Sudahkah Indonesia Merdeka?


Oleh Hamidulloh Ibda

Direktur Utama Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah, Penulis Buku Demokrasi Setengah Hati

Saya pernah ditanya anak SD, sudahkah Indonesia merdeka? Sejenak Saya diam. Bingung. Jengkel. Juga malu. Kemudian, Saya menjawab, Indonesia itu sudah merdeka, Dek. Tapi secara fakta, saat ini Indonesia dijajah lagi.

Setelah kejadian itu, Saya berpikir ulang dan ingin mendalami makna kemerdekaan lebih dalam dan luas. Jangan terlalu sempit memaknai kemerdekaan.  Jika ada pertanyaan, sudahkah Indonesia merdeka? Secara tegas kita harus menjawab “sudah”. Mengapa demikian? jika menjawab belum, berarti secara tak langsung kita “mengamini” ketidakmerdekaan bangsa ini. Sebagai wujud nasionalisme, kita harus optimis dan melakukan perubahan, serta meyakini Indonesia “sudah merdeka”.

M Yudhie Haryono (2014) menyatakan tegas bahwa kemerdekaan harus dibuktikan dengan kemandirian bangsa. Tidak ada kemerdekaan tanpa kemandirian. Substansi kemerdekaan adalah kemerdekaan, dan inti kemandirian adalah kemerdekaan. Keduanya bagaikan dua mata keping uang yang tak bisa dipisahkah.

Sudahkah Indonesia merdeka?
Munculnya berita “Indonesia gagal (failed states)” hanyalah sebatas wacana kosong. Bahkan, hal itu merupakan konsep Negara-negara asing “menggembosi” Indonesia. Dengan mewacanakan Indonesia sebagai Negara gagal, maka “mental” bangsa ini menjadi mental “dijajah”. Itulah seharusnya perlu dipahami mendalam, bukan sekadar takut dan galau atas prestasi Indonesia yang mengisi daftar failed state di Washington DC, Amerika Sertikat.

Tak bisa dipungkiri, Indonesia sudah menjauh dari cita-cita mulia Undang-Undang Dasar 1945. Negara ini semakin lemah dan mengkhawatirkan. Setiap hari kita disuguhi berita menurunnya kualitas moral para elit penguasa. Dengan bukti banyaknya korupsi, kolusi, nepotisme, dan penggarongan uang Negara. Jika kondisi bangsa seperti ini, apa pantas dikatakan merdeka? Tentu menjadi polemik. Secara de jure (hukum), Indonesia sudah merdeka, namun secara de facto (fakta) bangsa ini belum sepenuhnya merdeka, karena belum bebas dari kemiskinan.

Yudi Latif (2010) menjelaskan Negara ini sejatinya sudah merdeka, namun perilaku masyarakatnya menunjukkan bahwa bangsa ini belum siap mendapat predikat “merdeka.” Kenapa demikian? jika moralitas para elit penguasa, politisi, masih memalukan, sama saja Indonesia belum merdeka meskipun secara hukum sudah merdeka.

Pendapat ini hanya sebatas teori saja, maka kita perlu merumuskan apa saja yang harus dilakukan bangsa ini untuk menjadi merdeka yang hakiki. Sebenarnya, untuk mejaga kemerdekaan bangsa sangat gampang, yang terpenting masyarakat bisa mengisi, melanjutkan perjuangan foundhing fathers. Tak kalah penting, Negara ini harus bebas dari penyakit korupsi. Justru penyakit inilah yang menjadikan bangsa ini tak merdeka. Banyak rakyat miskin, pengangguran, kemiskinan, anggaran Negara habis, dan sebagainya. Itulah efek dari korupsi.

Maka, sudah saatnya kita meluruskan paradigma “Indonesia (belum) merdeka.” Itu adalah paradigma ngawur. Pada intinya, bangsa ini belum dikatakan merdeka jika masyarakatnya masih bermental budak, pengemis, dan pemalas. Bangsa ini tak akan merdeka jika korupsi, kemiskinan, pengangguran masih terjadi.

Apa yang Harus Dilakukan?
Lalu, apa yang harus dilakukan? Itu salah satu pertanyaan penting. Prof. Mukti Ali (1998) menyatakan, jika bangsa ini ingin merdeka yang hakiki, masyarakat harus melakukan revolusi di berbagai bidang. Karena itu, sebagai anak bangsa, tak cukup jika kita hanya mengisi kemerdekaan. Bangsa ini harus optimis memerdekakan Indonesia dari segala hal yang membuat negara menjadi terpuruk, seperti korupsi, kemiskinan, keterbelakangan, dan sebagainya.

Bangsa ini juga perlu melepaskan dirinya dari penjajahan di bidang pendidikan, hukum, ekonomi, politik dari campur tangan Negara asing. Bangsa ini juga harus bisa merdeka dari kemiskinan, korupsi, westernisasi, ketidakadilan, merdeka dari ketergantungan terhadap bangsa asing dan merdeka dari kebrutalan koruptor. Selain itu, Indonesia harus merdeka dari penyakit “egoisme”.

Selama ini, banyak praktik politik mengutamakan egoisme daripada kearifan untuk berbagi. Bangsa ini lupa tentang pesan Soekarno, sebagaimana termaktub dalam masterpiecenya. “Kemerdekaan memerlukan beberapa syarat dan salah satu syarat terpenting adalah persatuan.” Itulah esensi dari Bhinneka Tunggal Ika. Itu bukan sekadar slogan, melainkan intisari Pancasila yang harus diamalkan, dirawat, dan dijaga.

Ironis jika melihat realitas di negeri yang telah lama merdeka, namun masih “terbelenggu” oleh kemerdekaan itu sendiri. Kata “merdeka” pun perlu dikritisi dan dipertanyakan. Ternyata merdeka bukan sekadar merdeka dari penjajah, melainkan merdeka dari penyakit bangsa, seperti kemiskinan dan korupsi.

Kata “merdeka” harus diaplikasikan, bukan diperdebatkan. Ini menjadi tugas seluruh warga negara Indonesia, bukan hanya pemerintah saja. Mengisi kemerdekaan dengan menjadikan sejajar bersama negara-negara maju tak semudah membalik telapak tangan. Masyarakat hanya menaruh harapan kepada pemerintah. Maka, masyarakat dan pemerintah perlu bersinergi dalam rangka mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.

Dengan demikian, saat ada pertanyaan: Sudahkah Indonesia merdeka? Kita bisa membusungkan dada dan siap menjawab: Ya, Indonesia sudah merdeka!

0 Response to "Sudahkah Indonesia Merdeka?"

Post a Comment