Seni Ketoprak Menurut Islam

Seni Ketoprak Menurut Islam
PATI, Islamcendekia.com - Pati Kota Ketoprak. Begitu slogan yang diusung sejumlah pemuda dan pegiat budaya di Pati. Tak pelak, budaya ketoprak masih eksis dan diusung sebagai seni hiburan yang paling populer di masyarakat Pati. Sampai berita ini diterbitkan, perhelatan akbar seni ketoprak digelar di Dukuh Siman, Desa Tambahsari, Pati, Selasa (7/10).

"Sudah ratusan tahun sejak pemerintahan Adipati Mangun Oneng dan sebelumnya (diperkirakan 500 tahun), Dukuh Siman Pati tidak berani merayakan syukuran dengan seni ketoprak. Alasannya, warga dan penunggu gaib Desa Siman adalah wali yang Islami sehingga tidak boleh membuat perayaan berupa ketoprak, barongan Jawa, wayang, apalagi dangdut. 2014 ini adalah tahun bersejarah di mana ada salah seorang merayakan hajatan dengan seni ketoprak," ujar salah seorang warga Siman.

Untuk menanggapi soal ini, Pusat Penelitian dan Pengembangan Studi Islam (Center for Research and Development of Islamic Studies) Islamcendekia.com menggelar diskusi terbatas dengan kajian Ketoprak menurut Islam. "Ketoprak itu budaya Jawa yang perlu diuri-uri. Selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, saya kira sah-sah saja dan malah perlu dilestarikan sebagai identitas orang Jawa," ujar Hamidulloh Ibda sebagai pemimpin redaksi Islamcendekia.com.

Sementara itu, kajian seni ketoprak menurut pandangan Islam yang berdasarkan dari teks akademis merujuk pada penelitian yang pernah dilakukan Lismanto berjudul "Pembaruan Hukum Islam Berbasis Tradisi: Upaya Meneguhkan Universalitas Islam dalam Bingkai Kearifan Lokal.

Seni ketoprak menurut Islam
"Dalam syariat atau teks otoritatif Islam, ada dua dimensi yang terkandung dalam Al Quran atau syariat, yaitu teks universal dan teks parsial. Teks universal mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan masyarakat di seluruh penjuru dunia. Sedangkan teks parsial lebih mengakomodasi pada kebutuhan masyarakat di mana Al Quran diturunkan, yaitu Mekah dan Madinah," tutur Lismanto mengawali penjelasan Seni Ketoprak menurut hukum Islam.

Dengan basis pengetahuan ini, lanjut Lismanto, kita bisa melakukan sinkretisasi antara teks universal Al Quran dan teks budaya lokal di mana pun berada yang dalam hal ini adalah budaya ketoprak sebagai seni yang diciptakan masyarakat Jawa. "Tentu sebagai umat Muslim, kita tidak buta dengan khasanah pengetahuan dalam ushul fiqh mengenal istilah al urf yang berarti adat atau kebiasaan. Al Urf, menurut saya, juga termasuk kebudayaan yang menjadi tradisi atau kebiasaan masyarakat lokal di seluruh penjuru dunia. Semua ulama sepakat bahwa al urf adalah sah selama tidak bertentangan dengan syariat," kata Lismanto di tengah-tengah forum diskusi terbatas.

"Jadi, kita bisa menyimpulkan bahwa selama ketoprak yang menjadi bagian dari al urf itu tidak bertentangan dengan ajaran dan nilai-nilai yang terkandung secara substantif dalam Islam, maka seni ketoprak itu sah menurut hukum Islam dan justru sangat baik untuk dilestarikan," ujar Lismanto kembali menambahkan.

Dari diskusi terbatas tersebut, Dewan Fatwa Islamcendekia.com yang terwadahi dalam Center for Research and Development of Islamic Studies memberikan fatwa bahwa seni ketoprak menurut Islam adalah sah dan boleh selama tidak ada unsur-unsur yang menyalahi syariat dan nilai substantif Islam. Seperti halnya seni budaya yang lain seperti wayang, tayub, barongan, gamelan dan seni budaya Jawa lainnya adalah sah dan halal menurut hukum Islam selama tidak ada unsur yang bertentangan dengan ajaran dan nilai substantif Islam.

"Selama yang saya tahu, emban (istilah untuk menyebut penyanyi atau biduan untuk ketoprak) justru jauh lebih sopan ketimbang penyanyi dangdut. Jadi, ketoprak malah sama sekali tidak ada unsur erotis seperti hiburan-hiburan yang lain, misalnya dangdut," ujar Khoirul Riski, warga setempat penggemar seni ketoprak.

0 Response to "Seni Ketoprak Menurut Islam"

Post a Comment