Wajah Pilpres Indonesia Menurut Islam

Wajah Pilpres Indonesia Menurut Islam
Oleh Nur Mawadah

Wajah Pemilihan Presiden (Pilpres) Indonesia menurut Islam saat ini masih sangat jauh dari nilai-nilai demokratis yang diajarkan oleh agama Islam. Pesta demokrasi yang masih berlangsung di Indonesia sekarang ini sedikit banyak telah memberikan gambaran kondisi sosial masyarakat kita. Catatan-catatan hitam yang terjadi selama musim kampanye lalu, seperti aksi anarkis hingga fitnah "para pasukan nasi bungkus" telah menunjukkan pemandangan pemilu kita yang semakin tahun semakin kelam saja.

Pemilu sejatinya adalah langkah konkrit demokrasi yang kita lakukan dengan cara jujur, terbuka dan berkemanusiawian. Manusiawi di sini tentu dimaksudkan bahwa manusia harus memberdayakan akalnya dengan baik, sehingga apa yang dia katakan atau lakukan tidak berpotensi menimbulkan kerusakan bagi lingkungan dan masyarakat. Namun apa yang kita lihat beberapa hari ini begitu jauh dari pembentukan masyarakat Pancasila yang selama ini menjadi cita-cita bangsa.

Kita melihat persatuan retak karena debar kusir para pendukung masing-masing pasangan yang tidak bisa saling memberikan toleransi. Memang, membicarakan latar belakang Capres-Cawapres merupakan hal yang sangat wajar untuk mempelajari seperti apa kualitas pemimpin yang akan mengubah bangsa ini menjadi lebih baik. Namun, pembicaraan yang biasa kita temui di masyarakat baik di kehidupan nyata maupun dunia maya hanyalah omongan yang menjelek-jelekkan. Tidak sedikit gambar-gambar para kandidat diedit sedemikian rupa lantas menjadi bahan lelucon di media sosial.

Padahal hal seperti ini tidak diperbolehkan dalam agama Islam, seperti dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dari nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: "Barang siapa yang menaatiku berarti di telah mentaati Allah, dan barang siapa yang mendurhakai perintahku maka dia mendurhakai Allah, dan barang siapa yang mematuhi pemimpin berarti dia telah mematuhiku dan barangsiapa yang mendurhakai pemimpin berati dia telah mendurhakaiku (Shahih Muslim no.3417).

Ini sangat cocok jika dihubungkan dengan pernyataan First Lady of the World Eleanor Roosevelt bahwa mereka yang berpikiran hebat membicarakan ide-ide, mereka yang berpikiran sedang membicarakan peristiwa-peristiwa dan mereka yang berpikiran sempit membicarakan orang lain. Fokus pembicaraan Pilpres yang seharusnya mengkualifikasi keunggulan masing-masing pasangan lewat diskusi yang terarah justru dinodai dengan kata-kata kotor, saling menjatuhkan hingga memberikan label bodoh, munafik atau buta seseorang yang tidak berada sekubu dengannya.

Orang-orang yang berada di panggung politik juga malah menempatkan diri sebagai kompor, dimana perkataan mereka tidak ditujukan untuk membangun opini masyarakat yang cerdas dan toleran namun justru kicauan yang berpotensi melegalkan perilaku masyarakat untuk mencurigai pemimpin mereka sendiri.

Sikap pemimpin yang seperti itulah sebenarnya telah menjadikan bumerang bagi kehidupan politik itu sendiri. Masyarakat yang tidak mau belajar secara langsung diarahkan untuk membenci beberapa pemimpin mereka lewat komentar pedas lawan politiknya. Padahal tidak jarang komentar-komentar itu bersifat subjektif sehingga lebih condong pada prasangka tanpa bukti konkrit.

Tingkat kesadaran politik menjadi rendah karena masyarakat kebingungan mana pemimpin mereka yang harus dipercaya mengingat semuanya saling menjatuhkan dan saling membabi buta dalam memberikan komentar pada tokoh pemerintahan lain yang sejatinya adalah kawannya dalam upaya menbangun pemerintahan yang apik.

