Arti dan Makna Lagu Lir-Ilir bagi Islam

Sangat keliru apabila lagu-lagu dan tembang-tembang Jawa seperti Lir-Ilir bukan menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Meski berbahasa Jawa, tetapi Lagu Lir-Ilir menyimpan arti dan makna yang mendalam bagi Islam.

Oleh karena itu, mari kita coba untuk membedah arti dan makna lagu Lir-Ilir bagi Islam. Sebelumnya, berikut ini adalah lirik lagu Lir-Ilir.

Arti dan Makna Lagu Lir-Ilir

"Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis sumilir. Tak ijo, royo-royo, tak sengguh temanten anyar. Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi. Lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodot iro. Dodot iro, dodot iro, kumitir bedah ing pinggir. Dondomono, jrumatono, kanggo sebo mengko sore. Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane. Yo, surako surak iro."

Lirik lagu Lir-Ilir popuper dinyanyikan dalam berbagai acara Islam, terutama bagi umat Muslim yang sangat akomodatif terhadap tradisi lokal Jawa. Lirik lagu Lir-Ilir juga biasanya didampingi dan dibarengi dengan lantunan sholawat yang berisi puji-pujian terhadap kebesaran Nabi Muhammad Saw. 

Arti lagu lir-ilir
Terkait dengan arti lagu Lir-Ilir, berikut ini adalah arti lagu lir-ilir yang diubah dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia agar mudah diartikan dan dipahami.

"Sayup-sayup (baca: sayup-sayup bangun dari tidur). Tanamannya sudah pada bersemi. Demikian hijaunya (tanaman tersebut) hingga seperti pengantin baru. Penggembala, tolong panjatkan buah blimbing itu (dari pohonnya). Meskipun licin dan susah (dipanjat), tetapi tolong panjatlah untuk mencuci dodot (sejenis pakaian yang digunakan untuk menghadiri acara adat di Jawa). Kalau ada pakaian yang rusak (sobek), maka jahitlah, benahilah untuk menghadap (sebo) nanti sore. Selagi rembulan masih terang dan masih banyak waktu luang. Mari bersorak dan bergembira." Arti lagu lir-ilir ini diartikan dan diterjemahkan oleh Lismanto. 

Makna lagu Lir-Ilir
Makna lagu Lir-Ilir dalam tradisi Islam Jawa menyinggung persoalan keimanan dan ketakwaan bagi umat Muslim. Ada banyak versi dari makna lagu Lir-Ilir ini.

Namun, redaksi Islam Cendekia mencoba untuk menyajikan dua versi makna lagu lir-ilir. Pertama, makna lagu lir-ilir versi sumber referensi Wikipedia. Kedua, makna lagu lir-ilir versi Muhammad Ainun Najib atau Cak Nun.

Menurut versi Wikipedia, makna lagu lir-ilir adalah umat Muslim diminta untuk bangun dan bangkit dari keterpurukan. Bangun dari sifat malas dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Semua tergantung pada individu masing-masing apakah masih tetap tidur dan tidak mau bangkit dan membiarkan tanaman mati atau kita bangkit dan terus berjuang menumbuhkan tanaman hingga besar dan akhirnya bisa kita petik buahnya. Kebahagiaan memetik buah ini diibaratkan seperti kebahagiaan seorang pengantin baru.

Sementara itu, bocah angon berarti anak gembala di mana kita sebagai penggembala harus bisa menggembala hati dengan baik. Menggembala hati dari nafsu angkara murka dan perilaku yang dilarang oleh Allah Awt. Kita sebagai penggembala juga diperintahkan untuk menunaikan sholat lima waktu yang diibaratkan belimbing dengan gerigi lima.

Meskipun dalam pelaksanaannya sangat susah yang diibaratkan dengan licin, tetapi kita harus bisa menukaikan sholat lima waktu tersebut. Belimbing juga bisa diartikan lima rukun Islam, yaitu Syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji.

Dengan menunaikan lima rukun Islam dan sholat lima waktu, hal itu bisa digunakan untuk mencuci baju iman dan takwa kita yang diibaratkan dengan dodot. Apabila baju iman dan takwa kita mulai lusuh dan robek, maka benahi dan rawatlah untuk sebagai bekal menghadap kepada Allah Swt.

