Menyelamatkan Seleksi CPNS dari Kecurangan

"Seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Jawa Tengah pada tahun 2014 harus diselamatkan dari kecurangan, nepotisme, korupsi, penyimpangan dan kejahatan. Pasalnya, selama ini masih banyak kecurangan terjadi tiap seleksi CPNS. Hal itu terbukti dengan banyaknya berita di media massa, baik yang diketahui maupun yang disembunyikan."

Oleh Dian Marta Wijayanti
Pemerhati Pendidikan; PNS Kota Semarang

Kita semua harus menyelamatkan Seleksi CPNS dari kecurangan. Seleksi CPNS adalah pintu gerbang melahirkan aparatur negara yang baik dan berwibawa. Jika pegawai negeri sipil (PNS) lahir dari kecurangan dan nepotisme, ia menjadi “embrio” pelaku kecurangan berikutnya. Jadi, seleksi CPNS di Jawa Tengah pada tahun ini wajib diselamatkan dari kecurangan agar melahirkan abdi negara yang berwibawa, jujur dan bertanggung jawab.

Cita-cita pemerintah, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) mewujudkan aparatur negara yang jujur harus didukung. Hal itu tak mungkin tercapai jika seleksi CPNS masih mengabadikan kecurangan.

Efektifkah seleksi CPNS online?
Pada tahun ini, sistem seleksi berbasis online dimulai. Kepala Badan Kepegawaian Nasional (BKN) Eko Sutrisno menyatakan sistem computer assisted test (CAT) dalam rekrutmen CPNS sangat efektif mengantisipasi kecurangan (SM, 21/8/2014). Menurut Eko, lewat sistem online, peserta tes CPNS langsung mendapatkan hasilnya, tak perlu menunggu lama seperti tes yang dilakukan secara manual. Pasalnya, setelah selesai tes sudah diketahui lulus atau tidak lulus.

Dari data Badan Kepegawaian Negara (BKN), dibuka 100 ribu formasi pegawai yang terdiri dari 65.000 PNS dan 35.000 PPPK. Total 68 instansi Pusat yang memperoleh formasi dengan perincian 30 Kementrian, 28 Lembaga Pemerintahan Nonkementerian (LPNK), dua Lembaga Negara, dan delapan Sekretariat Negara. Total 418 Instansi Daerah yang memeroleh formasi di provinsi kabupaten atau kota. Dialokasikan 5 persen formasi untuk lintas disiplin ilmu. Pelaksanaan seleksi nasional CPNS 2014 seluruhnya menggunakan sistem CAT. Pendaftran dan registrasi dilakukan secara online dan terintegrasi sengan system single entry. Satu pelamar hanya dapat memilih satu instansi dengan 3 pilihan formasi.

Saat registrasi awal yang diperlukan hanya Nama Lengkap, Nomor Induk Kependudukan dan alamat e-mail. Tes CPNS 2014 terdiri dari Tes Kompetensi Dasar (TKD), dan Tes Kompetensi Bidang (TKB). Materi TKD meliputi Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensi Umum (TIU) dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP).

Efektif atau tidak tidak hanya pada sistem, namun juga kejujuran penyelenggara. Pasalnya, modus kecurangan makin beragam dan ditata rapi. Meskipun berbasis CAT, potensi kecurangan diindikasikan terjadi, karena menjadi PNS sangat didambakan semua orang. Motivasi menjadi PNS tak sekadar mendapat jaminan hidup layak, namun juga orientasi posisi sosial ekonomi, prestise masyarakat, mengejar tunjangan dan jaminan masa tua.

Potensi kecurangan seleksi CPNS online
Potensi kecurangan bisa terjadi di beberapa titik. Modusnya sangat beragam, mulai dari proses seleksi administrasi, pelaksanaan tes hingga pengumuman kelulusan. Menurut data Konsorsium LSM Pemantau Seleksi CPNS (KLPC), per tanggal 6 Januari 2014, terdapat 154 kasus yang dilaporkan ke KLPC. Sebanyak 59 kasus di antaranya terkait denga honorer K2 dan 95 kasus lain terkiat jalur umum K-1 (Kompas, 8/1/2014). Menurut KLPC, kecurangan paling banyak terjadi adalah pada tahap seleksi administrasi karena minimnya transparansi.