Kita sejatinya tidak sadar telah menjadi masyarakat yang tidak belajar. Bila sebelum Pemilu kehidupan kita disibukkan dengan obrolan menjelek-jelekan kinerja pemerintah sedangkan selama musim pemilu kita disibukkan dengan obrolan menjelekkan sesama hanya karena satu alasan, beda capres. Persatuan yang kita ikrarkan pada sesama rekan kerja, komunitas, murid, suku dan masyarakat lain runtuh begitu saja justru ketika rakyat Indonesia akan mengusung pemimpin untuk bangsa yang beraneka ragam ini. Rakyat  tidak sadar telah menjadi korban salah satu sifat politik yang sebelumnya telah banyak mereka ketahui, yaitu kotor.

Kenyataannya memang cara-cara politik telah berhasil mempengaruhi otak kita hingga lebih sekadar menjadi pemilih namun mengagungkan salah satu calon pemimpin secara bringas. Tokoh Islam Imam Ali as pernah berkata: "Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja, barangkali kelak ia akan menjadi musuhmu, musuhilah orang yang kau musuhi sekedarnya saja, mungkin saja ia akan menjadi kekasihmu nanti."

Bahkan tidak jarang fanatisme yang terjadi tanpa didasari alasan yang cerdas. Banyak di antara masyarakat hanya terpengaruh media yang sejatinya telah dikuasai penguasa menjadi alat politik. Masyarakat seharusnya melakukan renungan kembali apakah mereka telah menjadi pembelajar sepanjang hayat dalam arti kesadaran mereka untuk belajar mencermati setiap kegiatan pemerintahan dilakukan setiap saat atau hanya menjelang Pilpres di mana opini-opini yang tersebar kebanyakan diarahkan untuk tujuan pencitraan dan sering tidak terjamin kekonkritannya.

Kita tahu bahwa demokrasi adalah sistem dimana rakyat menempatkan diri sebagai raja sedangkan pemerintah adalah pelayan rakyat. Raja atau pemimpin selalu identik dengan karakter yang cerdas, kritis dan tanggap. Namun apa jadinya jika rakyat selaku raja dalam sistem ini justru malah terasing dari hak-haknya. Kegiatan pemerintahan yang tidak memihak rakyat banyak adalah bukti nyata bahwa kita sebagai raja dalam demokrasi telah menjadi raja yang bodoh dan mudah terpengaruh dalam memilih pemimpin untuk melayani kita.

Pemimpin adalah cermin rakyatnya. Kesadaran yang selama ini menjauhi masyarakat adalah ketika pemerintah mudah dipengaruhi pihak asing dan “doyan duit”, pola hubungan yang terjadi tidak jauh dengan rakyatnya yang mudah disogok dengan uang dan tidak pernah belajar agar tidak mudah dipengaruhi oleh iming-iming penguasa. Pemerintahan yang maju dibentuk oleh masyarakat yang maju. Pola pikir masyarakat yang terkungkung dalam ketakutan akan ketidakberdayaanya tanpa campur tangan pemerintah secara total akan membentuk masyarakat yang bodoh, lamban dan tidak mandiri, dimana disini justru akan  menjadi incaran para penguasa dengan uang haramnya.

Dengan rentetan masalah tersebut, wajah Pilpres Indonesia menurut Islam masih sangat jauh dari nilai dan ajaran substantif Islam untuk menyelenggarakan demokrasi yang betul-betul demokratis, bukan sekadar seremonial demokrasi yang justru mencederai nilai-nilai substansial demokrasi itu sendiri. Demokrasi sendiri menjadi satu nilai yang diajarkan Islam pada masa Rasulullah Saw jauh sebelum negara-negara maju mendeklarasikan format demokrasi.

Detik-detik menjelang pengumuman pemenang pemilu belum terlambat untuk kita sekarang menjunjung tinggi toleransi di negeri bhinneka tunggal ika ini. Kita hentikan saling menghujat dimana akan merongrong kesatuan negara. Kita tidak mungkin mengharap penghargaan dari negara lain jika hanya karena berbeda Capres dalam pemilu sudah menjadikan kita tercerai berai. Semoga siapapun pemimpin yang terpilih nanti adalah hadiah dari kebaikan Allah untuk bangsa ini. Salam Bhineka Tunggal Ika.

Nur Mawadah,
Mahasiswi STKIP PGRI Tulungagung, Jawa Timur

0 Response to "Wajah Pilpres Indonesia Menurut Islam"

Post a Comment