Mumpung pintu taubat dan hidayah masih terbuka lebar-lebar, maka segeralah menunaikan sholat lima waktu dan rukun Islam. Maka, bersorak dan bergembiralah untuk menerima seruan dan ajakan ini. Kalau ada yang mengingatkan, maka jawablah dengan lantang: Iya! atau bahasa gaulnya: Oke!

Demikian makna lagu lir-ilir yang disatir dari berbagai sumber media online kemudian dikumpulkan oleh Wikipedia. Selanjutnya, coba kita bahas makna lagu lir-ilir menurut Cak Nun.

Cak Nun sendiri memaknai lagu lir-ilir berdasarkan semangat kesejarahan di mana lagu lir-ilir dibawakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga dan menjadi penanda awal masuknya pemerintahan Islam di tanah Jawa yang menggantikan Mahapahit di bawah Brawijaya 5. Berikut ini makna lagu lir-ilir menurut Cak Nun:

Sayup-sayup bangun dari tidur di mana tumbuhan sudah mulai bersemi. Kanjeng Sunan Kalijaga mengingatkan agar umat Muslim segera bangun dan bergerak karena sudah tiba saatnya. Seperti tumbuhan yang siap dipanen, rakyat Jawa saat itu setelah kejatuhan majapahit harus siap menerima ajaran-ajaran Islam dari para wali Allah.

Begitu hijaunya tumbuhan diibaratkan seperti gairah pengantin baru. Warna hijau menjadi simbo kejayaan Islam di mana Islam dideskripsikan seperti pengantin baru yang memikat hati. Ada juga yang mengartikan pengantin baru adalah raja-raja Islam yang baru masuk Islam.

Anak penggembala juga diminta untuk memanjat pohon blimbing di mana artinya anak penggembala adalah pemimpin. Setiap pemimpin berkewajiban untuk memberikan teladan kepada rakyatnya untuk menjalankan ajaran Islam secara benar, yakni sholat lima waktu dan lima rukun Islam.

Meskipun licin, tetap panjatlah karena belimbing itu digunakan untuk mencuci dodot. Dodot sendiri merupakan sejenis pakaian kebesaran orang Jawa yang biasa digunakan untuk acara-acara adat penting. Pada zaman dulu, buah belimbing digunakan untuk mencuci dan merawat batik agar awet dan bagus.

Dalam hal ini, Kanjeng Sunan Kalijaga meminta umat Muslim untuk berusaha menjalankan sholat lima waktu dan rukun Islam meskipun banyak halangan dan rintangan yang digambarkan dengan kata "licin".

Kalau dodot tersebut rusak, maka sisihkanlah, jahitlah dan benahilah. Merosotnya moralitas seseorang menyebabkan seseorang semakin meninggalkan ajaran Islam. Kehidupan beragama digambarkan dengan pakaian yang sobek atau rusak.

Untuk itu, kita diwajibkan untuk membenahi sebagai bekal untuk menghadap kepada Sang Raja Semesta yang tak lain adalah Allah Swt. Selama masih pintu taubat dan hidayah masih terbuka lebar, maka benahilah hidup kita dengan ajaran-ajaran Islam. Karenanya, besorak dan bergembiralah, semoga kalian memperoleh anugerah dari Allah Swt.

Demikian makna lagu lir-ilir. Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa arti dan makna lagu lir-ilir sangat penting bagi Islam. Namun, saat ini lagu lir-ilir seolah dianggap sebagai lagu Jawa yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengna religiusitas Islam.

Anak muda Islam sendiri lebih mengerti dan menganggap lebih religius jika menggunakan lagu-lagu berbau bahasa Arab. Padahal, arti dan makna lagu lir-ilir bagi Islam menjadi satu pertanda lagu kemenangan akan hadirnya pemerintahan Islam pertama di tanah Nusantara. Demikian arti dan makna lagu lir-ilir, semoga artikel arti dan makna lagu lir-ilir bermanfaat bagi kita semua.

0 Response to "Arti dan Makna Lagu Lir-Ilir bagi Islam"

Post a Comment