Santri Pendobrak Keadaan

Ahmad Musta'id - Aktivis LPS Gema Muslimin; Siswa MA Nahdlatul Muslimin Kudus

Banyak orang yang menganggap bahwa dunia kepesantrenan sekarang tidak begitu penting. Tentu saja mereka menganggap bahwa manfaat dunia kepesantrenan untuk masa depan itu tidak begitu berguna, mereka menganggap bahwa dunia umum atau dunia kerja memang sudah jelas untuk masa depannya. Padahal kita sekarang ini hidup di era globalisasi, banyak perubahan yang terjadi di daerah kita akibat adanya pengaruh-pengaruh budaya dari bangsa barat yang dulu belum pernah mencampuri budaya bangsa kita, tentu saja hal ini akan membahayakan budaya daerah kita. Misalnya dari segi berpakaian, tentu saja jelas berbeda antara dunia barat dengan dunia kepesantrenan.

Sepanjang pengetahuan yang telah tersebar selama ini dikalangan akademisi, aktivis, intelektualis, seperti hanyalah mahasiswa yang pantas mendapatkan kedudukan pengubah keadaan, padahal kedudukan tersebut juga berpotensi besar bagi lembaga pendidikan yang bersifat non formal yang berbasis keagamaan seperti halnya pondok pesantren. Peran penting lembaga berbasis keagamaan ini dalam sejarah nasional sepantasnya mendapat penghargaan besar. Tetapi, kenapa tidak mendapat ketidak-aku-an pemerintah, padahal pondok pesantren mampu mencetak pejuang pergerakan nasional. Jadi, bukan hanya mahasiswa saja yang pantas dan mampu untuk diikutsertakan sebagai salah satu subyek pembangunan bangsa saat ini. Melainkan lembaga dengan latarbelakang kultural.

Sebuah kontribusi persembahan lembaga pesantren yang  jarang ditempatkan di wilayah yang strategis dalam setiap pembangunan nasional. Akan pula menjadi referensi perbandingan dimata pemerintah dalam membangun kembali bangsa Indonesia kedepan, karena tidak ada campur tangan dari lembaga-lembaga seperti pesantren yang memiliki tradisi kebudayaan yang sangat kuat, bisa dimungkinkan tidak akan berjalan dengan mulus pembangunan tersebut. Usaha-usaha pembangunan memang dapat mengabaikan kebudayaan, namun usaha-usaha itu tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa pembangunan mempengaruhi kebudayaan atau dipengaruhi oleh kebudayaan.

Pesantren yang kini diakui sebagai model pendidikan awal di negara Indonesia sampai saat ini masih bisa eksis dan mampu mempertahankan kredibilitasnya dalam masyarakat. Meski demikian peran pesantren saat ini boleh dikatakan sangat terbatas karena berhubungan dengan pengelolaannya kurang spesifik dan fasilitas yang dimiliki sangat sederhana.

Pengelolaan pesantren yang sangat sederhana tersebut mudah dilihat dari kurikulum sebagian pesantren yang belum dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan ilmu dan teknologi. sebagai akibatnya,  para santri-santri dahulu  juga seringkali kebingungan dalam menghadapi tantangan zaman.
Fakta lain dari sebuah pengelolaan pesantren yang sangat sederhana adalah keberadaan tenaga pengajar pesantren yang belum dipersiapkan secara sistematis sebagai ustadz profesional yang menguasai materi dan sekaligus mampu mempraktikkan metode dan strategi pembelajarannya.

Dari kesederhanaan tersebut,  pendidikan di dunia pondok pesantren yang dengan dunia ajarannya dapat mengajarkan pada anak jiwa pemimpin, yang dimulai sejak mereka masuk pesantren yang mulanya mengatur dirinya sendiri mulai bangun tidur sampai bangun tidur lagi, mencuci baju, memasak, mengurus keperluan sendiri hingga mencari bahan untuk memasakpun juga sendiri. Santri di pesantren diajarkan sebisa mungkin umtuk mandiri dan berlatih disiplin sebagai bekal kelak ia beranjak dewasa. Santri pada tingkat atas, mulai memimpin adik-adik kelas baik sebagai pengurus di madrasah maupun pesantren, tetapi minimnya keikutsertaan pejabat pada saat ini terhadap perkembangan dan kemandirian bangsa.

Kebanyakan di era sekarang, pejabat itu bisanya hanya memanfaatkan jabatan demi kepentingan pribadi dan demi keuntungan sendiri. Harapan dari rakyat Indonesia agar pemimpinnya dapat merubah Indonesia sebagai negara maju, makmur, tegas, adil, yang mau memikirkan rakyat kecil, yang tidak lupa sama kulit kacangnya, karena sekarang banyak pemimpin yang berjiwa pecundang yang hanya mau memikirkan kepentingan dirinya sendiri yang terus membesarkan perutnya dengan merampas hak yang seharusnya milik rakyat, sangat sulit sekali menemukan pemimpin yang berjiwa pemenang dengan berjalan sesuai dengan keinginan, harapan dan impian rakyatnya.

Maka sekarang ini perlu adanya dobrakan-dobrakan para pejabat baru yang berlatar belakang pesantern yang telah mampu hidup di Masyarakat Islam, pemimpin sekurang-kurangnya memiliki 4 sifat seperti pada Rasulullah SAW, yakni; shidiq, tabligh, amanah, fathonah (STAF). Oleh karena itu pesantren adalah tempat yang paling memungkinkan untuk melakukan pembelajaran kepemimpinan yang jarang didapat  di lembaga pendidikan di luar pondok pesantren. Sebenarnya sih, setiap manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin untuk metafisik dirinya sendiri dan setiap pemimpin kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari segala kepemimpinannya.

Merujuk pada stetmen Bahtiar Efendi (1995) bahwa santri adalah sebagai sosok yang lahir dari pesantern merupakan salah satu sarana pendukung kedisiplinan dan sarana kemandirian dan pembaharuan di Bangsa ini, yang menyelimuti pejabat-pejabat di negri ini. Jiwa kemandirian dan jiwa kesederhanaan yang dimiliki oleh kaum pesantren yang telah mengajarkan bagaimana menjadi sosok yang merakyat, semoga dengan peran santri dan pondok pesantren kedepannya bisa menjadi dan bisa mencetak sosok pemimpin yang berkualitas dan sederhana, bertanggug jawab dan tegas.

0 Response to "Santri Pendobrak Keadaan"

Post a Comment