Ada beberapa indikasi, modus dan kecurangan yang harus diselamatkan. Pertama; meskipun berbasis CAT, namun pemalsuan dan manipulasi data bisa saja terjadi. Apalagi, ada beberapa formasi CPNS diperuntukkan semua jurusan.

Kedua; merebaknya pungutan liar (pungli) atau calo yang menawarkan jasa untuk diterima CPNS. Hal itu biasanya terjadi di desa-desa, pasalnya rata-rata pelamar dari desa masih percaya dan awam dengan dunia kepegawaian. Menurut catatan ICW, mereka diminta memberikan uang sebesar 80 sampai 150 juta untuk bisa lolos CPNS (Tempo, 18/3/2013). Padahal, pendaftaran CPNS tahun 2014 ini tidak dipungut biaya alias gratis.

Ketiga; potensi kecurangan juga terjadi pada saat seleksi administrasi. Menurut KLPC, biasanya pada saat seleksi administrasi, ada oknum yang memanipulasi data. Mereka mendiskriminasi pelamar formasi tertentu terkait tempat dan nomor ujian tes.

Keempat; indikasi praktik perjokian juga menjadi catatan kecurangan seleksi CPNS. Kelima; bocornya soal tes CPNS. Hal itu bisa terjadi dari oknum panitia seleksi yang membocorkan soal dan menjual kunci jawaban. Meskipun soal dan tes nanti berbasis CAT, namun bisa saja ada oknum yang menjual kisi-kisi dan kunci jawaban.

Modus lain juga terjadi ketika pengumuman seleksi. Dari pengumuman pusat ketika sampai di daerah, ada beberapa oknum yang mengganti nama peserta yang lolos dengan nama-nama yang tidak jelas. Pengadaan nomor induk pegawai (NIP) juga sering dimanipulasi beberapa oknum. Karena itu, seleksi CPNS tahun ini harus diselamatkan agar melahirkan abdi negara yang jujur dan amanah.

Menyelamatkan seleksi CPNS dari kecurangan
Seleksi yang jujur akan melahirkan aparatur yang jujur, begitu pula sebaliknya. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama; kejujuran, transparansi dan objektivitas penyelanggara adalah kunci menciptakan PNS jujur. Kejujuran menjadi kunci suksesnya seleksi CPNS. Penyelanggara yang terbukti menjadi oknum, calo dan pamalsu data harus “dipecat”.

Kedua; pemerintah harus memperkuat sistem validasi dan verifikasi data, baik di kementerian maupun di daerah. Data formasi dan pelamar harus sesuai kualifikasi akademik. Apalagi banyak formasi CPNS diperuntukkan semua jurusan. Artinya, karena tak spesifiknya bidang pelamar menjadi celah meminimalkan pesaing dan “orang titipan” yang sudah membayar kepada calo.

Ketiga; pelamar di tingkat kota/kabupaten, khususnya di Jawa Tengah harus cerdas dan tegas menolak tawaran calo. Pelamar tak boleh tertipu dengan calo, karena janji mereka bohong dan palsu. Keempat; percaya diri dan rajin belajar adalah syarat utama mengikuti seleksi CPNS. Artinya, pelamar harus rajin belajar, bukan “mencari calo” untuk meloloskan seleksi.

Kelima; pemerintah pusat dan daerah, Kemen PAN-RB, BKN, BKD, penegak hukum, LSM dan masyarakat harus bersinergi menyelamatkan seleksi CPNS. Mulai dari tahap pendaftaran, seleksi administrasi, tes dan pengumuman kelulusan. Tanpa sinergi, maka penyelamatan seleksi CPNS hanya menjadi mimpi.

Mental penyelenggara dan pelamar CPNS harus jujur, bukan mental munafik. Jika mental mereka munafik, lalu bagaimana jadinya negara ini?

0 Response to "Menyelamatkan Seleksi CPNS dari Kecurangan"

Post a Comment