Mafia Beasiswa


Oleh Hamidulloh Ibda
Direktur Utama Formaci Jateng

Beasiswa merupakan suatu “penghargaan” yang diberikan pemerintan/instansi untuk mahasiswa, baik mereka yang berprestasi, aktivis, maupun kurang mampu. Tujuan dari penghargaan ini adalah untuk memperlancar studi mahasiswa serta meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan.

Namun, dewasa ini banyak sekali kejanggalan terjadi dalam pendistribusian beasiswa. Bahkan, banyak mahasiswa yang menjadi “calo” dan “mafia” beasiswa. Apalagi, ada keterlibatan dalam proses penyeleksian beasiswa. Maka, tak ayal jika ada “kecurangan” dalam proses seleksi.

Diakui atau tidak, hampir seluruh mahasiswa “bernafsu besar” untuk mendapatkan beasiswa. Dengan pola pikir pragmatis itu, menjadikan mereka menghalalkan segala cara untuk lolos mendapat beasiswa. Apalagi, bagi mereka yang terlibat dalam proses seleksi, tentu ada peluang besar untuk melakukan kecurangan.

Kejahatan Intelektual
Barang kali saat ini kejujuran menjadi barang langka. Tak hanya anggota DPR yang melakukan kejahatan, tapi kaum akademisi ternyata juga demikian. Bayangkan, hanya untuk mendapatkan uang sekitar 1-2 jutaan mereka menghalalkan segala cara. Seperti pemalsuan surat tanda tidak mampu dari kelurahan, karena tak mungkin mereka pulang kampung bagi yang rumahnya relatif jauh dari kampus. Selain pemalsuan surat-surat sebagai syarat administrasi beasiswa, banyak sekali kejadian “nepotisme”.

Tidak hanya mahasiswa yang melakukan nepotisme, bahkan di beberapa kampus di Semarang melakukan sistem “giro” (bagi separo). Artinya, ada beberapa pihak kampus yang menawarkan kepada mahasiswa agar bagi hasil, dan pihak kampus itu memperlancar proses seleksi kepada mahasiswa bersangkutan.

Selain itu, keterlibatan mahasiswa yang terhimpun dalam BEM, Sema,  juga menjadi masalah. Betapa tidak, mahasiswa yang seharusnya menjadi objek beasiswa, justru menjadi panitia seleksi. Hal ini 90% diindikasikan mereka melakukan kecurangan. Apalagi, sistem “giro” saat ini berlaku di kalangan mahasiswa.

Format Baru
Sungguh ironis fenomena ini. Sebelum kejahatan ini semakin merajalela, maka perlu adanya format baru sistem seleksi. Mahasiswa terlibat atau tidak? Penulis lebih cenderung tidak sepakat jika mahasiswa terlibat. Kenapa demikian? karena keterlibatan itu mendukung mahasiswa untuk melakukan kecurangan. Apalagi, kalau urusan duit, pasti apa saja dilakukan.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata; ”kejahatan yang terorganisasi akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir”. Nah, sudah jelas bahwa mahasiswa tak boleh terlibat dalam proses seleksi, karena jika terlibat, mereka tidak objektif dalam menyeleksi. Sebuah tindak kejahatan yang sudah tertata rapi, terkontrol dan tersembunyi sehingga tidak tercium bau busuknya. 

Maka dari itu, format baru menjadi jawaban atas problem di atas. Jika masih berstatus mahasiswa sudah melakukan kejahatan, lalu bagaimana nanti jika menjadi pejabat? tentu semakin korup. Barangkali dengan format baru, proses seleksi akan berjalan baik. Pertama, panitia seleksi murni dari pihak kampus, dan tak perlu melibatkan mahasiswa, baik dari pengurus BEM atau Sema.

Kedua, perjelas syarat dan klarifikasi atas syarat yang sudah ditentukan, karena tak jarang penerima beasiswa termasuk orang mampu. Ketiga, pertegas kriteria syarat, dari mahasiswa aktivis, tidak mampu, dan berprestasi. Pasalnya, selama syarat tersebut tidak tepat sasaran. Keempat, membentuk tim khusus yang bertugas menyeleksi secara objektif, serta meneliti calon penerima, apakah layak mendapatkan atau tidak. Kelima, mengalokasikan 50% uang beasiswa untuk melunasi SPP kampus agar uang itu tidak disalahgunakan.

Selain itu, bagi mahasiswa yang menerima juga harus tahu diri. Artinya, uang tersebut harus digunakan sebagaimana mestinya. Pasalnya, selama ini banyak mahasiswa yang menyalahgunakan uang beasiswa. Uang itu justru digunakan untuk membeli HP, laptop, “jeng-jeng”, padahal uang itu seharusnya digunakan untuk kebutuhan akademik. Wallahu a’lam bisshawab.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Tabloid SKM Amanat IAIN Walisongo Semarang edisi 118

0 Response to "Mafia Beasiswa"

Post a Comment