Membumikan Tasawuf Sosial

Oleh Unsilatur Rahmah

Dunia kian berantakan. Masalah kehidupan terjadi di berbagai dimensi. Mulai dari masalah kepemimpinan Bangsa semisal Bangsa Indonesia, di mana sulit menemukan figur pemimpin yang dapat dipercaya. Masalah ekonomi dunia yang saat ini cendrung menganut ekonomi kapital. Masalah pendidikan yang goalnya lebih pada pengembangan potensi kognitif saja. Hingga masalah yang paling ditakutkan oleh pemuka agama utamanya agama Islam, yaitu tindak asusila dan kriminalitas yang menjadi bagian kompleks dari berbagai dimensi kehidupan.

Masalah yang terakhir, merupakan dampak negatif posmodernisme yang meluas. Penulis tadi katakan masalah tersebut merupakan bagian kompleks dari berbagai dimensi kehidupan. Pasalnya, dimensi sosial, ekonomi, hukum, pendidikan, hingga budaya, mendukung berkembangnya masalah yang dimensi sosial sebagai dimensi paling bertanggung jawab tersebut.

Masalah tersebut menjadi perhatian pihak-pihak yang peduli termasuk dari pemuka agama-agama di dunia. Tak terkecuali agama Islam. Setiap agama hakikatnya mengajarkan manusia menyeimbangkan hubungan dengan Tuhan dan alam. Sebab itu, masalah sosial yang terjadi di hadapan kita tidak hanya diselesaikan dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Tetapi juga mesti melalui pendekatan sosial.

Jika kita feed back pada sejarah keemasan Islam, kehidupan duniawi oleh masyarakat masa itu dinilai sudah gemilang. Kepemimpinan Islam kala itu mencapai puncak kejayaan. Gaya hidup bermewah-mewahan, kepemimpinan yang stabil, serta nyaris tidak ada rakyat yang dikategorikan fakir. Hal itu menjadikan umat Islam kala itu rindu akan mendekatkan diri dengan Allah, Sang Pencipta.

Untuk memenuhi kebutuhan rohani tersebut, masyarakat utamanya ulama kala itu mendekatkan diri kepada Allah, salah satunya dengan menjauhkan diri dari dunia. Mereka menyebutnya dengan ber-tasawuf. Hal itu selaras dengan muatan ajaran tasawuf, yakni zuhud terhadap dunia.

Namun, hal itu pula lah yang menjadi salah satu penyebab kekalahan Islam setelah mencapai puncak kejayaan. Kader-kader yang mau dan bisa membela Islam seperti ulama, justru bersikap konservatif dengan sama sekali tidak peduli dengan kehidupan dunia.

Setereotipe yang saat ini masih melekat dalam mindset pelajar konsep tentang zuhud. Yang mana, zuhud masih dianggap sebagai upaya menjauhkan diri dari dunia. Zuhud harus ditempuh dalam rangka mencapai ma’rifatullah. Jika umat Islam masih menempuh zuhud yang salah dipahami untuk mencapai ma’rifatullah, siapa yang akan memikirkan keadaan umat yang kian amburadul? Padahal, ulama yang penulis simbolkan dengan pelajar atau siapapun yang berkiprah di pendidikan lah yang memiliki kapabilitas di ranah perbaikan krisis kemanusiaan umat.

Untuk itu lah, tasawuf sosial merupakan gagasan cukup brilliant  dalam upaya membina umat. Tasawuf sosial, menurut Robby H. Abror dalam bukunya Tashawuf Sosial, tasawuf sosial merupakan tasawuf yang tidak hanya mengandalkan cinta sang sufi kepada Tuhan. Tetapi bagaimana ia dapat berpartisipasi untuk mengatur kehidupan ini, menjadi khalifah Allah.

Tasawuf menjadi alternatif terhadap berantaknya kehidupan dunia dengan cara mendekatkan dan mencintai Allah dengan sebenar-benarnya cinta. Sedangkan sosial menjadi jawaban atas kalim negatif terhadap para sufi yang jika mereka bertasawuf, membuat mereka tidak peduli sama sekali dengan kehidupan dunia. Sampai di sini, penulis kira cukup jelas tentang hakikat tasawuf sosial.

Untuk itu, seorang sufi sosialis, dituntut memiliki kepekaan sosial yang tinggi di samping kematangan dalam beragama. Ia harus peka terhadap permasalahan sosial umat yang tengah terjadi, selain kematangan dalam mencintai Tuhan.

Seorang sufi sosialis yang matang, dapat dilihat dari kearifan dan kebijaksanaannya dalam menyikapi masalah-masalah yang terjadi. Misalnya, seorang sufi sosialis di samping harus konsisten dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan, dan juga harus peka terhadap krisis-krisis kemanusiaan yang melanda dunia seperti yang telah dijelaskan di atas.

Sufi sosialis harus memiliki kelembutan, kematangan, juga kecerdasan hati sekaligus otak. Ulama-ulama seperti itu lah yang akan menjadi pioner perbaikan umat.

Oleh karenanya, seorang sufi juga harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Seorang sufi wajib memiliki pengetahuan kesosialan yang luas, seperti masalah-masalah sosial, kehidupan sosial masyarakat sosial di sekitarnya, juga rekayasa sosial. Dengan begitu, permasalahan umat tidak sekadar disikapi dengan ilmu sosial tanpa menanamkan nilai-nilai agama yang membuatnya kering. Juga tidak mungkin terselesaikan dengan bersikap konservatif melalui jalan tasawuf yang tidak memperdulikan masalah-masalah tersebut. Untuk itu, agenda untuk membumikan tasawuf sosial penting kiranya untuk digalakkan.

Unsilatur Rahmah,
Pengurus Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Activita Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Pamekasan, Madura

0 Response to "Membumikan Tasawuf Sosial"

Post a Comment