Guru Dilarang Mengajar


SEMARANG, Islamcendekia.com – Pada Selasa (28/10/2014), Prof Dr H Dandan Supratman, MPd menjelaskan bahwa guru dilarang mengajar. Menurutnya, guru tidak boleh mengajar, karena kalau mengajar itu yang aktif hanya guru.  Padahal, dalam pendidikan khususnya proses pembelajaran harus dua arah, guru siswa, siswa guru, dan sebagainya.

“Pembelajaran itu lebih tepat daripada mengajar. Pembelajaran itu artinya guru membuat siswa belajar, membuat siswa aktif belajar,” ujar Prof Dandan.

Guru-guru sekarang, menurut Prof Dandan sangat jadul dan tidak tahu hakikat pembelajaran. “Saya itu sudah tua, namun kalian yang muda-muda ternyata paradigmanya jadul dari Saya,” ungkapnya.

Guru, saat ini wajib tahu paradigma didik dan paradigma ajar. “Guru harus tahu perbedaan pendekatan, model, metode, teknik dan kiat,” paparnya.

Perbedaan model, metode dan pendekatan mengajar
Pendekatan itu aksiomatis dan filosofis. “Kalau sudah pokoke, itu sudah aksiomatis,” ujar profesor dari FBS Unnes itu. Hal itu termasuk pendekatan. Lalu bagaimana cara dan langkahnya? Maka perlu langkah atau metode. “Jika pendekatan itu aksiomatis, kalau metode itu prosedurnya, dirancang,” ujarnya.

Dalam pembelajaran di kelas, guru perlu melakukan apersepsi, bukan sekadar salam. “Jika teknik, itu bergantung situasi kondisi, namanya kondisional,” tandasnya. Kiat, menurut Prof Dandan lebih ke personal guru. Guru wajib mengetahui paradigma ajar, katanya, harus tahu juga bentuk ajar dan harus tahu wujudnya.

Para ahli, sejak 1975, di IKIP Internasional yaitu di Siracusa Italia sudah membedakan antara pendekatan, model, metode, strategi dan kiat.

Sementara itu, dalam pendidikan, guru harus menjadi sosok revolusioner. Apa itu guru revolusioner? Jika ingin mengetahui ciri dan karakter guru revolusioner, silakan baca Guru Revolusioner dalam Pendidikan

Reporter/Editor: Hamidulloh Ibda

0 Response to "Guru Dilarang Mengajar"

Post a Comment