Lir-Ilir, Lagu Kemenangan Islam di Nusantara

Sejak kejatuhan kerajaan terkuat dan terbesar Majapahit, Islam muncul sebagai kerajaan pertama di tanah Jawa dalam format kesultanan yang juga menjadi pertanda kemenangan Islam di bumi Nusantara. Dibangun dan dirikan oleh Raden Patah dengan didukung oleh para Walisongo di tanah Glagahwangi (sekarang Demak), Kerajaan Islam tumbuh pesat menggantikan kedigdayaan kejayaan Majapahit.

Meskipun kerajaan Islam di Nusantara tidak bertahan lama sebagaimana kejayaan Majapahit, tetapi paling tidak munculnya kesultanan Islam membawa angin segar bagi lahirnya agama Islam yang pada akhirnya menjadi agama terbesar di Nusantara, bahkan menjadikan Nusantara sebagai penduduk Islam terbesar di dunia.

Lir-Ilir, Lagu Kemenangan Islam di Nusantara

Munculnya agama Islam sebagai agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta) dirayakan oleh berbagai umat Nusantara yang menyambutnya, salah satunya Raden Mas Said atau yang dikenal dengan Kanjeng Sunan Kalijaga. Bukan sekadar merayakan, Kanjeng Sunan Kalijaga juga menjadi salah satu founding fathers munculnya pemerintahan berlatar politik Islam di tanah Jawa yang pada akhirnya menyebar ke Nusantara.

Kegembiraan munculnya pemerintahan Islam di tanah Jawa menggantikan pemerintahan yang berlatar sosial-politik Hindu-Budha membuat Kanjeng Sunan Kalijaga menciptakan sebuah lagu yang sampai sekarang masih sangat populer, yaitu lir-ilir, lagu kemenangan Islam di Nusantara.

Secara garis besar, lagu lir-ilir diambil dari kosakata bahasa Jawa yang mengajak umat manusia di tanah Jawa untuk bergegas menyambut datangnya Islam di Jawa dengan suasana yang riang gembira. Islam diibaratkan dengan tanaman yang hijau segar bak seorang pengantin yang tengah berbahagia.

Lagu Lir-Ilir juga mengajak pemimpin bangsa untuk mengajarkan Islam kepada rakyatnya dengan rukun Islam dan sholat lima waktu. Ajakan ini disindir dalam kalimat: "Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi" yang dalam bahasa Indonesia berarti penggembala, penggembala panjatkan buah belimbing itu.

Meski licin dan penuh dengan tantangan, tetapi Islam bisa digunakan untuk membersihkan baju dan pakaian kita yang bernama iman dan takwa kepada Allah Swt. Makna ini disindir dalam lirik lagu lir-ilir yang berbunyi: "Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot ira" yang berarti: "Meskipun licin, tetapi bisa untuk membersihkan dodot kita". Dodot adalah semacam pakaian orang Jawa pada zaman dulu.

Kalau iman dan takwa tersebut luntur, maka jahit dan rawatlah untuk bekal saat menghadap kepada sang Ilahi. Makna ini tercantum dalam lirik lagu lir-ilir yang berbunyi: "Dodot ira, dodot ira, kumitir bedhah ing pinggir, dondomono, jrumatono, kanggo sebo mengko sore" di mana dalam bahasa Indonesia berarti: "Saat pakaian tersebut rusak, maka jahit dan rawatlah untuk menghadap (Allah) saat senjakala tiba."

Pada akhirnya, umat Islam diajak untuk bergembira menyambut kemenangan Islam yang tercantum dalam lirik lagu lir-ilir: "Yo surako, surak iro." Demikian arti dan makna lagu Lir-Ilir yang diciptakan, dibawakan, dan ajarkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, tokoh penyebar Islam di Jawa yang identik dengan metode akulturasi dan akomodasi antara Islam dan Jawa. Ya, Lir-Ilir memang diciptakan sebagai lagu Kemenangan Islam di Nusantara.

Penulis: Lismanto

0 Response to "Lir-Ilir, Lagu Kemenangan Islam di Nusantara"

Post a Comment