekonomi bertahun-tahun, sampai kaya dan mapan tapi tak berani nikah dan melestarikan pacaran tanpa nikah,” ujar Ibda.

Keenam, kemapanan dan kenyamanan dalam nahkoda cinta memang beda tipis. “Namun, bagi Saya kemapanan itu bisa dicari, tapi kenyamanan itu tak terbeli. Maka dari itu, prinsip dan motivasi menikah bagi Saya adalah kenyamanan dulu, bukan kemapanan. Itulah cita-cita dan makna keluarga sakinah mawaddah warahmah yang mengutamakan poros cinta kasih dan kemurnian asmara daripada harta. Orang yang berani menikah muda itu bukan mencari dan mengejar kemapanan, tapi kemapanan lah yang akan mencari dan mengejar orang yang berani nikah muda,” pungkasnya.

Lebih penting dipahami lagi, usia tua itu bukan jaminan kesuksesan dan kemapanan. “Kalau mau berusaha ya pasti semua orang sukses. Bahkan, usia di bawah 20 tahun pun bisa sukses jika berjuang. Itu sudah rumus dunia kok,” bebernya. Jadi, perlu ditegaskan kembali, beranikah Anda nikah muda? Anda punya pilihan!

Reporter dan Editor: Achmad Hasyim. Foto: Unikz.

2 Responses to "Manfaat Nikah Dini Menurut Cendekiawan Islam"

  1. zaman sekarang jangan disamakan pada zamannya si Mamad SAW bro. Bagi yg belum mandiri, pasti mereka minta dinikahkan ma ortunya mis lulus SMA, atau PT. Menurut hemat saya, nikah itu jgn bermodalkan k****L & b*wu* saja. Ingat lah harta isa cepat habis, apalagi mengandalkan harta ortu dan atau camer...., apalagi model anaknya suka foya2 tak isa memanage finansial, serta ingat Alloh maha pembolak balik hati dan nasib seseorang, duluu kaya (hartawan) ehh gak taunya esok2 jatuh miskin parahnya jadi fakir. Cerai deh, jadi duda kumbang dan janda kembang (itu pun kalau mereka blm dikarunia anak). Ingat 80% kasus perceraian didominasi masalah ekonomi selain KDRT, visi misi dll. Jadi bersikap bijak lah jgn terbawa hawa nafsu di usia muda yg banyak godaan, Jgn semata mata mengandalkan harta ortu ahh "hohohihe" pra nikah, ntr kalau bunting kn bakal dinikahkan (maksudnya biar aibnya gak kebongkar gt loch). Sabar, berpuasa, berdoa, selagi muda : rintislah karirmu di usia belia. Hiduplah mandiri, anak nangis, oek oek oek jgn loe pasrahkan ke mertua dan atau ortu (permasalah rumtang loe), Ok. monggo dihayati.

    ReplyDelete
  2. anjing lu yang komen pertama, pemuja tuhan yang pake celana kolor,

    goblok sia..

    yang dipujanya aja eror, makanya mikirnya jg eror

    ReplyDelete