Formaci Jateng Gugat Kemdikbud Hapus Materi “Gaya Pacaran Sehat” di Buku Penjaskes


SEMARANG, Islamcendekia.com – Dewasa ini, ramai polemik materi “gaya pacaran sehat” di buku mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes). Dianggap tak cocok diterapkan di sekolah, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun berharap buku tersebut dihapus.

Alasannya, materi gaya pacaran sehat yang ada di buku Pendidikan Jasmani dan Kesehatan SMA/MA/SMK kelas XI semester 1 terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut dinilai berbahaya jika diajarkan kepada siswa.

Asrorun Niam Sholeh Ketua KPAI berpendapat buku dengan muatan “gaya pacaran sehat” tidak memiliki unsur pendidikan dan tidak ada hubungannya dengan pendidikan.  Ketua KPAI juga menjelaskan bahwa buku materi Penjaskes itu seharusnya fokus ke dalam topik ajar yang sesuai. "Buku itu hadir untuk memenuhi kepentingan bahan ajar dalam pendidikan. Secara sosiologis, topik tentang pacaran tidak berkesuaian dengan hal jasmani dan kesehatan," ujarnya tak lama ini.

Menanggapi hal itu, Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah berharap Kemdikbud segera menghapus materi tersebut. “Jika untuk mahasiswa sih bisa dimaklumi, tapi untuk anak SMA sangat berbahaya,” tutur Hamidulloh Ibda Direktur Utama Formaci Jateng.

Atas fenomena tersebut, Formaci Jateng gugat Kemdikbud hapus materi “Gaya Pacaran Sehat” di buku Penjaskes yang bisa membahayakan siswa. “Kami menggugat Kemdikbud agar tidak meracuni pelajar Indonesia. Pendidikan itu bisa menjadi alat menuju surga, namun jika salah, bisa jadi malah menuju neraka pertama kali karena salah menanam konsep pada anak,” ujar Ibda selaku pemerhati pendidikan Pascasarjana Unnes itu.

Hamidulloh Ibda yang juga penulis buku Stop Pacaran Ayo Nikah menilai tidak ada pertimbangan dan landasan yuridis, epistemologis dan edukatif yang dilakukan Kemdikbud. “Materi pengertian pacaran sehat sangat belum cocok diterapkan di SMA. Saya sepakat kalau nilai-nilai itu diterapkan di kurikulum mahasiswa. Tapi, hal itu pun tidak dalam suatu mata kuliah, melainkan hanya sisipan dalam suatu pembelajaran,” katanya.

Ini adalah tanggung jawab Kemdikbud, lanjut Ibda, kami dari Formaci Jateng menggugatnya agar ada perbaikan ke arah yang lebih baik. Pasalnya, Ibda menilai bahwa saat ini pelajar kita miskin moral. “Sudah pelajarnya miskin moral, malah digembosi dan diracuni Kemdikbud lewat materi ngawur di buku tersebut,” ujar Dia. KPAI sudah mengritik dan meminta Kemdikbud untuk merevisi buku itu, lanjut Ibda, maka Formaci Jateng gugat Kemdikbud hapus materi “Gaya Pacaran Sehat” di buku Penjaskes tersebut.

Menyelipkan materi gaya pacaran sehat, menurut Ibda sama saja memotivasi dan memerintah siswa untuk pacaran. “Yang namanya pacaran itu sudah tidak sehat, apalagi dilakukan pelajar yang tugasnya belajar. Kalau untuk suami istri ya sehat, tapi kalau diselipkan di buku ajar, itu namanya meracuni,” jelasnya.

Senada dengan itu, Nailul Mukorobin, staf pengajar Psikologi Agama Universitas Negeri Semarang mengatakan bahwa logika Kemdikbud menyelipkan materi gaya pacaran sehat sangat ngawur. “Seharusnya Kemdikbud memberi materi yang cerdas dan edukatif, seperti cara shalat sehat, cara berzikir sehat, cara berpuasa sehat, bukan malah memerintah siswa untuk pacaran,” ujarnya pada Islamcendekia.com, Selasa (14/10/2014).

Intinya, Nailul berharap agar Kemdikbud segara menghapus materi ngawur tersebut. Materi seperti itu sangat sesat dan menyesatkan, tidak substansial, fundamental dan sangat tidak perlu bagi siswa usia SMA. “Dalam dunia psikologi sebenarnya sangat penting materi seperti ini, namun tidak untuk anak usia SMA, karena cocoknya di jenjang perguruan tinggi,” pungkasnya.
Reporter dan Editor: Solihun. Foto:IC

0 Response to "Formaci Jateng Gugat Kemdikbud Hapus Materi “Gaya Pacaran Sehat” di Buku Penjaskes"

Post a Comment