Hakikat Ibadah dalam Islam

Dalam Islam, hakikat ibadah merupakan rasa tunduk, baik jiwa dan raga kepada Tuhan di mana ketundukan tersebut didasari oleh rasa cinta yang tulus kepada Tuhan, bukan karena hal lainnya. Ketundukan segenap jiwa karena cinta kepada Tuhan yang ma'bud dan mengakui kebesarannya sebab alam semesta ini tercipta karena ada yang menguasai dan menciptakannya. Sementara itu, akal, rasio dan sains hanya sebatas bisa merabanya melalui logika dan eksperimen ilmiah sehingga ia tidak bisa menembus hakikat Allah.

Untuk mengetahui hakikat Allah, maka diperlukan keimanan yang kuat dan tulus dengan merasakan tanda-tanda kebesaran-Nya. Hakikat ibadah dalam Islam juga berarti menghambakan dan menundukkan segenap jiwa dan raga kepada Allah yang tidak bisa dilogika dengan ilmu pengetahuan (sains) dan tidak bisa dirasionalisasikan bentuk hakikat atau wujud-Nya.

Menurut Imam Ibnu Katsir melalui tafsirnya, hakikat ibadah adalah suatu definisi yang merupakan kesempurnaan cinta, tunduk, serta takut. Yang dimaksud cinta, tunduk dan rasa takut menurut Ibnu Katsir di sini adalah bentuk perasaan manusia dari kesatuan "cinta, takut, dan tunduk" kepada Allah yang menciptakan segenap alam, baik di langit dan di bumi.

Menurut sejumlah ulama, hakikat dan pokok ibadah menurut Islam adalah apabila seseorang tidak menolak syariat Islam (hukum Allah), tidak berdoa dan meminta sesuatu selain kepada Allah, dan seseorang melakukan segala sesuatu berada di jalan-Nya. Sementara itu, kata beberapa alim ulama mengatakan bahwa hakikat ibadah adalah menyerahkan segala sesuatu kepada Allah sebagai pengendali urusan, sebagai orang yang memiliki maka menyerahkan urusan kepada Allah selaku pembagi, sebagai orang yang menahan maka ridhai Allah menjadi Sang Maha Kuasa yang disembah dan dipuja.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hakikat ibadah dalam Islam yang dikemukakan antara satu ulama dengan ulama lain saling menyempurnakan. Oleh karena itu, pengertian dan hakikat ibadah dalam Islam tidak bisa hanya dimaknai menurut fuqaha atau ahli ushul saja, tetapi juga memahami pengertian, definisi, dan hakikat ibadah yang dikemukakan oleh alim ulama yang lain seperti ahli tauhid, ahli hadis, ahli tafsir, serta ahli akhlak.

Misalnya ahli akhlak berpendapat bahwa hakikat ibadah adalah memperbaiki akhlak atau budi pekerti yang luhur dan bijaksana. Dengan demikian, jika berbagai pengertian dan definisi ibadah dari berbagai pandangan ulama disatukan untuk saling melengkapi maka hakikat ibadah bisa ditemukan sebagai satu kesatuan yang sempurna. Untuk mengetahui pengertian ibadah dari berbagai pandangan ulama dan madzhab secara lebih lengkap, silakan baca artikel Pengertian Ibadah Menurut Islam.

0 Response to "Hakikat Ibadah dalam Islam"

Post a Comment