Sastra Harus Menjiwai Sejarah

BLORA, Islamcendekia.com – Ada ungkapan menarik dari Susilo Toer, adik Pramoedya Ananta Toer. Menurutnya, sastra saat ini hanya menjadi alat mendapat uang. “Sastra harus menjiwai sejarah, jika sejarah tidak mampu menyuguhkan kebenaran, maka sastra harus menjadi alat yang meneguhkan kebenaran,” ujar Pak Sus.

Hal itu diungkapkan Susilo Toer saat ditemui di Perpustakaan PATABA, Jalan Sumbara No. 40 Jetis Blora, Minggu (26/10/2014). Pram, menurut Pak Sus, menulis dengan hati dan dari kisah hidup penderitaan.

“Meskipun di Indonesia tidak mendapat penghargaan, namun kehebatan Pram terbukti dengan banyaknya penghargaan dan nobel dari luar negeri,” paparnya.

Karya Pram sangat banyak diminati para sastrawan. “Namun Saya akan membuat dan mengritik pendapat Pram yang tidak sesuai dengan pemikiran Saya. Jika dulu Pram menulis berjilid sampai 4, sebelum mati Saya mau menerbitkan 5 dan selebihnya,” kata Pak Sus.

Saat ini, Pak Sus sudah menulis buku berjudul Pram dari Dalam. Ia mengaku, akan menulisnya sampai berjilid 5 kali dengan versi beda.

Pak Sus, berharap kepada pemuda agar membudayakan menulis. Ia selalu terbuka menerima tamu dari mana saja. "Kalau mau belajar menulis, terutama sastra, silahkan datang ke sini," ujarnya.
Reporter dan Editor: Hamidulloh Ibda. Foto: Islamcendekia.com.

Bagi Anda yang belum tahu seputar sejarah Pramoedya Ananta Toer dan Perpustakaan PATABA, baca juga Profil Perpustaan PATABA

0 Response to "Sastra Harus Menjiwai Sejarah"

Post a Comment