Skripsi Aspal dan Kejahatan Intelektual

ISLAMCENDEKIA.COM - Lingkungan kita sudah dipenuhi dengan kejahatan, dan hal ini perlu untuk dikaji ulang. Namun, perlu diketahui, kejahatan tidak hanya berupa tindak kriminal, namun kebohongan dan penipuan juga termasuk kategori kejahatan.

Tak hanya di masyarakat, hampir seluruh tempat sering terjadi kejahatan. Bahkan, di dalam pendidikan juga terjadi kejahatan intelektual berupa skripsi aspal (asli tapi palsu) yang saat ini menjamur di berbagai kampus di Indonesia.

Skripsi merupakan syarat mutlak mahasiswa untuk menjadi sarjana. Karya ilmiah ini, merupakan tugas berat mahasiswa sebelum meraih wisuda, karena membutuhkan pemikiran, waktu, dan tenaga ekstra. Apapun kampus dan fakultas yang diambil oleh mahasiswa program strata-1 (sarjana), menyusun skripsi merupakan harga mati. Jadi, tanpa skripsi mahasiswa tidak bisa lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana.

Skripsi Aspal

Skripsi, merupakan karya ilmiah yang harus dikerjakan dengan metode ilmiah,  isinya pun harus ilmiah dan substantif. Jadi, tidak sembarang orang bisa menulis skripsi dengan baik dan benar.

Menurut Dian Marta Wijayanti, Lulusan Terbaik PGSD Unnes 2014, dewasa ini, cara apapun telah dilakukan oleh sebagian mahasiswa untuk membuat skripsi. Banyak dari kalangan mereka yang berbuat curang, baik dengan copy paste, rekayasa data, membeli, dan mencari jasa penulisan skripsi. "Mahasiswa yang lulus dengan skripsi aspal (asli tapi palsu), mereka termasuk golongan mahasiswa pemalas," ujarnya.

Maraknya mafia skripsi, lanjut Dian, tidak lain dipicu karena honor yang menggiurkan. Sering kita menjumpai di berbagai tempat banyak terlihat reklame, spanduk, brosur, pamplet, yang menawarkan jasa penulisan skripsi. Hal tersebut memperburuk citra dunia pendidikan.

Menurut penelitian Dian, tentang fakta calo skripsi di Jawa Tengah, hampir 85% calo tersebut adalah dari kalangan mahasiswa sendiri. Mereka melakukan bisnis tersebut bukan hanya secara tertutup, namun secara terang-terangan melalui media. Mereka mematok satu bendel skripsi sekitar 1 jutaan. Skripsi tersebut bisa dipesan per-bab atau langsung satu bendel, calo hanya menyesuaikan pemesan. Jadi, hal ini sangat ironi, karena pelaku merupakan salah satu insan terdidik yang seharusnya berbuat jujur dalam pendidikan.

Selain di Jawa Tengah, Dian yakin di berbagai kampus di kampus seluruh Indonesia pasti terjadi fenomena seperti ini. Hal ini diperkuat dengan adanya iklan-iklan jasa skripsi di internet maupun media cetak. Itu artinya, permasalahan di berbagai wilayah hampir sama, yaitu maraknya skripsi aspal.

Sarjana Prematur

Menurut Hamidulloh Ibda, Direktur Eksekutif Forum Muda Cendekia (Formaci) Jateng, sarjana prematur merupakan mahasiswa yang lulus cepat berkat skripsi aspal. Karena belum matang bekalnya dan tidak mampu membuat skripsi, mereka berbuat curang dengan cara membeli skripsi demi gelar sarjana.

"Dalam proses bimbingan skripsi, dosen pembimbing hanya menerima bersih. Artinya, dosen tidak mau tahu dari mana skripsi tersebut, hasil karya sendiri, membeli, copy paste, tidak menjadi masalah. Yang penting mahasiswa bisa menunjukkan naskah skripsi waktu bimbingan," papar Ibda.

Jika demikian, sangatlah mudah bagi mahasiswa untuk berbuat curang. Praktek pembodohan ini sudah berlangsung lama. Bahkan, ada lembaga yang terang-terangan bisa membuatkan skripsi. Bukan sekadar membantu mengedit atau mengetik, tapi membuatkan sampai selesai.

Di Jawa Tengah, lanjut Ibda, hampir semua Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta banyak terjadi praktek skripsi aspal. Apalagi, mahasiswa non reguler dan program sertifikasi yang kuliahnya waktu sore dan malam hari. Mahasiswa tersebut sangat besar indikasinya untuk menjadi sarjana prematur. "Selain SDM yang kurang, ditambah dengan kesibukan mereka, menjadi pemicu untuk membeli skripsi. Pasalnya,  kebanyakan dari mereka sudah bekerja dan berkeluarga," ujar Ibda.

Kebohongan akademik tersebut, membuat kualitas lulusan dipertanyakan. Selain itu, mereka juga terdidik untuk berbuat korup, karena  mereka menggunakan jalan pintas dan instan. Jika demikian, tentu saja kualitas kesarjanaanya diragukan. Belum saatnya jadi sarjana, namun memaksakan diri untuk menjadi sarjana meskipun dengan cara kotor.

Matangkan Bekal

Sebelum menyusun skripsi, tentunya mahasiswa mendapatkan mata kuliah tentang “metodologi penelitian”. Mata kuliah tersebut mengajarkan bagaimana cara meneliti, menyusun, dan menulis skripsi dengan kaidah ilmiah yang baik dan benar. Namun, kenyataanya masih banyak mahasiswa belum bisa membuat skripsi.

Maka, sejak dini mahasiswa harus mematangkan bekal sebelum menjadi sarjana, terutama dalam hal menulis skripsi. Hal itu bisa dilakukan dengan menajamkan pemahaman tentang metodologi penelitian, mengikuti diskusi, seminar, dan training –training penulisan skripsi. Selain itu, sejak dini mahasiswa harus mempersiapkan  judul dan latihan membuat proposal skripsi. Setelah itu, mereka bisa belajar dengan mahasiswa yang sudah lulus atau sedang proses penyusunan skripsi.

Praktik kecurangan di dunia pendidikan sangat memprihatinkan. Mahasiswa sudah terdidik dengan cara yang salah. Ketika masih mahasiswa berbuat curang, lalu bagaimana nanti kalau jadi pemimpin? Menulis skripsi akan mudah ketika mahasiswa matang bekalnya dan paham tentang ilmu penulisan skripsi. Jadi, mematangakan bekal merupakan solusi konkrit untuk meminimalisir sarjana prematur. Apa guna jadi sarjana, kalau tak bisa berbuat apa-apa untuk bangsa ini. Berbuat jujur merupakan kunci meraih kebahagiaan, begitu pula sebaliknya.

Kampus sebagai pabrik pencetak sarjana, sudah saatnya membentengi mahasiswa agar tidak menjadi sarjana prematur. Kampus harus menyeleksi skripsi secara teliti pada saat bimbingan atau pengajuan skripsi. Ketika terlaksana, dipastikan akan melahirkan sarjana berkualitas yang akan menjadikan bangsa ini menjadi bermartabat.

Laporan Khusus Litbang Islamcendekia.com.

0 Response to "Skripsi Aspal dan Kejahatan Intelektual"

Post a Comment