Umat Katolik Ingin Meriahnya Lebaran

Ilustrasi tradisi sungkem Lebaran yang harus dihidupkan kembali
SEMARANG, ISLAMCENDEKIA.COM - Pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang) media Islam populer "Islam Cendekia" menggelar diskusi lintas iman terbatas di kantor Islam Cendekia, Semarang, Jumat (18/7). Diskusi lintas iman ini diikuti Pemimpin Redaksi Islamcendekia.com Hamidulloh Ibda, Kepala Litbang "Islamic Studies" Lismanto yang juga merupakan Pimpinan Umum Islamcendekia.com, sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Semarang seperti Universitas Negeri Semarang, IAIN Walisongo, Universitas Sultan Agung (Unisula), Universitas Dian Nuswantoro, dan Universias Diponegoro, serta peserta lintas iman.

"Semakin ke sini, gaung Ramadhan dan Lebaran semakin hilang. Ramadhan dan Lebaran tidak semeriah dulu. Lebaran juga sangat cepat dilalui sepeti bukan Hari Raya. Meriahnya Lebaran saat ini mulai berkurang," ujar Maria, umat katolik yang berharap meriahnya Lebaran lebih dari sekadar hari biasa. Menurutnya, semakin tahun, meriahnya Lebaran semakin berkurang dan hampir seperti hari biasa.

Tradisi sungkem lebaran harus dihidupkan kembali

Hal ini dibenarkan Ibda. Menurutnya, Hari Raya Idhul Fitri biasa disambut oleh para perantau yang mudik ke desa-desa. Mereka disambut meriah oleh keluarga kemudian berkeliling ke rumah satu per satu untuk mengucapkan salam "Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin". "Tradisi Lebaran yang sangat meriah tersebut praktis tidak dijumpai belakangan ini, di desa-desa sekalipun," tutur Ibda.

Mahasiswa Unnes Nailul Mukorobin menambahkan, kultur berkeliling rumah untuk mengucapkan selamat Lebaran dan mengucapkan maaf seolah luntur di telan peradaban modern. Jika dulu masih dijumpai tradisi keliling rumah, baik di desa maupun di kota, sekarang sepertinya tradisi tersebut mulai tergerus arus kehidupan. Kalau pun ada, tradisi keliling rumah saat Lebaran praktis susah dijumpai. "Aku merindukan suasana itu. Suasana meriahnya Lebaran dengan tradisi keliling rumah disambut kembang api yang dinyalakan anak-anak kecil," timpal mahasiswa IAIN Walisongo Mustakim.

"Jangan salah. Meskipun saya umat Katolik, tetapi sejak kecil saya selalu menanti-nanti Hari Raya Idul Fitri. Saya rindu meriahnya Lebaran. Lebaran itu memang milik umat Muslim, tetapi saya juga turut merasa senang dengan hadirnya Lebaran dengan tradisi sungkem dan saling memaafkan. Rasa senang saya dengan hadirnya Lebaran sama halnya saat Hari Raya Natal tiba," kata Maria.

Sayangnya, lanjut Maria, kini tradisi sungkem, bersalaman, dan saling memaafkan dengan keliling rumah sepertinya sudah mulai luntur, meskipun masih bisa dijumpai. "Saya berharap agar tradisi Lebaran bisa dihidupkan lagi. Meriahnya lebaran itu serasa sudah menjadi milik semua masyarakat Indonesia," imbuhnya.

Dalam kesempatan diskusi terbatas tersebut, seluruh jajaran Media Islam Populer "Islam Cendekia" mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri kepada segenap umat Muslim di dunia dan kepada seluruh umat manusia di dunia yang merasa bahagia dengan hadirnya Hari Lebaran.

Penulis: Tim Litbang Islam Cendekia/Foto: Solopos Image

0 Response to "Umat Katolik Ingin Meriahnya Lebaran"

Post a Comment